Siapa Sosok Berjubah Hitam Itu?

1836 Kata
Setelah mendapat kabar dari Bapaknya, Rena langsung mengambil barang-barangnya lalu di masukkan ke dalam tas. Gadis itu lalu keluar kamar tak lupa mengunci pintu, ia bergegas turun untuk menemui Bulek Anik. Tak jauh dari ia berada, Rena melihat Bulek Anik berada di halaman rumah sambil menjemur pakaian. Rena langsung pergi menghampirinya. "Eh Rena, ada apa?" Anik menghentikan aksi menjemur pakainannya. "Bulek, Rena ijin pamit mau pulang Ke solo. Ini kunci kamar Rena," ujarnya lalu menyodorkan kunci kamar Kostnya. Anik menerima kunci yang Rena berikan. "Pulang ke Solo? kok mendadak sekali, ada apa sayang?" tanya Anik. "Rena dapat kabar dari Bapak, kalau Ibu masuk Rumah Sakit lagi, Bulek" jelasnya. "Terus kamu mau pulang naik apa? maaf ya Bulek enggak bisa antar kamu. Mobil Pakle mu lagi masuk bengkel" "Gapapa kok Bulek, lagian aku sudah pesan tiket pesawat kok, akan memakan waktu kalau naik Bus. Kalau gitu aku pamit dulu ya, Bulek." "Owh yaudah kalau gitu, hati-hati ya" ujar Anik. Rena berjalan menuju pagar, di depan pagar sudah ada mobil yang terparkir di sana. Mobil berwarna putih milik Danu. Danu sengaja menunggu di sana, karena ingin bertemu dengan Gadis itu. Ketika melihat Rena keluar Danu langsung bergegas turun dari dalam mobil. "Rena? kamu mau kemana kok rapih banget?" tanya Danu. "Bapak? Bapak ngapain ada di sini?" bukannya menjawab pertanyaan Danu, Rena malah balik bertanya. "Saya sengaja kesini, pengen ketemu kamu. Kamu mau kemana? kok rapih banget?" "Saya mau pulang kampung, baru saja dapat kabar kalau Ibu saya masuk Rumah Sakit" "Kalau gitu naik mobil saya saja, biar saya antar sampai sana" "Enggak usah Pak, makasih untuk tawarannya, saya sudah pesan tiket pesawat kok" "Kalau begitu ijin kan saya untuk ikut menemani kamu" ** Gadis berambut panjang yang tak lain adalah Rena Maulida, sedang menangis dengan tatapan kosong kearah jalanan. Siapa orang itu yang tega melakukan hal sekotor itu pada adiknya, dan yang lebih terpuruknya lagi kabar bahwa Adik dan Ibunya sedang terbaring di Rumah Sakit. Sedang Pria yang berada disampingnya ikut merasakan kesedihan yang di alami gadis itu. Kini mereka sudah berada di dalam pesawat. "Hapus air matamu, saya rapuh ketika melihatmu seperti ini. Kemana gadis yang Abang kenal yang selalu tersenyum" gumamnya, gadis itu pun mulai menampakan senyumannya. Danu lalu menyadarkan gadis itu di bahunya, memberikan kenyamanan disana. "Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Saya yakin, Ibu mertua pasti akan kembali sehat setelah melihat Anak Gadisnya pulang membawa calon mantu untuknya" ujar Pria itu. Ibu Mertua? Calon Mantu? omongan macam apa itu! batin Rena. Mendengan ucapan Pria itu, Rena langsung mencubit perut Danu. Pria itu merintih kesakitan. "Akhhh!! sakit Ren, kok kamu cubit saya sih" rintihnya. "Ya habis ngomongnya ngelantur" Tak terasa kini mereka telah sampai di bandara Solo. Danu dan Rena kini naik Taxi untuk menuju Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit, Rena dan Danu turun dari mobil berjalan menelusuri lorong-lorong Rumah Sakit, mencari ruangan dimana Adiknya dirawat. Kini mereka pun sampai di depan ruangan yang dimaksud. Pintu di buka, tampak dari luar seorang pria paruh baya tengah duduk di kursi yang telah di sediakan di samping gadis yang terkulai tak berdaya di ranjang. Tanpa menunggu waktu lama, Rena pun masuk keruangan dimana Adiknya dirawat. Rena berhambur ke dalam pelukan sang Bapak. "Bapak" Rena jatuh ke dalam pelukan Pria itu, Danu yang menyaksikan kedekatan antara Anak dan Bapak merasa iri. Seumur hidupnya ia belum pernah merasakan kasih sayang seorang Bapak, sejak kecil Papahnya terlalu sibuk mencari uang sehingga tak ada waktu untuk Anak-Anaknya. "Rena, akhirnya kamu datang juga, Nak. Kalau kamu pulang, lalu gimana dengan Kuliah kamu, Nak?" "Bapak tenang saja, untuk masalah itu sudah saja urus" ucap Danu, Sartono melepas pelukannya, menoleh kearah Pria muda itu. "Kamu kesini sama siapa, Nak? dia siapa? Pacar kamu? kamu ini gimana sih kok enggak di kenalin ke Bapak" tanyanya, Rena menggelengkan kepala. "Bukan kok Pak, kenalin ini Pak Danu. Dosen Rena" "Hallo Pak.. saya Danu, Dosennya Rena" ujar Danu memperkenalkan diri lalu mencium punggung tangan Sartono. "Owh Dosen, Bapak kirain ini Calon Mantu Bapak" "Bapak apa-apaan sih" Rena melipat kedua tangannya di d**a. "Mari silahkan duduk Nak, sebelumnya saya ucapkan banyak Terima Kasih karena Nak Danu sudah mengijinkan Anak saya pulang dan menemaninya" Sartono menggubris Rena, ia merangkul pundak Danu dan mempersilahkan untuk duduk. "Tidak perlu berterima-kasih Pak, ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai Dosennya Rena" "Baiklah kalau begitu" "Pak, kok Rena di cuekin sih! kenapa cuma Pak Danu yang Bapak ajak duduk? Rena enggak?" menatap tak suka karena Sartono malah mencuekinya dan malah mengajak Danu untuk duduk. "Kamu mau duduk ya duduk aja, kenapa harus nunggu aba-aba dari Bapak" "Ikhhh Bapak, yang Anak Bapak itu kan Rena bukan Dia" unjuknya pada Pria yang berada di samping Sartono. Danu tertawa kecil melihat tingkah laku Siswanya itu. "Ku kira dia Gadis yang mandiri, ternyata dia juga bisa menjadi Gadis yang manja di sisi Ayahnya. Lucu deh lihat dia di mode begini, jadi pengen cium"  gumam Danu dalam hati. Rena duduk di samping Sartono, kini Sartono di apit di sisi kiri dan kanan. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ratna, Pak? Bagaimana bisa Ratna jadi seperti ini?" tanya Gadis itu. "Setelah kejadian itu, Adikmu mengurung diri di kamar. Setelah Bapak pulang dari Rumah Sakit, katanya Bi Tatik mendengar suara cermin pecah dari dalam kamar Ratna. Bi Tatik ingin membuka pintu cuma gk bisa karena pintunya dikunci dari dalam. Bapak langsung saja mendobrak pintu dan mendapati Ratna telah terkapar dengan bersimbah darah dilengannya, sepertinya Ratna ingin mengakhiri hidupnya, Ren. Untunglah Dokter segera menanganinya" (Bi Tatik adalah Art di rumah Rena) "Bapak tenang, ada Rena disini. Rena yakin Ibu sama Ratna pasti akan sembuh dan berkumpul kembali bersama kita" ujar Rena lalu melihat ke arah gadis yang tengah terbaring di atas ranjang dengan mata tertutup dan satu pergelangan tangan yang di perban dari jendela "Pak, dimana ruangan ibu? Aku mau ketemu Ibu." "Ibumu ada diruangan sebelah, Bapak yang meminta pada pihak Rumah Sakit Ruangan untuk Adikmu di sebelah Ruangan Ibu. Agar Bapak lebih mudah menjaga keduanya" "Baiklah Pak, kalau gitu aku ijin keruangan Ibu dulu ya" "Iyah Nak." Rena dan Danu bergegas keruangan dimana Ibunya Rena berada. Mereka berdua pun masuk dan mendekati sesesok Wanita paruh baya yang tengah berbaring dengan selang impus yang menancap ditangan. Bau obat-obatan menyeruak keindra penciuman. Pov Rena Maulida "I-Ibu" ujarnya, lalu duduk di kursi di samping ranjang. "Ini Rena datang Bu, Ibu bangun ya.." Wanita paruh baya itu perlahan membuka mata, menampilkan mata hitam kelamnya. "Re-na" "Iyah Ibu ini Rena" Tok! Tok! Tok! Suara pintu di ketuk. Seorang perawat datang membawakan makan siang untuk Pasien. "Permisi maaf mengganggu, saya kesini cuma ingin mengantarkan ini. Waktunya Pasien Makan siang" "Baik Sus, Taruh saja disitu biar saya yang nyuapin" "Baiklah, kalau begitu selesai makan obatnya jangan lupa di minum ya Bu. Saya permisi kalau gitu" "Iyah pasti, Terima Kasih Sus" "Ibu makan ya habis itu minum obat" Danu membantunya membenarkan posisi Kartika menyandarkan pada kepala ranjang. "Ibu gk mau makan!" "Kalau Ibu gk makan gimana mau sembuh, Ibu sayang kan sama Rena. Kalau Ibu sayang sama Rena Ibu harus makan" Kartika pun akhirnya manggut-manggut, di ambil semangkuk bubur yang ada di atas nakas, lalu mulai menyuapin Ibu dengan telaten hingga habis setengah. "Udah Ren" Aku pun menaruh kembali Mangkuk itu dinakas. "Yaudah kalau gitu Ibu minum obat dulu ya, biar Ibu cepet sembuh." Ujarku lalu memberikan obat padanya, Ibu pun menelannya. Ku beri segelas air putih untuknya minum. Ibu pun meminumnya hingga tandas. "Bapakmu mana Ren?" "Bapak ada diruangan Ratna, Bu. Ibu mau ketemu Bapak? Biar aku panggilin," "Gk usah. Ren, Kamu udah ketemu Ratna? Gimana keadaan Ratna?" "Udah Bu, Ratna Baik-baik aja. Makanya Ibu cepet sembuh biar kita bisa kumpul bareng lagi kayak dulu" "Iyah. Rena, ini siapa? Kok enggak di kenalin sama Ibu." tunjuk Ibu pada Pria disampingku. "Owh ini, kenalin ini Bang Danu, Dosen Rena. Bang Danu yang udah antar Rena pulang" "Saya Danu, Bu. Ibu cepet sembuh yaa" "Makasih nak Danu, udah antar anak saya pulang" "Iyah Bu" "Nak Danu ada hubungan apa sama Rena? Gk mungkin dong sang Dosen mau sedekat ini dengan Mahasiswinya kalau bukan karena ada rasa ketertarikan" "Kami hanya teman Bu" "Sayang sekali cuma teman, kenapa gk pacaran aja." "Pengennya sih gitu Bu, Ibu doain ya semoga Rena mau membuka hatinya untuk saya" "Ibu Restuin" "Ikh, Ibu ini apaan sih! Rena belum kepikiran tentang itu, Rena mau fokus Kuliah, jadi Orang Sukses, bahagiain Ibu sama Bapak. Rena mau kejar Cita-cita Rena. Ibu dan Pak Danu tersenyum mendengar penuturan Rena. "Loh kenapa? Ibu lihat kalian ini cocok loh, Ibu bakal Restuin kalian berdua. Di lain waktu dan tempat... Seorang gadis tengah berjalan kaki untuk pulang kerumah usai pulang kerja. Namun entah kenapa jalanan malam ini sepi sekali tak seperti biasanya. Padahal baru jam 10 malam. Karena merasa ada yang mengikutinya, Gadis itu pun menengok kebelakang, tapi tak ada yang mencurigakan, Gadis itu pun memutuskan berjalan kembali namun kali ini sedikit tergesa-gesa. hingga akhirnya tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dari belakang, Gadis itu pun tak sadarkan diri. Seorang berjubah hitam membawanya masuk ke dalam mobil lalu dibawa ke suatu tempat, keruangan yang begitu minim pencahayaan. "Tunggulah disitu, aku akan kembali tepat jam 12 malam nanti.. Kita akan bersenang-senang. Inilah akibatnya karena telah membantu melepaskan umpanku. Maka kamu harus rasakan akibatnya, kamu akan menjadi targetku selanjutnya. Hahahaha" Sarkasnya. Seorang berjubah hitam itu pun mengunci pintu ruangan itu lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan itu. Beberapa jam kemudian.. Tepatnya jam 12 malam, Seorang berjubah hitam itu beneran datang. Memasuki suatu ruangan dimana Gadis itu disekap. Pintu itu pun dikuncinya kembali. Berbekal Pisau dan Beberapa benda tajam lainnya, mendekati Gadis yang tengah duduk dengan keadaan diikat. "Hey, Bangun cantik..." ujarnya, Gadis itu pun mengerjapkan mata. Seorang Berjubah hitam itu tersenyum penuh tanda tanya. "Akhh!" Lirih Gadis itu karena kepalanya masih merasakan pusing, mungkin efek obat bius. "A-aku ada dimana?" tanyanya, Gadis itu masih belum menyadari keberadaan Seorang berjubah hitam itu. "Kamu ada disini, bersamaku. Hanya kita berdua." "Si-siapa kamu?" "Kenalin aku adalah Malaikat pencabut nyawamu, Hehehe." ujarnya lalu membuka topeng penutup wajahnya, lalu tertawa layaknya p*****l-p*****l. "Kamu, Enggak, Enggak Mungkin. Jadi selama ini andalah dibalik semua ini. Aku gk nyangka, orang yang selama ini aku anggap baik ternyata.." "Di dunia ini enggak ada yang enggak mungkin, termasuk membunuhmu. Hahahaha... Kebaikan ku selama ini hanyalah kedokku." "Lepaskan aku!!!!" "Enggak akan, kasih tau dimana keberadaan Gadis itu?" "Aku enggak tau," "Jangan bohong!!! Aku tau kamu yang berusaha membantunya. Katakan dimana dia?" "Aku gk akan beritahu." "Kurang ajar!! Aku bunuh kamu!" "Bunuh saja aku, aku gk takut!" "Sekali lagi aku tanya dimana Gadis itu?" "Enggak akan aku kasih tau sekalipun kamu ingin membunuhku. Cuihhhh.." Gadis itu pun mencudahi wajah sang Berjubah hitam itu. Auto seorang Berjubah hitam itu pun murka dan langsung menancapkan sebuah benda pada tubuh Gadis itu lalu mencabutnya dengan paksa. Darah mengalir.. Sijubah hitam itu lalu menjilat darah itu. "Akhhhhhhhhh... Manusia Laknat kau, dasar bi-adap." teriaknya. "Hahahahahaha.. berteriaklah sepuasmu, kamu benar nyatanya emang aku ini bi-adap. Aku menikmatinya" "Rasakan ini..." Njlep.... Suatu benda tajam ditancapkan menggorok leher Gadis itu. Darah segar muncrat membasahi baju si Jubah hitam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN