Makan Bakso Berdua

575 Kata
Sambil menunggu pesanan datang kami pun ngobrol tanya jawab tentang kesehariannya masing-masing "biar akrap boleh gak kalau mamggilnya pake mas" (tia) "boleh, silahkan aja gak papa, kalau mau" (fariel) "mas gak cape apa setiap hari kerja seperti itu, bangun pagi masak terus sorenya belanja" (tia) "kan waktu istirahat mas jadi kurang" "kalau cape mah ya capek, tapi gimana lagi inikan kebutuhan dan pekerjaan ku" (fariel) "tapi kalau dah sering mah capeknya kurang, apalagi kalau pas dapat bayaran, langsung hilang capeknya" "oh iyalah, kalau gajian mah rasanya lupa kalau lihat yang merah-merah atau yang biru" (tia) "nah itu tau" (fariel) dan tiba-tiba yang ditunggu pun datang "ini bang, kak, pesanannya, silahkan dinikmati, kalo ada yang kurang tinggal panggil saya aja" ucap pegawai warung bakso "iya, makasih" ucap kami bersama "yuk kita makan, keburu nanti dingin kalo kelamaan, ngobrolnya di lanjut nanti lagiaja kalau dah makan" (fariel) "ayok mas" (Tia) "jangan lupa berdoa" (fariel) "ok" (Tia) dan kami pun makan menikmati makanan yang telah tersaji dimeja kita, satu porsi berdua, setelah beberapa menit menikmati kami lanjut ngobrol sebentar sambil menunggu makanannya turun "itu mulutnya belepotan, di lap dulu, apa mau aku yang lapin" (fariel) sambil menyodorkan tisu yang sudah disediakan dan Tia pun langsung ambil tisu ngelapin mulutnya sambil menundukan kepalanya, karena mukanya merah karena tawaranku untuk ngelapin mulutnya yang belepotan karena ada sedikit saos yang menempel di sudut bibirnya "sudah bersih, jangan nunduk mulu, ini minumnya, apa perlu kubantu untuk minum" (fariel) sambil memberikan minum, dan yang ada hanya gelengkan kepala sebagai jawabannya karena malu dengan tawarannya yang buat makin merah tuh muka "udah jangan nunduk mulu, pa gau malu diliatin bangku sebelah tuh, dikira aku buat masalah sama kamu" (fariel) dengan rasa malu dia mengangkat kepalanya padahal mukanya masih merah sambil melirik ke meja depan dan sebelah kanan dan kiri, karena seperti yang diucapkan orang disebelahnya itu benar, akupun pergi sebentar ke untuk membayar makanan dan minumannya, kemudian setelah membayar aku balik lagi kemeja kini muka Tia sudah gak merah lagi, bahkan sudah mau membuka suaranya yang mungkin hilang sesaat karena nahan malu "setelah ini kita kemana lagi mas" (Tia) sambil melihat jam yang melingkar ditangannya "terserah, maunya kemana, aku gak tau mau kemana, karena aku jarang jalan-jalan ke kota ini, jadi gak tau tempat yang menarik" (fariel) "kalo gitu ke alun-alun aja, biasanya kalo hari minggu sore banyak yang nongkrong disana" (Tia) "banyak nongkrong orang lagi pacaran, ya KAAAANNN" (fariel) sambil menekan kata kan "mungkin juga iya mungkin juga enggak" (Tia) dengan senyumannya akupun ikut tersenyum "jadi kekmana" (Tia) "boleh juga kita kesana, yaudah yok berangkat" (fariel) "hayuk" (Tia) sambil ambil dompet dimeja makan, terus seperti mengeluarkan uang "udah di bayar, masukin lagi uangnya" (fariel) "kan aku yang ngajakin masnya jalan, sekalian mau bilang terimakasih karena pernah bantuin, kenapa malah mas yang bayar" (Tia) terus aku gimana jadinya "lain kali aja kan bisa traktirnya" (fariel) Tia hanya ngannguk dan kita pun langsung keluar menuju parkiran "yuk naik, sebelum kesorean" (fariel ) Tia langsung naik ke motor dan akupun langsung menjalankan motorku ketempat yang dituju, Tia juga langsung melingkarkan tangannya untuk pegangan, yang mungkin kalo orang lain liat itu seperti sepasang kekasih yang sedang romantis, karena pegangan tangannya yang melingkar di pinggangku, dan juga menyenderkan kepalanya kepundak, jadi tambah wowwww kalo orang lain lihat dan bikin iri bagi yang melihat, apa lagi yang jomblo yang jiwanya pasti meronta-ronta dan mungkin menghayal kapan bisa begitu dan setelah beberapa menit mengendarai motor, kini sudah sampai ditempat tujuan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN