Kepergok

1668 Kata
Sartono memandangi Anak Gadisnya yang tengah tertidur di bangku panjang dengan kepala berpangku di paha Danu, lalu gantian memandangi Danu yang juga tengah tertidur. "Kasihan, mereka pasti kelelahan" gumam Sartono dalam hati. Krompyang!! Terdengar suara seperti benda terjatuh, suara itu berasal dari ruangan Kartika. Sartono bangkit dari duduknya lalu masuk ke ruangan Istrinya, tak lupa menutup pintu kembali. Pria itu mengambil tutup gelas yang terjatuh tadi lalu mengembalikannya di tempat semula. "Ibu kenapa bangun? Ibu mau minum? sini biar Bapak ambilkan" Sartono mengambil botol mineral yang masih bersegel, membukakan tutupnya lalu di berikan kepada Istrinya. Kartika meneguk air putih itu beberapa tegukan, lalu di serahkan kembali ke Suaminya. "Makasih ya, Pak" Pria tua itu menganggukkan kepala. Usai menaruh kembali botol tersebut di atas nakas, Sartono menarik kursi mendekati Istrinya, ia menggapai tangan Kartika lalu menggenggamnya erat. "Lain kali kalau butuh sesuatu panggil Bapak ya," ujarnya, tersirat penuh cinta dari tatapannya itu. "Iyah, Pak" Suara pintu di ketuk. Seorang Perawat masuk ke ruangan Kartika, hendak mengecek Pasien. "Permisi Pak, minta waktunya sebentar. Saya hendak memeriksa Pasien" ucap Perawat itu. Sartono menoleh kearah Pintu. "Iyah Sus, silahkan" ujar Sartono mempersilahkan. Perawat tersebut melangkah mendekati Kartika untuk memeriksa cairan infus takut takut habis atau macet. Usai memeriksa Pasien, Perawat itu pamit undur diri. "Mungkin besok pagi cairannya akan habis, besok saya akan datang ke sini lagi untuk mengganti dengan yang baru. Kalau begitu saya tinggal ya Pak," ujarnya lalu pamit undur diri. "Hoam.." Rena terbangun dari tidurnya saat setelah mendengar suara pintu di buka lalu di tutup kembali, tampak seorang Perawat keluar dari ruangan Ibunya. Rena bangkit dari tidurnya, lalu duduk di samping Danu. Ia lalu membangunkan Danu yang tengah tertidur. "Pak, bangun Pak" Danu terbangun dari tidurnya karena Rena menggoyang-goyangkan tangannya. "Ada apa?" tanyanya dengan nada malas setengah sadar. Rena menyampirkan tasnya di pundak, bangkit dari duduknya hendak melangkah hendak menemui Ibunya. "Eh, mau kemana?" tanya Danu sepenuhnya sadar. "Saya mau temuin Ibu, Bapak mau ikut?" "Hoam... kamu duluan aja deh, saya mau cuci muka dulu. Nanti saya nyusul" Rena pun pergi menemui Ibunya, sementara Danu pergi ke Toilet untuk membasuh wajahnya. Usai dari kamar kecil, Danu lalu pergi menyusul Rena. "Assallammualaikum" ucap salam Danu saat memasuki ruangan di mana Ibunya Rena di rawat. Danu menyalimi Kedua Orang Tua Rena. "Waalaikumsalam" sahut Sartono. Sartono merangkul bahu Pria yang ada di sampingnya. "Ibu cepet sembuh ya, Rena udah bawain calon mantu buat Ibu nih" "Ikhh, apaan sih Pak!" sahut Rena dengan nada tak terima. "Bapak ngomong sama Ibu, bukan sama kamu!" Karena kesal, Rena melangkah pergi keluar. Ketiganya melihat ke arah Pintu, menatap kepergian Gadis itu. "Emang dari dulu enggak pernah berubah itu anak" ucap Kartika. "Iyah, sama persis kayak Ibu dulu sewaktu kita belum pacaran. Sok jual mahal, mau tapi malu. Hahaha" oloknya. Kartika mencubit lengan Danu "Ikhhh apaan sih Bapak. Kan ada Nak Danu, bikin malu aja sih Bapak" Setelah berbincang-bincang dengan Kedua Orang Tua Rena, Danu pamit pergi menyusul Rena. Sartono mengantarkan Pemuda itu sampai depan pintu. "Ren, lebih baik kamu ajak Nak Danu pulang ke Rumah deh. Istirahatlah, kalian pasti capek kan habis melakukan perjalanan jauh" ucap Pria paruh baya. "Enggak kok Pak, lebih baik Bapak saja yang pulang. Kami yang akan menunggu di sini" sahut Danu yang di angguki Rena. "Sudah sana kalian pulanglah dulu, mandi makan terus istirahat. Besok pagi datang kesini, gantian Bapak yang pulang" "Baik Pak, kalau gitu Rena pulang dulu" pamitnya yang di susul Danu. ** Kini Rena dan Danu telah sampai di Rumah Rena dengan menaiki taxi. Gadis itu mempersilahkan Danu masuk. "Maaf ya, tempatnya berantakan." "Enggak masalah" jawab Danu sambil melihat kesekeliling. Rena membukakan pintu Kamar Tamu "Kalau Bapak mau istirahat, Bapak bisa tidur di sini. Saya mau ke atas dulu" "Hemmm" balas Danu lalu masuk ke Kamar Tamu, sementara Rena naik ke lantai atas menuju kamarnya. Pria itu membuka kemeja yang ia pakai, menampilkan bongkahan roti sobek di dadanya. Danu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dengan posisi kepala bertumpu kedua tangan, menatap langit-langit plavon. Setengah jam kemudian Rena turun kebawah, masuk ke Kamar Bapaknya. Membuka lemari, mencarikan baju untuk Danu. "Ini kayaknya pas" gumamnya lalu keluar dari kamar itu lalu pergi menemui Danu. Kebetulan Kamar Bapaknya dengan kamar Tamu bersebelahan. Rena berdiri di depan Kamar Tamu dengan pintu dalam keadaan terbuka, saat melihat ke dalam ia lalu secepat mungkin menutup kedua matanya. Terlihat Pria yang tengah terbaring di atas ranjang itu dalam keadaan setengah telanjang. Rena mencoba mengetuk pintu. Pria itu membuka kedua matanya lalu bangkit, duduk di tepi ranjang. Gadis itu masih dalam posisi, berdiri di depan pintu, memalingkan wajahnya, "Ini cepat ambil" ujarnya sambil menyodorkan pakaian yang ada di tangannya kepada Pria itu. Danu menatap heran dengan tingkah laku Gadis itu "Kenapa berdiri di situ, sini masuk" "Bapak gila ya, pakai dulu itu baju!" pekik Gadis itu. Danu menoleh ke bawah, ia baru teringat kalau ia tadi melepas bajunya. Danu langsung memakai bajunya kembali lalu berjalan menghampiri Gadis itu, mengambil pakaian yang ada di tangan Rena. "Pakai aja dulu baju Bapak saya, semoga pas" Gadis itu tetel memejamkan matanya, tak berani menatap Pria yang berada di hadapannya itu. "Makasih ya, kamu boleh buka mata sekarang, saya sudah pakai baju kok" gumamnya. Mendengar itu, Rena langsung membuka matanya secara perlahan. "Kenapa? kamu takut tergoda ya?" godanya, mendengar itu Rena seketika menendang aset berharga milik Danu lalu pergi meninggalkan Pria itu tanpa rasa bersalah. "Awww... " Danu merintih kesakitan, ia jingkrak-jingkrak sambil memengang aset massa depannya "Akhhhhhhh!!" teriaknya menggelegar. Hahaha... rasain emang enak! Batin Rena saat menaiki anak tangga. Malam harinya, Danu keluar kamar hendak mencari kamar mandi. Pria itu berjalan dengan mengangkang seperti orang habis sunnat. "Kamar mandi di mana ya, Bu?" tanya Danu pada Bi Nanik yang sedang menyapu, sang Art. "Itu disana Den, Nak Danu kenapa? kok jalannya seperti itu" "Gapapa kok, Bu" ucapnya lalu pamit pergi menuju dapur, karena Kamar Mandinya berada tepat di samping Dapur. Danu melangkah secara perlahan menuju Dapur, Rena yang sedang minum di Dapur menatap ke arah Danu seketika Air yang ia teguk langsung menyembur keluar. Gadis itu tertawa terbahak-bahak "Hahahahaha, itu kenapa jalannya kayak gitu?" tanyanya tanpa rasa bersalah. "Awas ya kamu!" ancamnya lalu masuk kedalam Kamar Mandi. Drttt... Drttt... Gawai yang ada di genggaman Rena bergetar, terdapat panggilan masuk dari nomer tak di kenal. "Nomer siapa ini?" batinnya. Karena merasa tak mengenal nomer tersebut, Rena tak mengangkat panggilan tersebut. Beberapa saat kemudian hapenya kembali berdering, masih dengan nomer yang sama. Karena terus menelpon, Rena meletakkan gelas di atas meja makan, ia putuskan untuk mengangkat panggilan tersebut "Halo, Maaf ini sia---? "Mbak Rena, ini Tata Mbak," "Tata, ini kamu Ta? Kamu kamana aja? kok hilang enggak ada kabar" tanyanya. "Tanyanya nanti saja, aku enggak ada waktu banyak. Mbak lebih baik sekarang Mbak pindah dari tempat itu, tempat itu bahaya Mbak" jelasnya dengan suara ngosh-ngosh'an. "Tunggu, tempat apa yang kamu maksud?" "Kostan, Mbak lebih baik Mbak pindah deh dari Kostan itu terus pergi jauh-jauh, kalau perlu mending kembali ke kampung aja deh" "Kok kamu bilangnya gitu, emang kenapa? bahaya kenapa?" tanya Rena, ia tak habis fikir dengan apa yang Gadis itu ucapkan. Tut..tut..tut... Panggilan terputus. "Halo, halo, Ta?" Rena mengecek layar gawainya mati, ternyata dayanya habis ia baru sadar kalay ia lupa mengisi daya. Yah pakai mati segala lagi.. gumamnya dalam hati. "Siapa?" tanya Danu, saat setelah selesai mandi. "Owh ini temen Kost ku" jawab Rena lalu bergegas kembali ke kamar. "Tuh anak kenapa ya?" ucap Danu di sela menggosok-gosokkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Karena tak ingin ambil pusing, Danu putuskan kembali ke Kamar. Saat tengah malam Danu terbangun dari tidurnya karena perutnya terasa lapar. Danu keluar kamar lalu pergi menuju Dapur, membuka kulkas mencari sesuatu yang bisa ia makan. Salahkan karena dia tidak ikut makan malam sewaktu Rena mengajaknya, rasa kantuknya melibihi apapun. Setelah lama bergelut dengan alat Dapur, akhirnya masakannya sudah jadi. Buru-buru ia mengambil piring lalu menuangkan spaghetti di atasnya, aromanya harum, mampu menggugah selera. Kini Danu sudah duduk dengan sepiring Spagehetti di hadapannya. Mengambil sumpit yang sudah di sediakan di meja, tanpa menunggu lama ia langsung menyantapnya. Sementara itu di lantai atas, lampu Kamar Rena menyala. Gadis itu sepertinya tidak bisa tidur karena terus kepikiran tentang apa yang tadi sore Tata katakan, ia juga khawatir dengan Gadis itu. Rena sudah paksakan Berguling kesana kemari mencoba memejamkan mata, namun tak bisa. Karena frustasi, ia akhirnya memilih untuk turun ke bawah. Rena berjalan menuruni anak tangga, pergi menuju Dapur, membuka kulkas dan meminum air dingin yang ada di botol. Gleg, gleg, gleg.. begitulah suaranya. Danu berdehem, "Berusaha menggodaku heh!" Rena membulatkan kedua matanya, menatap dirinya sendiri. Lihatlah penampilannya sekarang ini, memakai Lingerie berwarna merah, rambut panjangnya yang di gelung asal terdapat anak rambut yang menjuntai memberikan kesan seksi. Patutlah Pria itu berbicara seperti itu. Rena membalikkan badan menghadap arah suara itu. Danu membelalakkan mata, mimpi apa ia tadi? melihat pemandangan yang sangat indah ini. Terkutuklah ia karena baru tersadar kalau di rumah ini ada seorang Pria. "Aaaaaaa" teriaknya lalu berlari meninggalkan tempat itu. Dengan cepat ia kembali ke kamar, menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang lalu mengurung dirinya di bawah selimut. Sementara itu Danu yang berada di Dapur, menghentikan acara makannya. Yang ada di otaknya sekarang adalah Gadis tadi. "Dasar Gadis nakal, dia pasti sengaja mengenakan pakaian itu untuk menggodaku. Andai saja dia tidak melarikan diri, sudah pasti habis sudah aku menggotongnya ke kamar. Menghabiskan sepanjang malam dengan gairah yang menggelora," "Akhhhh... ini membuatku gila! ingin rasanya aku menculiknya dan langsung menikahinya, akan ku keluarkan seluruh tenagaku, ku pastikan malam-malamnya menjadi malam yang tak pernah terlupakan baginya. Akh sepertinya aku harus segera menenangkan Danu junior, agar pikiran ini tak semakin menggila" Danu mencoba membuang fikiran kotornya itu namun tak bisa. Ia terus terbayang-bayang akan tubuh molek Gadis itu, fikirannya semakin kacau. Danu memutuskan untuk pergi menuju kamar mandi untuk menuntaskan semuanya. Beberapa menit kemudian, Danu keluar dari Kamar Mandi dengan perasaan lega. Ia menghampiri meja makan, membereskan semua kekacauan yang telah ia lakukan. Usai mencuci piring dan peralatan dapur lainnya, Danu lalu kembali ke Kamar, untuk melanjutkan tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN