Tentu saja Runa menjadi bahan perbincangan karena poinnya yang sangat tinggi. Sangat jarang ada anak baru yang bisa mendapatkan poin setinggi itu.
Sebenarnya karena Runa tidak melakukan tes pada alat pengukur sihir, angka yang ditampilkan harusnya tidak benar-benar valid, karena hanya perkiraan dari beberapa orang yang memberinya tes.
Pandangan orang-orang di sekitar Runa terus menerus mengarah ke arahnya, sebenarnya ia tidak merasa terganggu sama sekali, tapi mendadak ia teringat akan pesan Olyver yang melarangnya untuk menjadi sorotan.
Runa menepuk jidatnya pelan, bisa-bisanya ia lupa akan hal sepenting itu. Sayangnya ia sudah terlanjur menjadi topik utama setidaknya sampai beberapa hari ke depan.
Sesampainya di asrama, Anna dan yang lainnya langsung bersiap untuk tidur, sedangkan Runa masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, "Apa yang harus kulakukan?" gumam Runa.
Ia tidak bisa mengubah cara bertarungnya, tapi sengaja tidak bertarung dengan benar agar kalah juga bukan solusi yang bagus. Pasti akan ada banyak pertanyaan baru yang muncul jika ia kalah dengan mudahnya.
Berkali-kali Runa membalikkan badannya di kasur, ia berusaha mengubah-ubah posisi badannya, berharap bisa tidur karena sudah lelah berpikir. Sayangnya, ia tak kunjung tertidur.
Dengan mata lelahnya, Runa melihat sekitar tempat tidurnya dan melihat sebuah cat rambut berwarna hijau di atas meja belajar.
Dibanding lelah berpikir, tapi tak bisa tidur, ia memutuskan untuk mewarnai rambutnya agar sama dengan murid Green Academy lainnya. Tentu saja tujuan utamanya adalah agar keberadaannya tidak begitu mencolok.
***
"Selamat pagi," ucap Anna yang baru saja bangun dan menguap dengan sangat lebar. Anna langsung pergi ke kamar mandi tanpa melihat ke arah Runa karena matanya masih belum terbuka sepenuhnya.
Naomi dan Aida bangun bersamaan setelah itu dan yang pertama kali melihat Runa adalah Naomi.
"Selxi! Apa yang terjadi dalam satu malam?" ucap Naomi kaget karena penampilan Runa berubah drastis. Padahal Runa hanya mewarnai rambutnya saja.
Aida yang mendengar ucapan Naomi langsung melihat ke arah Runa juga. Sedangkan Anna langung keluar dari kamar mandi dan melihat ke arah Runa. Matanya tiba-tiba terbuka sepenuhnya, kantuknya sudah benar-benar hilang.
Runa hanya diam melihat reaksi teman-temannya itu, ia tidak merasa telah melakukan sesuatu yang aneh. "Aku hanya mewarnai rambutku," ucap Runa dengan polos.
Ekspresi Anna, Aida dan Naomi langsung berubah drastis dan terlihat seperti orang yang menangis.
"Kenapa diwarnai? Aku malah ingin mempunyai rambut sepertimu. Tidak ada cat warna yang berwarna seperti itu. Warnanya sangat langka di dimensi ini," ucap Aida dengan wajah yang ditekuk.
"Aku juga menginginkannya, tapi warna itu malah menghilang dalam semalam," ucap Anna yang menyetujui ucapan Aida.
"Aku menyesal menaruh pewarna rambut itu di atas meja," ucap Naomi yang bukannya marah karena pewarna rambutnya dipakai tapi malah menyesal.
Runa hanya diam melihat teman-temannya karena ia bingung dengan reaksi mereka.
***
Setelah itu, mereka bersiap-siap dan pergi ke aula utama.
Runa mengira bahwa banyak yang tidak mengenalinya setelah eksperimennya itu, tapi ternyata perkiraannya salah besar. Masih banyak anak yang dapat mengenalinya dengan mudah.
Ia masih sangat populer karena urutan kemungkinan. Padahal itu hanya urutan kemungkinan ucap Runa dalam hati.
Runa, Anna, Rey, Naomi dan Aida kembali ke tempat layar kemarin. Kali ini mereka ke sana untuk mengecek jadwal turnamen.
Jadwal terbaru atau pembaharuan pertandingan yang sedang berlangsung ada di layar besar, sedangkan jadwal masing-masing anak bisa dicek di layar kecil.
Turnamen ini memiliki sistem gugur, yang artinya jika kalah maka tidak dapat mengikuti pertandingan lagi, tidak ada kesempatan kedua. Jadi, jika ingin menang berarti tidak boleh kalah sekali pun.
Runa tercengang dengan peraturan itu, suatu kesalahan kecil akan berdampak sangat besar nantinya.
Sementara Runa sibuk mengecek jadwal pertandingan. Anna, Rey, Naomi dan Aida malah memantau anak-anak dari academy lain.
"Itu ada yang ganteng!" ucap Aida sambil tersenyum senang. Matanya mengarah ke salah satu anak dari academy lain yang sedang asik berbincang dengan temannya.
"Mana?" tanya Naomi penasaran.
Aida langsung menunjuk orang yang dimaksudnya. Anna juga ikut melihat ke arah jari Aida menunjuk. Setelah itu, pembicaraan mereka mengenai cowo-cowo terus berlanjut, seperti tak ada habisnya, selalu ada cowo baru yang menarik perhatian mereka.
Runa hanya geleng-geleng kepala mendengarkan pembicaraan mereka, sedangkan Rey diam-diam sedang mencari cewek cantik dari academy lain, ia juga melihat ke sekeliling dengan sangat fokus.
Pantas saja urutan mereka jelek, batin Runa sambil melihat kelakuan teman-temannya.
Setelah selesai mengecek, mereka langsung masuk ke dalam.
Runa mendapat urutan kedua di turnamen. Bukankah itu kejam untuk seorang anak baru? Baru dua hari masuk dan diberi urutan kedua, padahal harusnya ia memperhatikan anak-anak lainnya melakukan pertarungan bukan?
Aula utama memiliki bentuk seperti stadion. Ada tempat seperti lapangan di tengahnya sedangkan di sekelilingnya ada tempat duduk untuk penonton.
Runa melihat ke sekeliling karena ini pertama kalinya ia masuk ke sana. Cukup bagus, tapi masih kalah dengan academy yang ada di Falennor Kingdom.
Pertandingan dimulai jam 8 pagi dan selesai jam 10 malam dan sekarang sudah jam delapan kurang lima menit.
Runa bisa menyimpulkan dengan cepat yang mana orang kebanggaan tiap academy. Ia hanya perlu melihat orang yang diikuti banyak anak dan kerjaannya tebar pesona (hanya sebagian besarnya saja, karena tidak semua tebar pesona).
Walaupun ia terus memantau keadaan sekitar, Runa belum melihat orang yang bernama Dean itu. Ia sangat penasaran dan terus menerus memantau, mungkin saja orangnya tiba-tiba muncul entah darimana.
Anna bilang bahwa Dean tidak terlalu suka menjadi sorotan dan diikuti banyak orang sehingga ia jarang muncul. Jarang, berarti akan ada waktunya ia muncul dan Runa sedang berharap Dean tiba-tiba muncul sekarang.
Aula semakin penuh mendekati jam pertandingan. Suara bising dari berbagai sudut aula membuat keadaan mulai tidak terkendali sehingga membuat Runa tidak bisa benar-benar memantau orang yang masuk ke aula.
Pertandingan pertama adalah pertandingan salah satu dari keenam orang populer di Green Academy dan katanya lawannya adalah orang populer dari academy lain.
___________________________________
JADWAL PERTANDINGAN
1. Aeryn (GA) vs Fira (YA)
2. Selxi (GA) vs (PuA)
3. Aletha (PiA) vs Kaila (BlA)
__________________________________
Itulah yang ditampilkan di layar utama, yaitu pertandingan yang sedang dan akan berlangsung dalam waktu dekat.
Note :
GA = Green Academy
YA = Yellow Academy
PuA = Purple Academy
PiA = Pink Academy
BlA = Blue Academy
Dua menit sebelum pertandingan dimulai, Aeryn dan Fira terlihat sudah masuk ke tempat turnamen.
Jam delapan tepat, pertandingan dimulai ditandai dengan bunyi detikan jam sebanyak sepuluh kali diikuti dengan suara 'START!' yang sangat nyaring.
Aeryn mengeluarkan pedang hijaunya sedangkan Fira bersiap dengan sihir api yang berwarna kuning.
Runa memperhatikan dengan saksama pergerakan Aeryn dan Fira. Ia penasaran dengan kekuatan Aeryn yang sebenarnya dan berjaga-jaga jika ia harus melawan salah satu dari kedua orang itu.
Runa senang mempelajari pergerakan musuh, karena dari sana ia akan mendapat banyak informasi dan membuat kemungkinan menangnya semakin besar.
Fira menyerang Aeryn dengan api yang sangat besar.
Menurut penelitian, api kuning memiliki suhu yang tinggi dibandingkan dengan api hijau. Tapi api kuning tidak memiliki kekuatan p*********n yang bagus.
Saat Fira menyerang dengan api kuning, Aeryn menebasnya dengan pedangnya. Tebasannya dashyat dan memiliki efek yang besar. Api itu bolong di tempat tebasan Aeryn dan mulai mengecil.
Fira menambahkan sihir petir kuning dan mengarahkannya ke arah Aeryn. Di saat yang sama, Fira menggunakan pendampingnya yang merupakan seekor anjing. Yang artinya, Fira menyerang Aeryn dari dua arah, yaitu petir dari atas dan anjing dari bawah.
Aeryn tidak mau kalah dan mengeluarkan pendampingnya yang merupakan seekor ular yang mempunyai tiga kepala. Anjing itu langsung terkena racun dari ular, sedangkan petir Fira ditangkap Aeryn dengan sebuah perisai berwarna hijau.
Aeryn melanjutkan serangannya dengan sebuah tebasan di tangan, Fira sedikit tersentak dengan kecepatan gerakan yang dimiliki Aeryn.
Runa melihat pergerakannya dengan serius, sehingga ia jadi bisa benar-benar membandingkan dan menilai kekuatan Aeryn. Pergerakan Aeryn kali ini jauh lebih cepat daripada saat tesnya dua hari yang lalu.
Fira mencoba memblokir dengan sebuah perisai kuning, tapi ternyata kekuatannya belum sempurna sehingga perisainya hancur. Walaupun begitu, serangan Aeryn ternyata hanya memberi luka kecil pada Fira.
Belum sempat Fira memperbaiki posisinya dan bertahan lagi, Aeryn membuat pedang baru dan menebaskannya ke tangan dan kaki Fira.
Fira hanya berhasil melindungi kakinya sedangkan tangannya luka parah.
Aeryn tidak memberi ampun dan menyerang Fira lagi dan lagi. Sampai Fira tidak bisa membela diri lagi.
Runa terdiam melihat pemandangan itu. Di dalam hatinya, ia bersyukur karena kemarin badannya tidak sampai separah itu.
Dengan keadaan Fira yang seperti itu, otomatis Aeryn menang dan pertandingan selesai.