Kabar Buruk

1256 Kata
Rena berlari menelusuri koridor Kampus, pagi ini ia bangun kesiangan sehingga ia telat datang ke Kampus Brak! Karena terlalu terburu-buru, Rena sampai menabrak seseorang. Ia mencoba membantu mengambilkan buku-buku yang berjatuhan di lantai. "Maaf, saya enggak sengaja. Kamu gapapakan? maaf saya buru-buru" gumamnya lalu mengembalikan buku-buku tersebut, orang itu menganggukkan kepala, Rena lalu pergi meninggalkan orang tersebut seorang diri. Sesampainya di depan kelas, Rena mengetuk pintu. "Permisi, Pak boleh saya masuk?" "Telat lagi! saya tidak mentolerir orang yang telat, jadi saya akan berikan kamu hukuman. Untuk sekarang duduklah dan keluarkan buku kamu" Danu mempersilahkan ia untuk duduk. Danu memengang kaca matanya, mempertajam pandangan ke arah satu titik yaitu Rena. "Terima Kasih Pak" jawabnya lalu bergegas duduk. Danu mulai menyampaikan materi-materi dengan jelas, ketika Siswa yang lainnya tengah fokus mendengarkan penjelasan Danu. Rena justru sibuk dengan tasnya sehingga tak sengaja menjatuhkan pulpen, Gadis itu mencoba mencari laptop miliknya namun tak ada. Efek bangun kesiangan sehingga ia lupa membawa laptop. Pletak! Danu menoleh ke arah sumber suara. "Hei kamu yang di sana!" teriak Danu sambil menunjuk ke arah Rena. "Iyah Pak?" tanyanya dengan perasaan takut. "Kamu kenapa? dari tadi saya perhatikan kok enggak bisa diem," tanyanya. "Maaf Pak, saya lupa bawa laptop" ujar Rena. "Alah dasar cewek caper" seru seorang Gadis yang berada tak jauh dari tempat ia berada. "Diam kamu! saya tidak bicara sama kamu!" gertak Danu pada Siswa yang bernama Mely Danu berjalan menuju meja kerjanya, mengambil laptop miliknya lalu menghampiri Rena. "Kalau gitu ini Pakai saja punya saya," ucap Danu usai memberikan laptop miliknya pada Rena. "Makasih Pak" Pria itu membukkukan badannya mengambil pulpen yang terjatuh di lantai lalu di berikannya kepada Rena. "Maka-" Rena hendak berucap Terima Kasih, namun ucapannya terhenti. "Bilang Terima Kasihnya nanti saja saat di ruangan saya" bisik Danu lalu kembali mencoba menerangkan materi kepada Siswanya. Mendengar ucapan itu seketika Gadis itu berpikir keras. Apa maksudnya? Tibalah bel sekolah berbunyi, Danu yang sedang menyalurkan teori dengan terpaksa menutup perjumpaannya hari ini. Usai beberes memasukkan barang miliknya ke dalam tas, Rena bangkit dari duduknya lalu mengembalikan laptop Danu, Danu langsung pamit pergi. "Temui saya di ruangan usai pulang" Rena menganggukkan kepala. ** Dilain tempat, diruangan yang begitu gelap minim penerangan. seseorang sedang merencanakan sesuatu. Hidup ini memang musterius, ada masa dimana kita harus merasakan sedih dan bahagia dalam waktu yang hampir bersamaan. Di kala senang, terkadang ada suatu hal yang membuat kita tiba-tiba merasa sedih, begitu juga sebaliknya. Aku hanya bisa tersenyum pahit, melihat takdir bermain. Rasanya aku tak ingin bangun, Aku merasa jauh lebih baik saat tidur. Dan itu sangat menyedihkan. Andai tuhan berkenan untukku memutar balikkan waktu, aku ingin kembali kekehidupanku yang dulu. Andai aku tak ketempat itu, mungkin aku tak akan menjadi seperti ini. Kini hidupku sudah hancur, aku tak tau lagi harus bagaimana. Kejadian waktu itu membuatku sangat terpuruk. Ingatanku tentang kejadian waktu itu terus berputar diotakku, seolah-olah itu adalah rekaman yang sewaktu-waktu bisa diputar. Ini semua mungkin tidak akan terjadi jika aku tak datang ke Kostan itu tanpa sepengetahuan Mbak Rena, niatnya aku ingin membuat kejutan untuknya. Kilatan kejadian waktu itu teringat kembali di benak Ratna. Cerita bermula saat ia melakukan perjalanan jarak jauh dari Solo menuju ke Bandung, ia berencana menemui Kakaknya yang sedang Kuliah di Bandung. "Mbak Rena pasti senang lihat aku datang" batinnya. Gadis itu hanya melirik layar ponsel miliknya yang terdapat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Ibu dan Bapaknya. Sepertinya Gadis itu tidak pamit ijin terlebihdahulu kepada Orang Tuanya, sehingga Kedua Orang Tuanya terus mencarinya. "Akhhhhhhhhh!" "Aku benci! Aku benci orang itu!!! Aku benci semua ini! Aku benci hidupku yang sekarang, semuanya hancur sudah. Enggak ada gunanya lagi aku hidup, lebih baik aku mati!" kulempar kunci motorku kearah cermin dengan kerasnya. Seketika cermin itu pecah. Pyarrrrrr.. Aku pun turun dari ranjang lalu menghampiri di mana pecahan cermin itu berada. Aku mengambil potongan cermin yang bentuknya runcing lalu ku goreskan kepergelangan tangan, darah mengalir begitu derasnya. "Akhhh!" Bahkan rasa sakit ini tak sebanding dengan apa yang telah aku alami. Kepalaku di landa pusing, perlahan pandanganku mulai redup, samar-samar kulihat pintu dibuka, menampilkan seseorang disana dan langsung berlari kearahku. Disisa-sisa kesadaranku aku mendengar suara seseorang memanggil namaku. "Ratna bangun.. Ratna bangun nak, kenapa kamu jadi seperti ini, Bapak mohon jangan tinggalkan Bapak dan Ibu." "Ratna kamu harus bertahan, Bapak akan bawa kamu kerumah sakit. Bertahanlah Nak". Rasa sakit yang tak bisa aku tahan lagi membuatku menutupkan mata. Aku pun tak sadarkan diri, entah apa terjadi selanjutnya. Pria paruh baya berlari menggendong ala bridal style putri kesayangannya, membawa tubuh yang sudah tak berdaya menelusuri lorong-lorong Rumah Sakit. "Suster.. Susterr" Teriaknya, sang Perawat pun datang dengan membawa brankar, lalu membawa tubuh tak berdaya itu keruangan UGD. "Mohon Maaf Pak, Bapak tidak boleh masuk. Mohon tunggu diluar. Biar dokter menanganinya," ujar seorang Perawat. "Baiklah Suster, saya mohon lakukan yang terbaik." Sang Suster mengangguk lalu masuk kedalam ruangan itu. Pintu pun ditutup. Sartono terduduk lemas di kursi tunggu, ia tak tau lagi harus berbuat apa. Ia hanya berdoa semoga Ratna baik-baik saja. Orang tua mana yang tak khawatir dengan anaknya, orang tua mana yang hanya diam saja sedangkan anaknya sedang tak baik-baik saja. Perasaan gelisah, takut kehilangan itulah yang dirasakan seorang Sartono Adiningrat. Air matanya perlahan mengalir membasahi pipi. Istri yang dicintainya kini tengah berbaring di Rumah Sakit yang sama dengan putrinya. Ia berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja, semoga Istri dan Anaknya akan kembali dalam pelukannya. Berkumpul bersama seperti dulu. Andai ia bisa, ia ingin menggantikan posisi sang Istri dan Anaknya. Biarlah ia yang merasakan sakit, Sartono rela berkorban demi orang yang dicintainya. Pria paruh baya itu pun merogoh saku celananya, terdapat panggilan masuk. Terpampang nama sang Putri pertamanya. "Apa yang harus ku katakan pada Putriku? aku tak yakin dia akan baik-baik saja setelah mengetahui Adiknya dan Ibunya masuk Rumah Sakit. Aku harus bagaimana ya Tuhan?" gumamnya dengan pandangan menatap langit-langit atap Rumah Sakit. [Assallammualaikum Pak, ada apa Pak?] [Waallaikumsalam Ren, Rena Adik kamu Ratna, Ren] [Ada apa Pak, Ratna kenapa Pak?] [Pak, Bapak kok nangis? Ada apa Pak?] [Ratna, Ren. Hiks.. hiks.. ] Sartono tak kuasa menahan tangis. [Pak, Bapak kok nangis?] [Tadi Bapak temuin adikmu di kamarnya dalam keadaan tak sadarkan diri dengan luka goresan di tangannya, sepertinya ia mencoba bunuh diri, Ren. Sekarang Ratna sedang ditangani oleh dokter. Adikmu kekurangan banyak darah, Bapak takut Ratna pergi ninggalin kita. Apa yang sebenarnya terjadi pada Putri Bapak, Ren. Kenapa Ratna melakukan ini? Ibu mu juga terbaring di Rumah Sakit, karena penyakitnya kambuh lagi. Bapak merasa enggak berguna buat kalian] [Astagfirullah, Bapak jangan bilang seperti itu, Rena yakin Ratna pasti akan baik-baik aja dan Rena Yakin Ibu juga bakal sembuh. Kita berdoa aja yang terbaik untuk mereka, sekarang Bapak tenang ya... terus sekarang keaadaan Ratna bagaimana? Kirimin alamat Rumah Sakitnya Pak, Rena akan kesana temenin Bapak] [iyah Ren, nanti Bapak kirimkan alamatnya] [Emang sebenarnya apa yang terjadi sama Ratna, Pak? kok dia bisa sampai mencoba melakukan hal itu" [Bapak juga tidak tahu, Rena. Tapi Bapak rasa memang telah terjadi sesuatu kepada Adikmu, Bapak pikir kamu mengetahuinya karena Adikmu beberapa hari yang lalu pergi hendak menemuimu di Bandung, katanya ia ingin memberimu kejutan. Dua hari kemudian Ratna pulang, ia selalu mengurung dirinya di kamar dan selalu menolak saat di ajak makan bersama] [Hah? Ratna kesini, kapan? kok aku enggak tau] [Kamu enggak ketemu sama Adikmu?] [Enggak Pak, Aku aja baru tau dari Bapak kalau Ratna pernah ke sini. Dia juga enggak ada hubungin aku] "Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Nak?" batin Sartono. [Bapak tutup dulu ya telponnya, nanti kuta bahas lagi. Kamu hati-hati ya] [Iyah, Pak] [Assallammualaikum] [Waalaikumsalam]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN