Di teror

2250 Kata
Pagi ini Danu sudah siap dengan pakaiannya, pakaian milik Pak Sartono yang Bi Nanik berikan padanya. Melihat jam di dinding menunjukkan pukul 08.00 pagi. Ia segera bergegas keluar Kamar. "Ren, Rena" panggilnya sambil menatap ke lantai atas. Tak ada sahutan dari atas sana. Pria itu bertolak pinggang sambil terus menatap ke lantai atas. "Kemana sih tuh anak? kok jam segini belum juga nampak batang hidungnya, jangan-jangan tuh Anak masih molor lagi!" gumamnya seorang diri. Karena tak ada tanda-tanda Rena muncul, Danu putuskan untuk menyusul Rena di atas. Sesampainya di lantai atas, Danu bingung karena terdapat 2 Pintu Kamar, lalu yang mana Kamar Gadis itu. Bener enggak ya ini Kamarnya? batinnya lalu mencoba mengetuk pintu. Tok! Tok! Tok! "Ren? apa kamu di dalam?" tanyanya di depan pintu. "Ren, Rena buruan bangun, bukankah kita harus ke Rumah Sakit sekarang?" Karena tak juga mendapat sahutan dari dalam, Pria itu mulai merasa khawatir, jangan-jangan telah terjadi sesuatu pada Gadis itu. Danu mulai ancang-ancang mengeluarkan seluruh tenaga untuk mendobrak pintu yang menjadi penghalang, percobaan sekali gagal. Danu tidaklah menyerah, ia mencobanya lagi dengan kekuatan penuh. Saat yang kedua kalinya, tiba-tiba pintu terbuka sontak membuat Pria itu tersungkur di lantai dengan pose yang enggak banget. "Hoammm... Bapak ngapain disitu?" tanya Gadis itu dengan perasaan tak berdosa, hanya bertanya tanpa membantu Pria itu terlebih dahulu. Rasa sakit campur malu Danu telan mentah-mentah, dengan sekuat tenaga ia bangkit. Ia menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala Gadis itu lalu membuang nafas kasar. "Kamu baru bangun tidur?" tanya Danu, ia menatap tak percaya pada Gadis yang ada di hadapannya. Gadis yang masih mengenakan Piyama tidur, dengan tampilan rambut yang acak-acakan, dan jangan lupakan noda lipstik di sudut bibirnya. "Iyah, emangnya kenapa sih? ganggu orang tidur aja" jawab Rena sambil berjalan melewati Pria itu dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Danu memutar tubuhnya, dan menghampiri Gadis itu. Duduk di sisi ranjang, tanpa banyak bicara ia langsung mencubit pipi tembem Gadis itu karena gemas. "Awwwww sakit!" pekik Rena, bangkit dan duduk. Mengelus pipinya yang kini memerah. Merasa tak terima, Rena melempar bantal kearah Danu. Bugh!!! Bantal itu mengenai kepala Danu. "Beraninya kamu!" bentak Danu. "Beranilah, kan Bapak yang memulai duluan. Lagian kita kan sama-sama Manusia, sama-sama makan nasi, kenapa mesti takut? kecuali tuh Bapak makan orang, baru tuh saya takut" Awalnya Danu hendak marah, namun ekspresinya berubah. Pria itu tersenyum smirk. "Kata siapa saya enggak makan orang? saya bisa aja loh makan kamu" balasnyanya lalu mencondongkan badan mendekati Gadis itu. Melihat Ekspresi wajah Danu dan juga posisi mereka yang berdekatan membuat Rena ketakutan. "Eee... Tak-kan ku biarkan Pria s-sepertimu menyentuhku!" ucap Rena gelapan. Melihat Gadis yang kini berada di bawah kekuasaannya itu ketakutan, ia semakin ingin memberi hukuman pada Gadis itu. Danu menatap dalam-dalam wajah cantik Rena, tangan kekarnya mencoba menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Gadis itu dengan lemah lembut, ia lalu menarik tekuk Rena, dan mengecup bibir ranum Rena. Hanya mengecup tak lebih. "Anggap saja ini hukuman buatmu, Nona, karena sudah mengusik Singa yang tengah terlelap." ujarnya lalu kembali duduk. "Kalau saja tidak ingat jika kita harus ke Rumah Sakit sekarang, mungkin bisa ku pastikan kamu tidak bisa berjalan keesokan harinya" lanjutnya. Rena membelalakkan matanya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Betapa mengerikannya Pria yang ada di hadapannya ini. Ia juga baru teringat jika pagi ini ia dan Danu harus kembali ke Rumah Sakit. Danu bangkit dari duduknya, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. "Cepat mandi, dan bersiaplah... Aku tunggu di bawah" ujar Danu lalu bergegas keluar kamar. Rena menatap punggung Pria itu hingga tak terlihat lagi. *** Usai berbincang-bincang dengan Ibu, aku dan Bang Danu ijin pada Ibu untuk mencari makan diluar, karena perutku sudah lapar. Bang Danu mengajakku ke sebuah Restoran, aku sedikit ragu untuk ikut bersamanya. Namun karena perutku sudah amat lapar, jadilah kuturuti ajakannya. Jujur aku lebih suka makan diwarung lesehan pinggir jalan, biarpun keluargaku cukup mampu tapi dari kecil aku terbiasa serba sederhana. Kami berjalan beriringan, tak ada sesi berpegangan tangan. Jalan berdua dengannya saja sudah membuat seisi tempat ini heboh. Kami pun mencari tempat duduk yang kosong. Aku memilih duduk lesehan, karena menurutku itu adalah tempat paling nyaman saat makan. Aku terkejut saat melihat harga yang tertera dibuku menu, seketika nafsu makanku lenyap entah kemana. "Kenapa? Ada masalah" tanya Bang Danu keheranan. "Eh, enggak kok. Abang aja yang pesan aku enggak lapar," dustaku, bisa terkena kanker aku nanti. (Kantong Kering) maklum anak kuliah, belum bisa cari uang jadi harus hemat. "Katanya tadi lapar, kamu kan belum makan dari pagi. Kamu harus makan nanti kamu sakit, Abang enggak mau kamu sakit." "Tapi Bang, hmmm a-anu makanan disini mahal. Uangku mana cukup." ujarku. "Hahaha... Owh jadi karena itu, ya ampun Rena." aku meringis malu. "Pesan apa yang kamu mau, nanti Abang yang bayar" terangnya, mataku berbinar mendengar kata traktir hehehe... "Yang bener Bang? aku makannya banyak loh, Abang jangan nyesel nanti kalau uangnya habis." peringatku. "Hahaha.. jangankan neraktir kamu makan siang, jika kamu minta saya untuk menafkahimu saja akan saya sanggupi. lagian kalau uang habis kan bisa dicari lagi, sedang kesehatan itu lebih penting dari segalanya." Rena terharu mendengar penuturan Pria itu, tak lama sang Pelayan datang. "Oke deh Bang, aku pesan Chicken steak saus enoki, Selat Solo, minumnya Macchiato dan Es Dawet Telasih." ujarku pada Pelayan pria itu. "Aku Beef steak black pepper sauce, Selat Solo, dan minumnya Mocktail." setelah mencatat apa saja yang di pesan, sang Pelayan meminta kami untuk menunggu, ia lalu pamit undur diri. Sambil menunggu pesanan datang, Bang Danu ijin ketoilet. Aku pun menunggu disini sendiri, untuk menghilangkan rasa bosan aku memilih membuka Hpku, disana terpampang beberapa pesan dari teman sekampusku, yang menanyakan kenapa aku tak masuk. Saat ingin berbalas pesan datanglah Pelayan dengan membawa pesanan kami. Menaruh semua makanan diatas meja, ku ucap terima kasih pada sang Pelayan. "Terima Kasih" "Sama-sama Kak, Kak nama i********: nya apa?" "Buat apa ya Mas?" tanyaku. "Pengen kenalan boleh kan Kak?" ujarnya tersenyum, menampilkan lesung pipinya. "Enggak!!" bukan aku yang jawab, tapi Pria yang baru datang yang tak lain adalah Bang Danu. Danu melangkah mendekatiku, merangkul pundakku sambil memamerkan senyum lebar. "Jangan coba-coba dekati Wanita saya, saya tidak akan biarkan Pria manapun mendekati Wanita saya" ujar Bang Danu. Setelah meminta maaf, sang Pelayan Pria itu pun pergi setelah mendengar perkataaan Bang Danu. Setelah kepergian Pelayan itu, Kami berdua saling terdiam, tiba-tiba perutku bunyi, seketika pipiku merah merona menahan malu. "Yaudah ayoo kita makan" Ajak Bang Danu, aku mengangguk. Aku pun dengan segera melepas rangkulan Danu, lalu ambil posisi berhadap-hadapan, Kami pun makan dalam diam, hingga tandas. Saat menyantap makanan, seleraku hilang, karena sedari tadi ada yang tengah mengawasi gerak-gerikku. Aku risi karena orang-orang sekitar menatapku dengan tatapan yang tak dapat kuartikan. Apalagi teriakan histeris dari para cewek-cewek centil yang dilontarkan untuk pria disampingku, bukan karena aku cemburu melainkan aku muak dengan tatapan memuja yang mereka tunjukan. Bahkan ada yang secara terang-terangan mencoba menggoda Bang Danu, memamerkan lekukan tubuh dengan baju kurang bahan yang mereka pakai. Cihhh murahan sekali. Usai makan, Bang Danu bergegas kekasir untuk membayarnya. Sedang aku, aku sudah enggak tahan berada disini. Saat melewati para cewek-cewek Abg, yang kutebak mereka masih duduk di bangku SMA itu, mereka mencoba menyindir. "Aku rasa sih yah, dia itu main dukun. Mana ada Pria setampan dia mau sama Wanita modelan kayak dia. Cantikan juga aku kemana-kemana ya gak sih?" celetuk salah satu dari mereka. "Iyah ih, gila ya dukunnya kuat banget itu pasti. Gue sih yakin, kalau lu yang deketin tuh cowok enggak perlu pakai dukun juga udah pasti klepek-klepek sama lu" ujarnya memuji temannya. Ku abaikan lontaran-lontaran mereka kepadaku lalu segera pergi dari sana, percuma juga berurusan dengan orang seperti mereka-mereka ini, lebih baik aku ke Parkiran saja, menunggu di dalam mobil. Pandanganku terganggu akan sebuah surat di depan kaca mobil Bang Danu. Karena penasaran, akhirnya kuputuskan untuk turun dari mobil untuk mengambilnya lalu kembali masuk kedalam mobil, awalnya aku ragu untuk membukanya, namun karena rasa penasaran yang bergejolak, akhirnya kuputuskan untuk membukanya lalu k****a. Bukan diputar, dijilat terus dicelupin loh ya, ini surat bukan Oreo. (Akhirnya aku menemukanmu, sejauh apapun kamu pergi aku akan tetap mengejarmu!) begitulah kira-kira isi pesannya. Aku terkejut saat menyadari kalau ternyata tulisannya menggunakan cairan berwarna merah. Siapakah gerangan yang telah menaruh ini disini, dan apa maksudnya? Aku terkejut seketika, ketika tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobil. Deg,.. Seketika aku menoleh kearah kaca, alhamdulillah ternyata itu Bang Danu. "Abang, bikin kaget aja" gumamku saat setelah menurunkan kaca mobil. "Maaf, habis kamu serius banget kayaknya sampai Abang panggil dari tadi enggak jawab. Itu apa?" tunjuknya pada kertas yang aku pegang, aku pun memberikan surat itu padanya. "Aku nemuin di kaca depan mobilmu Bang, enggak tahu siapa yang naruh" "Apa ini?" tanyanya. "Baca aja." Ujarku, ia pun mulai membacanya. "Paling cuma orang iseng aja" di buangnya surat yang ada di tangannya itu, lalu berjalan memutari mobil. Mengambil ahli kemudi. "Udah yuk kita pulang, ini Abang bawain makanan buat Bapak sama Ibu dan Ratna" unjuknya pada plastik kresek ditangannya lalu di berikannya pada Rena. "Makasih ya Bang, Abang baik banget sama Rena dan Keluarga Rena" "Enggak perlu bilang makasih, saya udah anggap Keluargamu seperti Keluarha saya sendiri, Nanti gapapa kan mampir dulu ke tukang buah. Buat Ibu sama Ratna." "Iyah Bang." Setelah membayar parkir, Mobil yang kami tumpangi meninggalkan area parkir menuju Jalan Raya. Aku benci keheningan, akhirnya ku putar radio menampilkan lagu Jhon Legend yang berjudul "All Of Me" itu adalah lagu kesukaanku. Aku dan Bang Danu bersenandung mengikuti lyrik lagu. Hingga mobil berhenti didepan tukang jual buah. Bang Danu pun turun, tak butuh waktu lama Bang Danu kembali dengan membawa Dua Parsel buah. Kami pun melanjutkan perjalanan pulang menuju Rumah Sakit. Tak butuh waktu lama kami pun sampai di Rumah Sakit,. Aku dan Bang Danu berjalan menuju ruangan dimana Ibu dan Ratna dirawat. Sesampainya disana Bang Danu memberikan bingkisan kepada Bapak. Menyuruh Bapak untuk makan, Bapak pun dengan senang hati menerimanya. "Terima kasih ya calon Mantu" begitulah kira-kira yang diucapkan oleh Bapak, aku mendelik lalu pergi menemui Ibu, kuhiraukan mereka berdua. sesampainya diruangan, aku menaruh Satu parsel buah di atas nakas, kulihat Ibu sedang terlelap ya sudah akhirnya aku bergegas keluar untuk menemui Ratna diruangan sebelah. Kubuka pintu, lalu masuk dan kembali menutupnya. Kutaruh Satu parsel buah di atas nakas lalu menarik kursi duduk disamping ranjang pasien dimana Ratna terlelap. Ku tatap Wajah pucat dan bibir yang mengering. Ratna pun mengerjapkan mata, ia terkejut saat melihatku. "Siapa kamu? Pergi kamu? Kumohon jangan mendekat, jangan lakukan itu lagi. Lebih baik kau bunuh saja aku." teriaknya. Sambil melemparkan bantal padaku. Aku mundur alon-alon.. "Ratna, ini Mbak. Kamu kenapa Ratna, kumohon jangan takut. Ini Mbak" "Siapa kamu? menyingkirlah dariku!" teriaknya ketakutan. "Ini Mbak, Ratna" "Mbak Rena?" tanya Ratna mencoba meyakinkan. "Iyah, Ratna, ini Mbak" "Maafin Ratna Mbak. Rena pikir Mbak adalah orang yang itu." hiks..hiks..hiks "Ratna takut Mbak" "Ratna jangan takut, sekarang kamu sudah aman. Kamu tenang ya, ada Mbak disini" ujarku lalu perlahan melangkah mendekatinya, memeluk tubuh Mungilnya. Perlahan setetes air mata ini mengalir membasahi pipi. "Malang benar nasibmu, Dek." gumamku dalam hati. "Mbak, Mbak nangis?" "Ehhh, enggak kok Mbak enggak nangis, mata Mbak tadi kelilipan." elakku lalu menyeka air mata yang stay dipipi. "Ratna, maafin Mbak ya, karena Mbak enggak bisa jagain kamu. Maafin Mbak" lirihku. "Mbak enggak usah minta maaf, aku yang bodoh. Coba aja waktu itu Ratna tak menyusul Mbak ke Bandung dan pergi Ke kost-kostan Bulek Anik. Mungkin kejadian itu enggak akan pernah terjadi." Deg, "Maksud kamu apa?" "Jadi gini Mbak, Waktu itu pas sehari sebelum Ulang Tahunku. Aku pergi ke Bandung, untuk menemui Mbak. Aku sengaja enggak kabarin mbak, karena aku ingin memberi kejutan buat Mbak. Namun sampai sana Mbak enggak ada, dan.. dan--" hiks hiks hisk.. Aku terkejut mendengarnya, "Jadi maksud kamu, kejadian itu terjadi dikost-kostan Bulek Anik?" tanyaku, Ratna mengangguk. "Ratna jawab jujur pertanyaan Mbak, siapa yang telah melakukan ini kekamu?" tanyaku, Ratna hanya bisa menangis. Aku pun memeluknya, mencoba menenangkannya. "Maafin Mbak ya, Mbak enggak bermaksud memarahimu, nanti kalau kamu udah siap, mau kan cerita sama Mbak?" Ratna mengangguk. Aku bergulat dalam pikiranku, menerka-nerka siapa orang yang telah melakukan hal sebejat ini pada Adikku. Seketika aku teringat akan kejadian waktu itu, Mungkinkah orang itu adalah orang yang sama, yaitu orang yang hampir saja memper**osaku yang tak lain adalah Pakle Heru? Drttt.. Drttt.. Drttt.. bunyi Hpku, pertanda ada panggilan masuk. "Bentar ya Dek, Mbak angkat telpon dulu." ujarku, lalu melepas pelukan. Sedikit menjauh dari Ratna, terpampang nomer tak dikenal, aku pun mengangkat panggilan itu. Panggilan terhubung. "Hallo Mbak, Mbak ini Tata. Mbak kamu dimana?" "Mbak pulang ke Solo Ta, Ibu dan Adik Mbak masuk Rumah Sakit." "Mbak kesana sama siapa?" "Sama Pak Danu." "Gawat Mbak, sepertinya orang itu sudah tau dimana Mbak berada. Mbak sebaiknya hati-hati, seseorang sedang mengincar Mbak. Mbak, pokoknya Mbak sebaiknya terus berada didekat Pak Danu. Kalau boleh tau kapan Mbak pulang ke Bandung?" "Kayaknya Dua hari lagi Mbak pulang, emang kenapa?" "Sebaiknya Mbak jangan dulu pulang, seminggu atau sebulan di sana juga gapapa, asal jangan dulu pulang deh" "Mana bisa, Mbak kan mesti Kuliah juga" "Kalau begitu, jika di rasa kurang aman, sebaiknya Mbak di sana saja dahulu, Aku rasa orang itu menunggu kepulangan Mbak, "Dari tadi kamu bilang orang itu-orang itu, emang siapa orang yang kamu maksud? Siapa yang kamu maksud Ta?, sebenarnya kamu ada dimana sih Ta?" "Maaf Mbak, aku enggak bisa kasih tau sekarang. Nanti aku kabari lagi. Pokoknya Mbak harus hati-hati, dan ingat pesanku tadi!" "Iyah, kamu juga hati-hati Ta." "Iyah Mbak yaudah kalau gitu aku matiin ya teleponnya. Nanti ku kabarin lagi" "Iyah." Panggilan pun terputus..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN