DELAPAN - PERTANDINGAN SELXI

1233 Kata
Pertandingan antara Fira dan Aeryn berakhir dengan sorakan nyaring yang menggema di seluruh aula. Sorakan itu bukan hanya untuk kemenangan Aeryn, tetapi juga sebagai tanda dimulainya event tahunan ini. Setiap tahunnya, pertandingan pertama selalu diisi oleh anak dari Green Academy dan selalu berasal dari salah satu anak berprestasinya. Lawannya pun dipilih dengan hati-hati agar kekuatannya hampir imbang, karena pertandingan pertama adalah tanda dimulainya event tahunan, yang artinya pembuka utama dari event ini. Selesai pertandingan antara Fira dan Aeryn selesai, ada jeda sekitar 2 menit sebelum ke pertandingan selanjutnya. Jeda itu digunakan untuk pergantian orang di lapangan. Jeda antar pertandingan tidak terlalu lama dan tidak ada pemberitahuannya, tiap anak yang akan bertanding harus stand by di sekitar lapangan dengan inisitiatif sendiri agar tidak tertinggal pertandingannya. Jika tidak masuk lapangan di waktu yang sudah ditentukan, maka akan langsung kalah. Melihat pertandingan sudah selesai, Runa langsung berdiri dan berjalan menuju lapangan. "Semangat Selxi!" ucap Anna, Rey, Naomi dan Aida dengan kompak. Runa membalasnya dengan membuat tanda oke sambil terus berjalan ke lapangan. Awalnya Runa berpikir bahwa lapangan akan menjadi lebih sepi karena tidak banyak yang kenal dirinya, apalagi anak-anak dari academy lain. Sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya. Saat Runa sudah masuk ke dalam lapangan, entah secara kebetulan atau tidak, banyak yang masuk ke dalam Aula Utama dan tempat penonton menjadi sedikit lebih ramai dari sebelumnya. Apa yang harus kuperbuat agar tidak menjadi pusat perhatian? ... Ya sudah biarkan saja. Yang penting menang ucap Runa dalam hatinya sambil menghela napas dengan kasar. Ia hanya bisa berpasrah karena Runa tidak bisa mengontrol perilaku orang lain. Di sisi lain, Devon sudah siap melakukan pertarungan dengan Runa. Ia terlihat sangat bersemangat untuk melakukan pertandingan pertamanya. Mereka berdiri berhadapan, tak terlalu dekat namun juga tak terlalu jauh. Sekitar tiga meter jarak di antara mereka. Terdengar bunyi detikan jam sebanyak sepuluh kali dan diikuti dengan bunyi 'START!'. Dalam sekejap Devon sudah berpindah tempat ke sebelah Runa dengan hewan pendampingnya yang berbentuk naga api. "Mari kita selesaikan ini dengan cepat," bisik Devon dengan suara kecil lalu membuat sihir berwarna ungu dan menyerang Runa. Runa tersenyum kecil, sihir ungu dan pink adalah sihir alaminya yang dipelajarinya saat di Falennor Kingdom. Runa tahu persis kelemahan dan kelebihan sihir itu serta cara menutupi kekurangannya. Serangan pertama Devon ditangkis Runa dengan sebuah perisai berwarna hijau. Runa sengaja memakai sihir warna hijau agar tidak terlihat aneh karena ia berasal dari Green Academy. Sebenarnya ia tidak terlalu terbiasa dengan sihir hijau, tapi bukan berarti Runa kesulitan menggunakannya. Runa masih bisa menikmati sihirnya walaupun bukan dengan sihir alaminya. Devon kaget, serangan cepatnya ditangkis Runa dengan mudahnya. Bahkan Runa tidak terlihat takut ataupun kaget sama sekali melihat kecepatan pergerakan Devon. Runa menciptakan kobaran api hijau yang berpadu dengan kilatan petir, lalu melemparkannya ke arah Devon. Namun, tepat saat sihir itu melesat, naga milik Devon membuka mulutnya lebar-lebar dan melahapnya tanpa ragu. Runa tahu bahwa seekor naga api bisa memakan api, sehingga ia sengaja membuat api yang ditambahkan dengan petir. Beberapa detik kemudian naga itu terlihat tersetrum karena petir yang dibuat oleh Runa. Melihat gerakan aneh dari naganya, Devon langsung bergerak turun dari badan hewan pendampingnya itu agar tidak terkena efeknya. Umumnya naga bisa menahan efek dari listrik. Sayangnya, naga milik Devon masih terlalu muda—sepertinya Devon baru saja mendapatkannya. Devon kesal dengan ulah Runa, ia membalas serangan Runa dengan ratusan panah yang langsung ia lepaskan serentak. Melihat ratusan anak panah yang melesat cepat, Runa menajamkan matanya ke anak panah yang bergerak dengan santai. Entah apa yang terjadi, hanya dengan tatapan matanya, semua anak panah itu hancur sebelum mendekat ke arah Runa. Seperti ada kekuatan yang muncul dari mata Runa dan meluas sehingga anak panah itu hancur. Semua penonton terdiam melihat kejadian itu. Mereka terkejut karena Runa bahkan tidak bergerak sedikit pun. Devon yang melihat Runa dari jarak yang cukup dekat juga bingung kenapa anak panahnya mendadak hancur. Di sisi lain, Runa juga kaget dengan apa yang dilakukannya, karena awalnya ia berniat untuk bergerak saat anak panah sudah benar-benar dekat dengan tubuhnya. Apa yang baru saja kulakukan? tanya Runa dalam hati. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah sebuah ilusi semata. Walaupun kaget, Runa menyembunyikan ekspresi kagetnya itu dan tidak mau membuang waktu. Ia membuat sebuah tombak, lalu bergerak cepat ke arah Devon. Devon yang tidak fokus karena kejadian anak panah barusan, tidak sadar akan kehadiran Runa. Tanpa membuang waktu, Runa menancapkan tombak yang ada di tangannya tepat ke d**a Devon. Karena tidak menyadari pergerakan Runa, Devon tidak melakukan pertahanan apapun dan langsung kalah telak. Pertandingan antara Runa dan Devon hanya berlangsung selama empat menit. Menurut salah satu penjelasan pertandingan yang ada, semakin cepat sebuah pertandingan selesai, artinya perbandingan kekuatan antara para pemain sangat jauh. Hal ini akan membuat peringkat seseorang dapat naik dengan drastis, dan itulah yang terjadi dengan Runa. Peringkat Runa langsung naik menjadi peringkat pertama. Peringkat ini merupakan peringkat sementara yang akan berubah seiring berjalannya turnamen. Peringkat akan naik sesuai jumlah kemenangan dan lama pertandingan. Semakin banyak jumlah kemenangan, maka peringkat akan semakin tinggi dan jika jumlah kemenangannya sama, maka akan dilihat dari waktunya. Semakin cepat pertandingan itu selesai atau semakin sedikit waktunya maka peringkatnya akan semakin tinggi walaupun jumlah kemenangannya sama. Saat pertandingan Runa dan Devon selesai, orang-orang mengira bahwa Runa membunuh Devon karena ia menusuk Devon tepat di dadanya. Padahal tidak, Runa sudah melapisi tombaknya dengan sebuah sihir sehingga tidak mungkin Devon terbunuh. Setelah pertandingan selesai dan pemenang diumumkan, Runa mengangkat tubuh Devon dengan sihirnya dan melepaskan tombaknya. Lalu ia melakukan sihir penyembuhan selama beberapa detik. Runa meletakkan Devon kembali ke lapangan dan meninggalkannya. Beberapa saat kemudian, Devon terbangun, ia sempat bingung, tapi langsung bergerak ke luar lapangan setelah melihat instruksi salah satu guru yang berada di pinggir lapangan. Sebenarnya Runa ingin membawa Devon ke pinggir lapangan terlebih dahulu agar tidak semua orang melihatnya melakukan sihir penyembuhan. Setidaknya salah satu bagian dari penonton akan tertutupi dinding jika ia melakukan di pinggir lapangan. Hanya saja, Runa terlalu malas dan capek karena pertandingan barusan sehingga ia melakukannya di tengah lapangan lalu meninggalkannya. Runa tidak langsung naik ke kursi penonton. Ia masih berada di pinggir lapangan. Lebih tepatnya ia malas naik. Kemungkinan besar ia akan di datangi banyak anak, entah untuk apa. Yang jelas ia malas menanggapi mereka. Ia sudah melanggar ucapan Olyver agar tidak menjadi sorotan, ia tidak mau melanggar lebih banyak lagi. Sebenarnya, jika ada murid yang ingin menonton dari pinggir lapangan itu diperbolehkan. Hanya saja, jika terjadi sesuatu, misalnya seperti terkena serangan dan luka. Maka itu merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Di dalam pertandingan pun sebenarnya seperti itu, jika ada yang luka maka menjadi tanggung jawab pribadi. Hanya saja, tadi Runa tidak tega melihat lawannya terkapar secara mengenaskan sehingga ia memilih untuk menyembuhkannya. Sihir penyembuhan sebenarnya adalah sihir langka. Sihir ini dapat digunakan untuk diri sendiri maupun orang lain. Warnanya kuning terang dan putih, seperti warna cahaya yang sangat indah. Banyak orang yang ingin memiliki sihir itu, tapi sayangnya tidak ada pembelajaran khusus untuk mendapatkan sihir penyembuhan, karena sihir penyembuhan adalah sihir alami yang berasal dari orang itu sendiri. Setelah pertandingannya selesai, Runa benar-benar memilih untuk menonton dari pinggir lapangan. Jika ada serangan yang bergerak menuju ke arahnya, Runa hanya akan membuat sebuah perisai untuk melindungi dirinya. Walaupun terlihat berbahaya, tapi Runa bisa duduk bersila dengan tenang di pinggir lapangan tanpa mendengar suara berisik manusia-manusia yang berkomentar tidak jelas dan ia bisa mempelajari sihir serta pergerakan dari pertandingan dengan lebih jelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN