baru selesai mandi, tiba-tiba hpku berbunyi tanda panggilan masuk
langsung ku angkat
"hallo Assalamu'alaikum" (fariel)
"Waalaikumsalam cami" (Tia)
"ada apa, kangen ya" (fariel)
"iya dong, gak ketemu sehari serasa seminggu tau" (Tia)
"ah masa, kalau sehari ya sehari aja, jangan jadi minggu" (fariel)
"iiihhh ngeselin" (Tia)
"ngeselin apa ngangenin nih" (fariel)
"dua-duanya, yank jemput aku dong, pengen ngobrol" (Tia)
"tapi ngobrolnya disitu aja ya, dah sore kalau untuk jalan-jalan, kan ada yang jualan juga disitu" (fariel)
"iya, jangan lama ya, kutungguin didepan gerbang" (Tia)
"ok, Wassalamu'alaikum" (fariel)
"Waalaikumsalam" (Tia)
langsung ku matikan HP-nya dan langsung kupakai baju dan celana untuk bersiap keluar buat ketemu canisku sayang
"widih wangi bener nis sore ini" (roy)
"bau-baunya kayaknya mau ngapel nih"
"iyalah, anak muda kok dikamar mulu gak ngapelin cewek, rugi dong sunatnya" (fariel)
"hahahahahaha, kena skakmat" (idin)
"nitip salam buat temannya ya, dari roy"
"kasian jomblo, sapa tau ada yang jomblo juga"
"s****n, gini-gini dah punya ya" (roy)
"tapi kok gak pernah keluar, dikamar mandi mulu" (idin)
"ini perlu interogasi lanjut ini, takutnya ngapain kan"
"hahahahaha" (fariel, idin)
"dah ya, aku mau cabut ketemu calon" (fariel)
"gak kaya loe hanya ketemu sabun"
"hahahahaha" (idin)
"s****n, ok besok hari minggu bakal kubawa kemari biar kalian tau" (roy)
"bawa ke penghulu dong, bawa kemari, mau diapain hayooooo" (fariel)
"nyuciin piring, masak, langsung nyetrika" (idin)
"dah ya, d**a jomblo" (fariel)
langsung kabur sebelum kena lempar roy
sampai ditempat depan kos
"mukanya biasa aja dong yank" (fariel)
"jangan bengong"
Tia hanya senyum
"yank, cami boleh masuk gak nih, berat nih motornya kalau harus gini terus" (fariel)
"iiiiya camiku, silahkan" (Tia)
langsung ku parkir kan motorku di paling pinggir biar enak keluarnya nanti
"yuk katanya mau ngobrol, sambil makan bakso aja ya" (fariel)
Tia hanya ngangguk dan langsung mengikuti sambil bermanja dengan tanganku yang minta digandeng kaya kereta api aja
"itu rambut kenapa, sama mukanya kok gitu amat" (fariel)
Tia hanya senyum saja sebagai jawabannya, dan aku pun hanya menggelengkan kepala melihatnya seperti ini