Rena mengelus keningnya yang terasa sakit. "Bisa bawa mobil enggak sih Pak!"
Danu menginjak rem mobilnya secara mendadak, Gadis itu merasa kesal karena Pria itu hanya diam tak bergeming.
"Bapak kenapa sih? susah ya ngomong sama patung!" celetuknya lalu menggelembungkan kedua pipinya.
Danu menoleh ke arah Gadis itu, merasa tak terima dengan ucapannya baru saja. Melihat ekspreasi Gadis itu membuat Danu tersenyum dan jadi lupa bahwa ia sedang marah. Dengan cepat ia mendekati wajah Rena, sebuah kecupan mendarat di pipi Rena.
Blush.
Pipi Gadis itu merona.
Danu memandang wajah Rena dalam-dalam, merasa kurang puas ia lalu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Gadis itu.
"Mengapa Hati ini begitu mudah jatuh cinta kepadamu? pelet apa yang sudah kau pasang agar aku tertarik kepadamu? hingga dalam sekejap aku terpesona olehmu"
Rena terdiam mendengar tutur kata Danu, ia tak menyangka jika Dosennya itu menyimpan rasa kepadanya.
"Hmm... saya tipe orang yang enggak suka bertele-tele, to the point aja. Jadi apa kau mau menjadi Kekasihku?"
Rena bingung hendak menjawab apa?
"M-maaf Pak sebelumnya, bukan maksud saya menolak Bapak. Bapak ini kan adalah Dosen saya, bukankah-" perkataan Gadis itu terhenti karena Danu dengan cepat membungkam bibirnya dengan telapak tangan.
"Kalau itu yang kamu permasalahkan, bukan suatu ide buruk jika kita menjalaninya secara sembunyi-sembunyi" balasnya.
"T-tapi Pak,"
"Harus berapa kali saya katakan, jangan panggil saya Bapak jika berada di luar Kampus! Saya ini masih terlalu muda untuk kau panggil Bapak" sewotnya.
Rena terdiam, percuma juga bicara dengan Pria yang ada di sampingnya itu. Hanya buang-buang tenaga saja.
"Dengan diamnya kamu, saya anggap kamu menyetujuinya. Kamu adalah Gadis paling beruntung yang bisa menjadi Kekasih saya, jadi bersyukurlah..."
"Ya enggak bisa gitu dong Pak, eh- Abang masksudnya" Rena merutuki dirinya. "Enggak bisa gitu dong Bang," Gadis itu berusaha menolak.
Danu menyunggingkan sebelah alisnya "Kenapa enggak bisa?"
"Ya karena saya enggak cinta sama Abang"
Danu mengacak rambutnya kasar "Bukankah ini tak adil, kamu saja mampu membuat saya jatuh cinta kepadamu, kenapa saya tak bisa?"
Rena menundukkan pandangan, merasa bersalah atas apa yang baru saja ia ucapkan. "Maaf"
Hanya itu kata-kata yang mampu Rena ucapkan.
"Lupakan, lebih baik kita sekarang cari makan. Ini sudah waktunya jam makan siang," ujar Danu memecah suasana sambil melihat jam di tangannya.
Jika kutahu akan sesakit ini, mungkin dari awal aku akan berusaha untuk tidak menyukainya. batin Danu.
Dalam perjalanan, mereka berdua saling diam tanpa buka suara sampai akhirnya mereka pun sampai di sebuah Mall.
Saat berjalan memasuki kawasan Mall, Kaki Rena tergelincir yang membuat Tubuhnya kurang keseimbangan dan hendak jatuh. Danu yang berada di belakangnya langsung menangkap tubuh mungil itu.
Pandangan mereka saling bertemu namun hanya sesaat sebelum Danu melepas pegangannya lalu berjalan lebih dulu. Rena yang tersungkur di lantai merasa kesal, dengan cepat ia langsung bangkit dan mencoba menghampiri Pria itu.
"Hei, tunggu!" teriak Rena.
Danu tak menggubris Gadis itu dan tetap terus berjalan lalu menaiki eskalator.
Rena terhenti dengan nafas terengah-engah karena berusaha mengejar Pria itu. Dengan cepat ia melepas sepatu flatshoesnya lalu melemparnya ke arah Pria itu.
Bug!
"Awwwww...." lirihnya kesakitan.
Tepat sasaran, sepatu itu mengenai kepala Danu.
Rasain! batin Rena.
Danu menoleh ke belakang dan mendapati Rena tengah menjulurkan lidah ke arahnya.
"Wle..wle..wle.. rasain! emang enak" ledeknya.
Danu yang kini sudah berada di lantai atas, langsung kembali turun menggunakan eskalator lalu menghampiri Gadis itu. Sesampainya di bawah, Danu menjingjing kerah baju Gadis itu bak kucing dan membawanya ke lantai atas untuk mencari makan. Semua orang memandang ke arah mereka berdua.
"Tolong lepasin Bang, janji enggak bakal gitu lagi" Rena memohon kepada Danu untuk melepaskannya.
Mendengar itu, bukannya melepaskannya Danu malah menggendong Gadis itu ala Bridalstyle.
Para Gadis-gadis yang berada disana berteriak histeris, merasa iri dengan prilaku Danu kepada Rena.
"Ahh.. andai aku yang berada di posisi Gadis itu. Tak bisa ku bayangkan betapa kenyalnya itu." ucap salah satu dari mereka, sambil memperagakan kedua tangan yang sedang meremas-remas angin.
Danu membawa Rena masuk kedalam sebuah Food Court, mendudukkan Gadis itu di kursi yang tersedia. Danu pergi untuk memesan makanan lalu kembali duduk berhadapan dengan Gadis itu.
Beberapa saat kemudian Pesanan mereka pun sampai, makanan yang kini sudah berada di atas meja mampu membuat Rena tergiur. Tanpa aba-aba, Rena segera menyantap apapun yang ada di sana. Danu tertawa kecil melihat kelakuan Gadis itu. Danu dan Rena pun menyantap makanannya dalam diam.
"Ooogh..."
Usai melahap habis seisi piring, Rena merasa kekenyangan hingga bersendawa.
Danu menampilkan senyum smirk, melihat kelakuan nyeleneh Gadis itu.
"Bang, aku mau Ice Cream" pintanya dengan mukanya yang berbinar seperti anak kecil.
Ya Tuhan, begitu indahnya ciptaanmu ini.. jangankan Ice Cream, seisi Mall ini akan aku belikan untuknya termasuk hati dan raga ini. Batin Danu.
"Oke, kamu tunggu sini, abang belikan. Owh iyah kamu suka rasa apa?"
"Yang rasa Vanilla ya Bang."
"Siap laksanakan" ujarnya sambil tangan melayang hormat. Gadis itu terkekeh.
Ouh... sungguh manisnya senyuman itu. batin Danu sebelum pergi.
**
Tanpa Danu dan Rena sadari ternyata ada seseorang yang sedang membuntuti mereka. Dua orang Pria misterius berpakaian serba hitam dan kaca mata hitam. Salah satu dari mereka sedang mencoba menghubungi seseorang, sementara yang satunya tengah mengawasi Rena dari kejauhan.
[Hallo bos.. kami sudah mengikuti Gadis itu hingga ke Mall, kini Gadis itu tengah sendirian. Pria yang tengah bersamanya kini tengah pergi. apa yang harus kita lakukan?]
[Ikuti mereka terus, tunggu waktu yang tepat saat berada di tempat sepi culik Gadis itu dan bawa dia kesini!] perintah seseorang dari sebrang sana.
[Baik bos]
Panggilan pun terputus, entah siapa yang mereka hubungi.
"Bagaimana?" tanya Pria yang berada bersamanya.
**
Tak lama datanglah Danu sambil membawa paper bag berisikan es cream, Lalu datang menghampiri Rena.
"Maaf ya udah buat kamu lama menunggu, tadi antri soalnya, ini." ujar Danu lalu memberikan paper bag itu pada Rena, Rena pun menerimanya, lalu membukanya mengambil ice cream pesanannya tadi.
"Buat Abang mana?" tanyanya.
"Ini ambil" ujar Rena sambil memberikan satu Ice Cream nya lagi kepada Pria itu.
"Suapin" rengeknya.
"Ck! manja sekali. Punya tangan kan?"
"Punya." dengan bodohnya Danu menjawab pertanyaan konyol itu.
"Yaudah gunain dengan baik, jadi orang jangan manja!"
"Abang kan pengen gitu kayak orang-orang, romantis-romantisan"
"Romantis gundulmu! inget tuh sama Umur"
"Eh, Abang enggak gundul kok"
"Tau ahhh.. males ngomong sama abang mah bikin darting (darah tinggi)" Ujar Rena lalu melangkah meninggalkan Danu.
"Hey, tunggu kok abang di tinggalin sih, Rena" Danu pun mengambil langkah cepat menghampiri Rena.
"Berisik banget sih, yuk Abang kita pulang. Enggak ada yang menarik disini,"
"Enggak mau shopping dulu, terserah mau beli apa aja yang kamu mau nanti Abang yang bayarin"
"Gk ah bang, enggak ada yang ingin aku beli" ujarnya lalu menarik tangan Danu keluar dari Food Court.
"Yaudah ayoo.."
Mereka pun menuju mobil dimana mobil diparkir. Danu membukakan pintu lalu mempersilahkan Rena duduk di jok penumpang. Danu lalu memutari mobil dan membuka pintu lalu duduk di jok kemudi. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
"Soal yang tadi, Abang akan tagih jawaban kamu. Jadi tolong di pikirkan" ucap Pria itu di tengah menyetirnya.
Setengah jam kemudian, mereka baru sampai karena jalanan macet. Mereka pun sampai didepan kost-kostan dimana Rena tinggal. Rena pun membuka pintu untuk turun, namun tangannya digenggam Pria disampingnya.
Rena pun turun, lalu menutup pintu mobil. Pria itu tersenyum lalu mobil pun jalan meninggalkan area kost-kostan di mana Rena tinggal.
"Duarrrrrrrr"
"Astagfirullah, Tata. Ngangetin aja ihhh"
"Hehehe, maaf Mbak, habis Mbak di panggilin dari tadi gk jawab sih. Ngelamunin apa sih Mbak? Kayaknya serius banget."
"Enggak, enggak ada apa-apa kok. Mbak cuma kecapekan aja."
"Owh iyah Mbak, tadi itu siapa?"
"Owh itu Dosen Mbak."
"Dosen apa pacar? Cieee yang habis dianterin."
"Ikh apaan sih kamu, siapa yang pacaran. Cuma temen kok"
"Pacaran juga gapapa kali Mbak"
"Yaudah ayoo kita ke kamar, Mbak capek pengen istirahat."
Dua gadis itu pun menaiki anak tangga, menelusuri koridor. Namun saat mereka melewati kamar No03, mereka dibuat terkejut akan satu hal. pintu yang setengah terbuka membuat mereka bisa melihat ke dalam.
Dengan mata kepala mereka sendiri, mereka melihat Sang penghuni kamar No03 yang tak lain adalah Mbak Rumi, Mbak Rumi tewas dengan mengenaskan dalam keadaan gantung diri.. Dengan mata melotot dan lidah menjulur keluar.
"Astagfirullahallazim, Mbak Rumi" Teriak Tata.
"Innallillahi wainalillahi rojiun" Ujar Rena.
Tak lama Datanglah tiga orang penghuni kost lainnya..
"Ada apa?"
"Ada apa?"
"Ada apa sih? Astagfirullahallazim Mbak Rumiiii"
"Innallillahi wainalillahi rojiun"
"Innallillahi wainalillahi rojiun."
Seketika depan kamar itu pun ramai dengan datangnya para penghuni kost lainnya.
"Ta, kamu panggil Bulek Anik dan Pakle Heru gih, suruh mereka kesini" ujar Rena, Rena pun lalu mengambil gawainya dan mencoba menghubungi Polisi.