Makan dipinggir jalan

422 Kata
lagi berjalan bergandengan ada yang nyamperin "traktirannya dong" (indah) "iya tuh, padahal kita kan sering bantuin kalau ada yang lagi ngambek marah-marah gak jelas" (nia) "siapa yang gak jelas" (Tia) mereka berdua saling tatap mata dan mengangkat kedua bahunya sambil memajukan bi*** bawahnya yang mungkin bisa jatuh "boleh tapi jangan ganggu ya, kasian nanti marah bidadari ku, ok" (fariel) "ok bos" jawab keduanya lalu kuambil Dompetku dan menyerahkan dua lembar uang pada mereka "nih ambil" (fariel) "mana cukup itu bambang, minimal itu dua puluh ribu, atau seratus, lah ini cuman lima belas, ya kurang dong" (nia) akhirnya ku tambahin lagi uang limapuluh dan yang tadi bukannya dibalikin malah dimasukin ke kantongnya, aku hanya geleng kepala melihat teman Tia seperti itu "banyak banget ngasihnya, padahal tadi sudah cukup, kan disini gak mahal makanannya, namanya makanan anak kos" (Tia) "daripada dia gangguin kita yang mau romantisan, gak papa lah, untuk bayar pengawalan biar gak ada yang gangguin kecuali nyamuk" (fariel) "ihhh camiku bisa aja, ya udah ayok" (Tia) kami pun berjalan menuju tukang bakso "Pak dua ya, porsi spesial, laper banget nih" (Tia) "baik de, tunggu sebentar ya" ucap penjual bakso "yuk duduk" (fariel) "ihhh abang, sama kak Tia, romantis banget makan di pinggir jalan berdua, kita gak di traktir nih" (dini) "minta aja sana sama indah dan nia, tadi dah dikasi uang tiga lembar limapuluh, kalian cari aja mereka" (Tia) langsung susi dan dini pergi dari hadapannya "wah bidadari ku rupanya pandai juga untuk ngusir nyamuk" (fariel) "harus dong, biar gak ganggu kita berdua" (Tia) sambil menyunggingkan bibirnya dan yang ditunggu siap juga "ini de baksonya" ucap penjual bakso sambil meletakkan dimeja kecil "makasih pak" (Tia) "ayok makan, biar nanti bisa cerita, katanya mau cerita, aku jadi penasaran aja" (fariel) "Cami yang pimpin doa nya ya" (Tia) pintanya padaku "kirain minta disuapin makannya" (fariel) "iiiih, nanti itu terakhiran aja, kalau sudah agak sepi, banyak nyamuk sama lalat berkeliaran" (Tia) "ya dah yuk ?الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ? mari makan" (fariel) dan kami pun makan, bener-bener ukuran jumbo pesanannya, hingga hampir ga habis "yank abisin nih" (fariel) sambil menyodorkan sendoknya kemulut Tia dan Tia hanya menerima saja tanpa mengucapkan kata-kata, hingga dimangkokku beneran habis, bahkan sampai kutarik mangkoknya biar kusuapin juga hingga punya Tia habis juga "Alhamdulillah habis juga ?اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْنَ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ? Amin" ucap kami berdua "masih kurang gak" (fariel) "ini tuh dah kenyang banget, kan makan punya Cami juga" (Tia) Akupun tersenyum melihatnya yang manja seperti ini, "jadi pengen cepet-cepet dihalalin" (Tia) dalam hati
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN