Penguntit Misterius

1164 Kata
Rumi di temukan terbujur kaku di kamar kosnya, dalam keadaan gantung diri. Tubuhku lemas seketika, dengan mata kepalaku sendiri aku melihat kejadian mengerikan untuk pertama kalinya bagiku. Ku suruh Tata untuk pergi menemui Bulek Anik dan Pakle Heru. Sudah 20 Menit aku menunggu, namun tak menemukan tanda-tanda Tata kembali. Kemana anak itu? di suruh memanggil Bulek Anik saja lamanya minta ampun. Rena hendak melangkah bergegas menyusul Tata, namun Pakle Heru datang menghampirinya. "Semuanya biar Pakle yang urus, lebih baik kalian semua sekarang kembali ke kamar masing-masing" Para penghuni kos kembali ke kamar masing-masing, sementara Rena, Rena masih berada di tempatnya. "T-api Pakle?" Rena berdiri di belakang Pria itu dengan tatapan penuh tanda tanya. "Saya bilang pergi ya pergi.. saya sudah menghubungi pihak keluarganya, dan mereka meminta untuk tidak di usut maupun menghubungi Polisi" Mendengar itu Rena pun memutuskan untuk kembali ke kamar, merebahkan tubuh mungilnya di ranjang, memejamkan mata namun hanya sesaat sebelum ia teringat satu hal. "Eh, tunggu dulu.. sepertinya ada yang kelupaan, tapi apa ya?" "Hmmm... oh astaga, Tata!!! kemana ya itu anak? Kok enggak balik-balik. Jangan-jangan terjadi sesuatu sama dia, duh firasat ku kok enggak enak ya.." Rena bangkit dari tidurnya, mencoba menghubungi Tata namun tak ada jawaban. Panggilan yang tak kunjung mendapat jawaban, kekhawatirannya mulai memuncak. Rena pun bergegas turun dari ranjang lalu keluar kamar, mencarinya di penjuru kost, menanyakannya pada semua orang namun tak ada yang melihat. Ia terus mencoba menghubungi nomer Tata, saat melewati kamar Nomer 11 ia mendengar suara nada dering ponsel milik Tata. Rena menghentikan langkah kakinya, mendekati Kamar tersebut lalu memasang telinganya di daun pintu. Enggak salah lagi, ini suara hape Tata. Tapi kok kenapa bisa ada di dalam sana? batinnya sambil menatap pintu yang di gembok itu. Gadis itu menemui Bulek Anik, barangkali Bulek Anik tau dimana Tata berada, dan menanyakan kenapa Ponsel Tata ada di dalam Kamar Nomer 11. Tok! Tok! Tok! "Assallammualaikum Bulek" tak ada jawaban. ketukan kedua, "Bulek?" tak ada sahutan dari dalam. Rena pun memutuskan untuk kembali ke atas, namun saat berbalik badan ia di kejutkan dengan kedatangan Pakle Heru. "Astagfirullah, Pakle ngagetin aja. Sejak kapan Pakle disitu?" tanyaku sambil mengelus d**a. "Baru saja, kamu ngapain di sini? bukannya tadi saya suruh kamu masuk kamar?" ujarnya dengan tatapan tajam. "Pakle kenapa pegang p-pisau?" tampak ada cairan kental berwarna merah mengalir dari pisau tersebut. "Pakle tadi habis motong ayam, Bulek mu yang suruh. Ada apa?" Motong ayam? bukankah tadi dia.... "Owh, ini aku lagi nyari Tata, Pakle lihat dia enggak?" "Apa kamu sudah hubungin dia? barangkali dia pergi ada perlu" "Sudah, tadi sudah saya hubungin nomernya namun tak ada jawaban, pas saya melewati kamar kosong, saya mendengar nada dering hape yang sama persis kayak punya Tata" "Ah kamu salah dengar kali, kamar itu kan sudah lama saya kunci. Mana mungkin hape Tata ada di dalam sana" elaknya. "Rena yakin, Rena enggak salah denger. Coba di cek dulu, Pakle" "Saya lupa menaruh kuncinya di mana, sudah sana.. saya sedang sibuk" jawabnya lalu masuk ke dalam rumahnya, menutup pintu begitu kencang hingga Rena terkejut. Sikapnya Pakle Heru kok aneh ya, mencurigakan! Rena memutuskan untuk kembali ke kamar, merampas tas miliknya lalu bergegas pergi dari sana. Memesan ojek online di ponselnya namun selalu di tolak. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki, sepanjang jalan Rena tak menemukan ojek. Kakinya terasa pegal, ia memutuskan untuk berhenti sejenak di depan emperan toko yang tutup. Tanpa Rena sadari, seseorang sedang mengawasinnya dari kejauhan. Mengantongi sebuah sapu tangan yang sudah di beri obat bius. Orang tersebut adalah orang yang sama yang mengikutinya sewaktu di Mall. Fyuhhh... Rena menyeka air asin yang bercucuran di dahinya. Cuaca hari ini begitu panas, panas menyengat seperti terbakar. Rena putuskan untuk melanjutkan perjalanannya, melewati gang-gang sempit. seseorang berjalan mengikuti Gadis itu dari belakang, Rena merasa seperti ada yang mengikuti dirinya. Saat ia menoleh ke belakang tak ada siapa-siapa. Ahh... mungkin hanya perasaanku saja. Gadis itu kembali berjalan, namun kini melangkah lebih cepat dari sebelumnya. Ia merasa memang ada yang mengikutinya, dan benar saja. Seseorang menggunakan pakaian serba Hitam, wajahnya tak terlihat karena ia memakai kacamata hitam dan juga topi. Namun dari bentuk tubuhnya, sepertinya ia seorang Pria. Sadar, telah di ikuti. Gadis itu berlari sekencang mungkin hingga sampailah di Jalan Raya, takdir perpihak padanya. Sebuah bus berhenti di hadapannya. Tanpa basa-basi, Rena langsung naik kedalam Bus tersebut. Duduk di bangku paling akhir, dengan menghadap kaca. Bus itu pun langsung kembali berjalan. Sosok tersebut terdiam menatapnya dari kejauhan, Rena bernafas lega karena orang tersebut tak lagi mengikutinya. Setelah Bus itu tak lagi terlihat, Sosok tersebut mengambil ponselnya yang berada di saku jaketnya. Mencoba menghubungi seseorang, entah siapa. ** Ponsel milik Rena berdering, terdapat sebuah panggilan masuk. Danu. Terpampang nyata, nama Danu di layar ponselnya. [Hallo] [Lagi di luar? kok berisik banget] tanya Danu dari sebrang sana. [Iyah, lagi di jalan. Ada apa?] balas Rena dengan suara jutek. [Entah kenapa saya kepikiran kamu terus, kamu baik-baik saja kan?] [Aku baik-baik saja kok, Bapak enggak usah khawatir] [Seriusan baik-baik aja? saya belum percaya kalau belum lihat langsung, gimana kalau kita ketemuan] [Dimana?] [Temuin saya di Cafe Monalisa, Jalan Anggrek] [Oke, saya segera kesana] Saat Rena hendak mematikan panggilannya, Danu langsung mencegahnya. [Tunggu dulu..] Danu menghembuskan nafas kasar. [Sudah berapa kali saya bilang. Jangan panggil saya dengan sebutan itu ketika berada di luar Kampus!] [Maaf, habis Anda terlalu tua untuk saya. Jadi alangkah lebih baik jika saya panggil Anda dengan sebutan Bapak] [Beraninya kau! dasar Gadis nakal!] Pekik Danu. Rena seketika menjauhkan ponselnya dari telinganya, Gadis itu tertawa cekikikan sambil membayangkan ekspresi wajah Pria itu ketika sedang marah. Dasar Pria tempramental! oloknya dalam hati. Seorang kernet menghampirinya, menanyakan pada Gadis itu hendak turun dimana lalu meminta tarif kepadanya. Rena memberitahukan di mana ia akan turun lalu memberikan beberapa lembar uang kertas kepada kernet tersebut. Tak berselang lama Bus pun sampai di Jalan Anggrek Tek! Tek! Tek! "Yok Jalan Anggrek, Jalan Anggrek" kernet itu memberitahu pada para penumpang. Setelah Bus berhenti, Rena dan beberapa orang lainnya turun. Rena menyebrang jalan menuju Cafe Monalisa, sesampainya di sana Ia langsung masuk dan mencari di mana Pria itu berada. Danu yang duduk di meja paling pojok kanan melambaikan tangannya ke arah Rena, Gadis itu langsung menghampirinya. Terlihat di atas meja, sudah tersaji 2 gelas minuman menanti. "Maaf, menunggu lama" ucap Rena setelah duduk di kursi di hadapan Pria itu. "Enggak masalah, ini minumlah. Saya udah pesankan minuman buat kamu" ujarnya sambil menyodorkan segelas minuman Jus Alpucat dengan topping s**u Cokelat di setiap sisi gelas. "Makasih" ucapnya lalu meminum jus tersebut. "Hmmm, tau aja kalau aku suka Jus Alpukat" gumamnya sambil mengaduk-ngaduk sedotan itu. "Owh, benarkah? saya juga menyukai Jus Alpukat, kok bisa samaan ya" Danu mencondongkan tubuhnya lebih mendekat ke arah Gadis itu. "Saya rasa kita ini memang di takdirkan berjodoh" gumamnya sambil mengedipkan sebelah mata di lengkapi senyum manisnya. Rena bergidik ngeri. "Saya khawatir Anda nanti terjatuh karena mimpi terlalu tinggi! Lagian Kita tidak memiliki kecocokan, apanya yang berjodoh?" Gadis itu memutar bola mata malas, kedua tangannya melipat di depan d**a.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN