(Setelah ini nama Runa akan sepenuhnya disebut sebagai Selxi, sesuai dengan panggilannya di dimensi ini.)
Dengan banyaknya academy yang mengikuti turnamen tahun ini, babak penyisihan di perkirakan memakan waktu sekitar 4 hari lamanya.
Selxi dan teman-temannya sudah menyelesaikan babak penyisihan mereka di hari pertama sehingga selama tiga hari kedepan, mereka tidak ada kegiatan.
Sebenarnya ada banyak pilihan kegiatan yang bisa mereka lakukan, hanya saja seluruh bagian akademi mulai penuh dengan anak-anak dari akademi lain sehingga pergerakan mereka terbatas.
Karena keadaan yang ramai, awalnya mereka berencana untuk tetap tinggal di asrama, melakukan kegiatan di kamar dan hanya keluar ke aula atau ruang makan.
"Sepertinya ada yang menarik di luar." Selxi berusaha melihat keadaan luar melalui jendela kamar. Buku yang ada di tangannya masih di terbuka lebar, tapi matanya lebih tertarik untuk mencari tahu keadaan luar dibandingkan membaca rangkaian kata yang ada di depannya.
Keadaan di luar asrama memang terdengar sangat menarik, ada banyak suara ledakan dan sorakan. Entah apa yang terjadi di luar sana, yang jelas sorakan kebahagiaan mereka menembus masuk sampai ke dalam asrama.
Sebenarnya Anna, Naomi, dan Aida juga penasaran dengan apa yang terjadi di luar. Telinga mereka berusaha mendengarkan dengan baik suara yang masuk sampai ke dalam kamar, berharap mendengar sesuatu.
"Apakah kita harus keluar?" tanya Anna karena suara yang masuk ke kamar mulai mengecil. Mereka hampir tidak mendengar apa yang terjadi di luar, keadaan menjadi sangat hening. Bahkan terasa lebih hening dibandingkan sebelum ada suara ramai tadi.
Naomi dan Aida saling pandang selama beberapa detik lalu tiba-tiba mereka mengangguk sekali dan beranjak dari kasur. Seolah-olah baru saja melakukan telepati melalui tatapan, mereka langsung berjalan mengambil jaket.
Melihat pergerakan Naomi dan Aida, Anna juga beranjak dari kasur dan bersiap ke luar. Sedangkan Selxi masih duduk terdiam sambil melihat ke arah jendela. Bukan karena tidak mau keluar, tapi Selxi tenggelam dalam pikirannya sendiri dan tak menyadari ketiga temannya hendak keluar.
"Ikut nggak?" Anna mendekati Selxi dan mengguncang badannya sedikit.
Selxi mengerjepkan matanya berkali-kali lalu menoleh ke arah Naomi dan Aida yang sibuk memasang sepatu. Lalu menoleh lagi ke arah Anna yang berdiri di sampingnya.
"Ikut," jawab Selxi setelah otaknya selesai memproses. Ia langsung mengangkat badannya dan beranjak dari kasur mengikuti ketiga temannya yang sudah siap keluar kamar.
Cklek!
Berbagai suara memenuhi lorong asrama. Keadaan di dalam kamar dan di luar kamar benar-benar berbeda jauh.
Tidak banyak anak yang ada di lorong asrama, tapi suaranya benar-benar nyaring. Aida segera menutup pintu kamar, lalu mulai berjalan menuju arah suara.
Selxi, Naomi, dan Anna juga berjalan mengikuti Aida hingga ke ujung lorong asrama.
Terlihat keramaian yang menjadi sumber kebisingan beberapa jam terakhir. Seperti dugaan, sumber suaranya berasal dari lapangan Green Academy, bukan dari aula. Bahkan sepertinya aula Green Academy tidak seramai itu sekarang.
"Naik aja yuk," ucap Anna setelah berjinjit beberapa kali. Ia berusaha mencari pusat keramaian dari jarak pandang mereka sekarang, tapi tak ada tanda-tandanya sama sekali. Yang bisa dilihat hanyalah kumpulan manusia yang memenuhi lapangan.
Selxi, Aida, dan Naomi menanggapi ucapan Anna dengan sebuah anggukan, lalu mereka berjalan kembali ke area asrama dan naik ke lantai atas.
Dibandingkan berdesak-desakan di antara kumpulan manusia di lapangan hanya untuk melihat sesuatu yang mereka tidak tahu pasti. Lebih baik bekerja cerdas dengan melihatnya dari ketinggian tanpa perlu menguras energi terlalu banyak.
Semakin naik ke lantai atas, semakin terlihat betapa banyaknya manusia yang ada di lapangan. Mereka semakin bersyukur karena tidak memaksakan untuk berdesak-desakan di sana.
Bagian tengah kerumunan baru benar-benar terlihat saat mereka mencapai rooftop dari gedung asrama.
"Pantas saja ramai," ucap Naomi ketika melihat Dean, Varen, Aeryn, Brenda, Elisya, dan Reita berada di tengah-tengah kerumunan bersama beberapa anak terkenal dari academy lainnya.
Sepertinya mereka sedang melakukan pertunjukkan sederhana sambil ... mungkin bisa dibilang tebar pesona.
Mereka melakukan atraksi secara bergantian, atau lebih tepatnya hanya menggunakan sedikit sihir di tengah-tengah kerumunan, lalu anak-anak yang ada di sekitar mereka akan berteriak dengan sangat nyaring.
Sebenarnya tidak ada sihir hebat yang mereka lakukan, yang membuatnya menjadi ramai dengan suara-suara aneh adalah kerumunan yang merespon secara berlebihan. Hanya bergerak sedikit saja, responnya sangat berlebihan.
Selxi, Naomi, Aida, dan Anna tidak bereaksi banyak ketika melihat atraksi-atraksi kecil yang ada di lapangan. Rasanya sedikit sia-sia mereka menaiki tangga hanya untuk melihat penampilan sederhana seperti itu.
Berhubung mereka sudah bersusah payah menaiki ratusan anak tangga, jadi mereka tetap berada disana cukup lama sambil melihat keadaan sekitar.
Keadaan sekitar yang dimaksud adalah kerumunan yang sebagian besarnya berasal dari academy lain. Mereka memperhatikan gerak-gerik dan kebiasaan mereka. Walaupun terlihat sepele, sebenarnya hal seperti ini cukup membantu di pertandingan, apalagi jika mereka tidak sengaja menghafal gerakan khas mereka.
"Anak yang disana, ia berulang kali menoleh ke arah kiri tanpa henti," tunjuk Anna pada salah satu anak yang terlihat biasa, tapi saat diperhatikan cukup lama, dalam beberapa menit ia akan menoleh ke arah kiri. Entah apa yang menjadi pemicunya, tapi ia selalu melakukan itu. Anehnya ia hampir tidak pernah menoleh ke arah kanan. Seakan hal-hal yang menarik hanya ada di sebelah kiri.
"Sepertinya ia pengguna sihir es," ucap Aida sambil menunjuk seorang anak perempuan yang terlihat selalu berusaha memberi jarak dengan orang lain dan tanpa sadar tanah yang diinjaknya meninggalkan jejak es yang meleleh dalam beberapa detik.
"Sepertinya sangat anti dengan panas dan hal-hal sejenisnya," celetuk Naomi yang memperhatikan arah Aida menunjuk.
Saking banyaknya hal yang bisa diamati dari atas, lama kelamaan mereka berempat malah keasyikan mencari hal-hal unik dari orang-orang yang sedang berkumpul di bawah sana.
Tanpa mereka sadari Aeryn menyadari keberadaan Selxi yang sedang termenung sambil melihat ke sembarang arah. Ia mulai membisikkannya ke teman-teman di sebelahnya, sampai akhirnya Dean juga melihat ke atas dan menyadari keberadaan Selxi.
Orang-orang yang berkumpul di sana juga mengikuti arah pandangan Dean, Varen, Aeryn, Brenda, Elisya, dan Reita yang secara bergantian melihat ke bagian atas asrama.
Sebuah api tiba-tiba menyambar dengan cepat ke arah Selxi. Api hijau yang keluar langsung dari tangan Dean.
Naomi, Anna, dan Aida yang masih fokus melihat ke bawah langsung menyadari keberadaan api yang mengarah ke tempat mereka dan langsung bergerak menjauh.
Sedangkan Selxi dalam keadaan setengah sadar dan tidak waspada terhadap api yang menyambar ke atas. Lebih tepatnya ia melamun karena mulai bosan di atas sana.
Dean sadar bahwa Selxi tidak bergerak dari tempatnya, tapi ia tidak mengurunkan niatnya untuk menyambar Selxi. Walaupun tidak terlihat cuek dan seperti tidak peduli dengan apa yang terjadi, sebenarnya Dean cukup penasaran dengan kekuatan Selxi.
Teman-temannya terus menerus menjelaskan kehebatan kekuatan Selxi saat tes masuk, sampai-sampai ia ingin mencoba menyerang Selxi secara langsung untuk mengetahui kekuatannya dan merasakan apa yang teman-temannya rasakan saat melawan Selxi.