dan kita lanjut ngobrol lagi membicarakan berbagai macam, seperti aktifitasnya di tempat dia kuliah
"kak permisi, saya mau ambil mangkok dan gelas" (pegawai)
"oh ya silahkan, totalnya berapa, maaf kalau ga sopan" (fariel)
"gak masalah bang, santai aja, totalnya hanya 40ribu saja" ucapnya
akupun langsung menyerahkan 1 lembar uang 50 an
"ini ka" (fariel)
"iya, nanti kembaliannya saya antar bang" ucapnya
"gak usah, simpen aja buat kaka" (Tia) ucapnya tiba-tiba yang dalam mode sedang cemburu melihat pangerannya berbicara sama lawan jenis apalagi pakai ngeluarin jurus senyumnya
"iya makasih ya ka, nanti saya kasih buat anakku" ucapnya, yang tau kalau ada yang sedang lagi dalam mode cemburu kalau cowok yang disebelahnya takut diambil
"permisi" ucapnya lagi
aku justru ketawa karena melihat bidadari disebelahku sedang dalam mode cemburu, dan yang dicemburui sudah menikah dan punya anak pula
"ih jangan ketawa, kalau masih ketawa aku beneran ngambek nih" (Tia) karena tau aku sedang menertawakan nya
"habis lucu sih, kecemburuanmu sama orang yang sudah menikah dan punya anak sih, takut aku disikat ya" (fariel) lalu tertawa lagi
"iiiihh nyebelin" (Tia) dengan bibir kerucutnya
"ih jangan ngambek dong sayang, tu bibir biasa aja, apa minta dici** nih" (fariel) mencoba merayu biar ilang mode ngambek nya
tia senyum terpaksa, dan langsung menarik tubuhnya untuk merapat dan menyenderkan kepala dipundakku, sambil melihat pemandangan yang sangat indah, sedang terjadinya awan mulai menutupi kota
"pulang yuk dah sore nih" (fariel) sambil memperelihatkan jam yang melingkar di tangannya sudah jam 17:40
"nanti terlambat pulangnya jadi agak malam, kan belom izin kalau keluarnya sampai malam" (fariel)
"udah kok, sama pemilik kos dan pak satpam, kalau aku pulangnya kemungkinan sedikit malam karena mau lihat awan yang menutupi kota" (Tia)
memang peraturan kos nya seperti itu, jika keluar harus izin dulu kesatpam dan kalau keluar malam juga harus izin dulu dan bilang keluarnya dengan siapa
"ok deh tuan putri" (fariel)
"yuk pulang, tapi nanti pelan-pelan mengendarainya ya, biar aku bisa menikmati pemandangan disore hari" (Tia)
"baik, titahmu akan saya lakukan ratu" (fariel) sambil membungkukkan badannya
"ih apaan sih, gombal" (Tia) lalu menarik tanganku dan menggandeng ku terus nyender tuh kepalanya
Sambil berjalan Tia tetap asik nyender sambil berjalan kearah tempat tadi memarkirkan motor membuat yang lain cemburu saja
"gak usah nyender mulu, aku gak bakal ngambil cowokmu, aku dah punya nihh" ucap pegawai yang tadi dicemburuinya dengan menunjukkan suaminya yang rupanya pedagang dan juga anaknya yang masih berumur sekitar 2tahunan di gendongan nya
sedangkan aku tertawa karena inget yang tadi ketika sehabis makan, yang cemburu berlebihan, eh gak taunya ketemu lagi, dengan membawa anak dan suaminya
"gak usah ketawa" (Tia) lalu nyubit pinggang ku
aku berusaha menahan ketawaku
"maaf ya kak, mungkin bawaan ini" (fariel) mengelus perutku sendiri dengan tersenyum yang hampir tertawa lepas karena sebelahnya malah cemberut. padahal yang dimaksud olekhu adalah kekenyangen karena ngabisin cemilan begitu banyak dan ditambah mie goreng kuahnya
"ohhh, aku juga pernah ngalamin" ucap suaminya
"duluan ya, aku dah sampai ni di depan motorku nih" lanjutnya
"semoga bisa ketemu lagi biar bisa godain bumil buat bumil ngambek lagi, asik kalau lihat bumil cemburu, lucu dan gemes liat muka dan bibirnya yang seperti mau jatuh" ucapnya lalu menoel tangannya tia
membuat Tia kaget karena dibilang bumil dan akan digodain lagi sampai ngambek kalau ketemu lagi
aku yang melihat Tia seperti itu mau ketawa tapi kutahan dan hanya tersenyum lalu menganggukan kepalaku kearah mereka
"dah bumil dah abang tampan" godanya lagi sambil melambaikan tangannya dan tangan anaknya
"iya ka, d**a adek" ucapku sambil melambaikan tangan dan langsung meninggalkan mereka menuju motor ku
Tia berjalan dengan diam membisu
aku melepaskan pegangan tangannya dengan perlahan yang masih melingkar ditangannya dan langsung naik motor juga menyerahkan kertas kepada mereka yang meminta kertas parkirnya
"ayok naik, jangan mikir yang aneh-aneh" (fariel)
Tia pun langsung naik, tapi gak pegangan juga, akhirnya kutarik tangannya supaya melingkar di perutku untuk berpegangan
"dah siap, biar jalan nih, katanya mau menikmati pemandangan sore hari" (fariel)
Tia langsung meletakkan dagunya dipundakku, dan aku tersenyum melihatnya dari sepion dan jalan untuk pulang
ditengah jalan ketemu lagi,
"romantis bingit nih pasangan mudanya" ucap nya sambil mengacungkan jempol dan tersenyum kearah kita yang menyalip kita dengan motor maticnya
membuat Tia mukanya memerah dan menutupinya dibalik punggungku, dan senyum-senyum sendiri dibalik punggungku