Rena sibuk dengan minumannya sehingga tak menyadari jika Danu menatapnya sejak tadi.
"Seenak itukah minuman itu, sehingga kau mengabaikan pangeran tampan yang ada di hadapanmu ini?" ucap Pria itu dengan raut wajah cemberut.
Rena menghabiskan Jus Alpukat itu hingga titik terakhir, ia lalu menatap ke arah Pria yang ada di hadapannya itu.
"Tanpa aku jelaskan pun, tentu Anda sudah mengetahui jawabannya. Padahal cuma Jus, kok di cemburuin!" Rena memutar bola mata malas
"Ya setidaknya jangan abaikan saya dong, saya tidak terima kalau kau abaikan seperti ini!"
"Baik kalau itu mau Anda, tapi jangan salahkan saya jika jantung Anda seketika berhenti berdetak" godanya.
Rena menopak dagunya di kedua telapak tangan, menatap Danu dengan tatapan berbinar.
Hanya mampu sampai beberapa detik.
"Sudah cukup, jangan tatap saya dengan tatapan seperti itu" tatapan Rena membuat Danu salah tingkah.
"Kenapa?" melihat tingkah laku Danu, Rena merasa tertantang untuk lebih membuat Pria itu tidak nyaman. Kini Rena menatap Danu dengan tatapan sayu.
Danu hilang kesabaran, Pria itu bangkit lalu menarik lengan Gadis itu. Membawanya keluar dari Cafe tersebut lalu pergi dari sana menggunakan mobil yang Danu parkirkan tak jauh dari sana.
"Anda mau bawa saya kemana?" tanya Rena setelah Danu selesai memasangkan seatbelt di dirinya.
Danu tak menjawab pertanyaan Gadis itu, usai menutup pintu, Danu memutari mobil lalu duduk di jog kemudi. Ia menjalankan mobilnya meninggalkan tempat tersebut dengan kecepatan tinggi.
Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi sampai di depan sebuah Apartemen, Danu turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Rena, setelah melepaskan Seatbelt di tubuh Rena, Danu langsung membopong Gadis itu dengan ala Bridalstyle.
"Aaaa... lepasin," Rena memekik, meminta untuk di turunkan.
Danu tak menggubris perkataannya, ia terus berjalan, masuk ke dalam lift lalu menekan tombol lantai 21.
Sesampainnya di lantai 21, Danu membawanya menuju kamar nomer 46. Danu mengeluarkan dan menempelkan kartu akses untuk masuk ke kamar itu.
Ketika pintu terbuka Danu membawanya masuk kedalam lalu menutup kembali pintu itu dengan kasar menggunakan kakinya.
Brakkk!
Danu menjatuhkan tubuh mungil Rena di atas Sofa panjang, Pria itu melangkah mendekati Gadis itu dengan senyum smirk.
Rena bergidik ngeri melihat tingkah laku Pria itu, Danu mulai membuka satu persatu kancing kemejanya lalu membuangnya asal. Terpampang jelas roti sobek yang terbentuk sempurna di badan Pria itu, seketika Rena menutup kedua matanya menggunakan telapak tangannya.
Tubuh Rena bergetar hebat, biar bagaimanapun ia bukanlah Gadis yang terlalu polos untuk hal semacam itu.
Danu membunggukan badannya mendekati Gadis itu, menatap dalam-dalam tubuh mungil yang berada dalam kuasanya. Ia mencoba menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Rena.
"Tolong jangan lakukan itu" mohon Gadis itu.
"Lakukan apa? saya hanya ingin memberimu hukuman kecil," jawabnya.
Rena yang bearada di bawah kungkungan Pria itu, perlahan melepaskan kedua tangannya yang menutup pandangannya.
"M-maksud A-anda a-apa?" tanyanya dengan terbata-bata.
Danu menarik tekuk Gadis itu lalu mencium bibirnya, "Ini adalah hukuman karena sudah menggoda saya" Danu menciumnya lagi "dan ini adalah hukuman karena tak menghiraukan ucapan saya" ujarnya lalu bangkit dari posisinya saat ini lalu duduk di samping Rena.
Danu menghela nafas kasar, "Untuk kali ini saya mungkin bisa menahannya, lain kali jangan coba menggodaku lagi! jika tidak saya akan memakanmu bulat-bulat!" peringatnya.
Rena bangkit dari tidurnya, ia ikut duduk di samping Danu dengan pandangan tertunduk ke bawah.
"Maaf" hanya itu yang bisa Rena ucapkan.
Menggoda apanya? bukankah dia yang memintaku untu memerhatikannya, lantas kenapa sekarang aku yang di salahkan? batin Rena.
Danu bangkit dari duduknya, memungut kemeja miliknya yang tergeletak di lantai lalu hendak pergi dari sana.
"Mau kemana?" tanya Rena dengan menatap ke arah Pria itu.
"Mau mandi? kenapa, mau ikut?" Rena menggelengkan kepala.
"Maaf di dapur tidak ada makanan, nanti setelah selesai mandi saya akan memesan kan makanan untuk kita berdua" ujar Pria itu sebelum pergi.
Setelah Danu mandi, ia memutuskan untuk turun kebawah menemui Gadis itu.
"Kamu ingin makan apa? biar saya pesankan" tanyanya.
"Apa aja, yang penting bukan racun"
"Saya bukanlah Pria bodoh yang mau mengotori tangan saya sendiri hanya untuk meracunimu" gumamnya lalu sibuk dengan ponselnya, memesan makanan dan beberapa cemilan untuk mereka makan.
Tak berselang lama pesenan mereka pun sampai, Danu dan Rena pun mulai menyantap makanannya. Setelah makan, Rena meminta Danu untuk mengantarkannya pulang.
***
Kini Rena sudah berada di Kos-kosan, usai mandi ia keluar kamar untuk menemui Bulek Anik.
"Bulek, Bulek," teriakku dalam keadaan nafas ngos-ngosan.. kulihat Bulek Anik sedang menyiram tanaman depan rumahnya.
"Ada apa Rena, kamu ini datang-datang kayak orang habis lihat setan aja. pelan-pelan ngomongnya, ada apa?"
"Anu Bulek, bisa tolong bukain pintu kamar kosong itu enggak?"
"Untuk apa? Kan sudah Bulek bilang kamu jangan coba-coba masuk kamar itu."
"Tapi Bu-"
"Gk ada tapi-tapian, kalau Bulek bilang enggak ya enggak."
Mendengar penolakan, aku pun membalikkan badan mencoba kembali kekamar tersebut. Untuk mencari cara lain agar bisa membuka kamar itu. Baru beberapa langkah Bulek Anik memanggilku, aku pun membalikkan badan dengan mata berbinar, kukira Bulek Anik berubah pikiran. Ternyata tidak.
"Rena, Kamu sudah makan belum? Bulek udah masak banyak"
"Aku udah makan tadi di luar, Bulek."
"Yaudah kalau gitu, kembalilah kekamarmu."
"Hmmm" aku mengangguk-angguk.
Aku pun mencoba menghubungi nomer Tata kembali, dan benar saja terdengar suara nada dering ponsel di dalam kamar ini. Pasti ada yang gk beres. Aku mencoba menghancurkan gembok itu namun tak bisa. Ya jelas aku kan bukan maling yang bisa membobol gembok itu.
Berpikir Rena, ayo berpikir! apa yang harus kamu lakukan. ucapku dalam hati.
Tiba-tiba datang salah satu penghuni kost lainnya, yang bernama Nina. Gadis itu baru pulang kerja rupanya.
"Rena apa yang kamu lakukan? kamu kenapa mondar-mandir di depan kamar ini?"
"Eh, Mbak Nina baru pulang?"
"Iyah, kamu belum jawab pertanyaan Mbak loh"
"Ayo Mbak ikut aku, kita jangan bicara di sini"
Aku pun mengajak Mbak Nina masuk ke kamarku, kuceritakan dari awal kejadian di temukannya Mbak Rumi dalam keadaan tewas mengenaskan hingga Tata hilang tak ada kabar.
"Innalillahi wainnalillahi rojiun, Rumi kenapa kamu lakukan itu, kenapa kamu tinggalin Aku" Mbak Nina Syok bukan main, air matanya terjun perlahan, aku mencoba menguatkannya.
"Maaf Mbak kalau boleh tau apakah Mbak dekat dengan Almarhum?" Nina menganggukkan kepala.
"Kami sudah bersahabat sejak lama. Kami dekat Sejak pertama kali Mbak ngekost di sini" aku ber'oh ria.
"Yang sabar ya Mbak, Almarhum sudah tenang di alam sana"
"Makasih ya Ren, setidaknya Mbak sudah lebih tenang sekarang."
"Jadi apa yanh membuatmu mondar-mandir didepan kamar itu?"
"Mbak, tau Tata kan?"
"Iyah tau, ada apa dengan Tata?"
"Tata hilang gk ada kabar Mbak saat setelah aku menyuruhnya menemui Bulek Anik dan Pakle Heru. Aku udah coba cari dia dipenjuru kost ini tapi tak ada, aku pun mencoba menghubungi Tata berulang kali namun tak ada jawaban, tapi aku mendengar suara nada dering ponsel milik Tata berada di dalam kamar itu Mbak."
"Yang bener kamu, kamu jangan bercanda Ren. Kamar itu kan di kunci dan tak pernah dibuka sama pemilik kost ini"
"Nah itu dia yang buat aku bingung, kalau Mbak enggak percaya ayo ikut aku, akan aku buktikan"
Kami berdua pun bergegas menuju kamar nomer 011 itu. aku pun mencoba menghubungi nomer Tata, dan benar saja. Terdengar suara nada dering ponsel dari dalam kamar tersebut. Mbak Nina jadi panik, tak menyangka dengan semua ini.
"Bagaimana ini Mbak? apakah Tata ada di dalam sana?" tanya Rena.
"Mbak juga enggak tau" gumam Nina.
"Kalian ngapain di sini?" tanya seseorang yang datang menghampiri mereka.
Seseorang datang