Perkara Helm

2037 Kata
Flashback on Seseorang memakai jubah serba hitam berjalan manaiki tangga, menelusuri koridor dengan membawa stick baseball yang ia bawa. Melangkah mendekati kamar No 005. Menggunakan kunci serep, ia bisa dengan mudah masuk kedalam tanpa sepengetahuan sang pemilik kamar. Suasana kamar gelap, itu sangat memudahkan aksinya. Senyum penuh makna terukir dibibirnya, saat melihat seseorang tidur diatas ranjang. Orang berjubah hitam itu perlahan mendekati gadis yang tengah tertidur di atas ranjang, saat hendak membungkap gadis itu, gadis itu terbangun dan terkejut saat melihat ada asing masuk ke kamarnya. Dengan cepat ia menendang orang berjubah hitam itu hingga terjatuh ke lantai. Brakkkkk! Orang misterius itu tersungkur ke lantai, gadis itu pun berlari keluar kamar. berteriak meminta pertolongan berharap ada yang menolongnya. "Tolong! tolong! tolong!" teriak gadis itu. Gadis itu berlari menelusuri lorong, suasana lorong yang gelap membuat gadis itu tak bisa melihat sekitar. Gadis itu terjatuh di lantai, saat hendak bangkit kakinya sakit karena terluka akibat terkena serpihan beling. "Akhhhhh" lirihnya kesakitan, cairan berwarna merah mengalir di telapak kakinya. Saat menoleh kekanan ia melihat ada satu kamar yang lampunya menyala, gadis pun berusaha sekuat tenaga berusaha mendekati kamar itu, mencoba mengetuk pintu kamar itu untuk meminta pertolongan. Tok! Tok! Tok! "Siapa?" tak lama kemudian ada sahutan dari dalam kamar. "Siapapun kamu, tolongin saya. Ada orang jahat tengah mengintai saya, kumohon biarkan saya masuk" Terdengar suara benda di seret, orang misterius berjubah hitam itu ternyata masih mengejarnya dan semakin mendekat membuat gadis itu panik dan ketakutan di tambah pintu kamar yang tak kunjung di buka membuat gadis itu tak bisa berbuat apa-apa. "Mau lari kemana kamu?" seru orang berjubah hitam. "Tidak, menjauhlah dariku" "Tolong, tolong jangan sentuh aku. Kumohon" "Tolong, siapa pun itu tolong aku" teriak gadis itu. "Berteriaklah sekeras yang kau bisa, tak akan ada yang menolongmu dari malaikat mautmu" ujar orang berjubah hitam itu. Perlahan orang berjubah hitam mendekati gadis itu, ia lalu melayangkan pukulan kepalanya. "Akhhhh!" lirihnya. Gadis itu pun tersungkur ke lantai dan tak sadarkan diri, orang misterius itu menyeret tubuh yang tak berdaya itu melewati kamar-kamar dan berhenti di depan kamar No 011. Orang misterius itu membuka gembok pintu itu dengan cekatan, menyeret gadis yang tak sadarkan diri itu masuk kedalam ruangan yang gelap dan pengap. Didudukannya orang itu dikursi yang telah disediakan, lalu mengikat tangan dan kakinya, sedangkan mulutnya dilakban. Orang misterius itu pergi meninggalkan gadis itu seorang diri, ia lalu keluar dari ruangan tersebut dan hendak membersihkan cairan berwarna merah yang memenuhi lantai hingga bersih. Jangan sampai ada yang mengetahui permainannya itu. Beberapa menit kemudian, gadis dengan kondisi tangan dan kakinya yang terikat kini sudah sadarkan diri. Ia terkejut saat mendapati dirinya dalam kondisi terikat. Kepalanya terasa sakit dan pusing akibat benturan tadi, cairan berwarna merah memenuhi kening dan kakinya. "Mmmmbbb" "Mmmmbbb" Gadis itu berusaha sebisa mungkin melepaskan ikatan di tubuhnya. Sayang, setiap pergerakan yang ia timbulkan malah semakin mempererat ikatan. Memberikan rasa sakit di tubuhnya. "Mmbbbbbbbb" "Mmbbbbbb" Brakk! Gadis itu tersungkur ke lantai dalam posisi masih terikat. Ceklek! Suara pintu di buka, seorang misterius berjubah hitam itu masuk ke ruangan tersebut dan menghampiri gadis itu. Ia lalu membenarkan posisi gadis itu, mencondongkan wajahnya di depan gadis itu lalu melepas paksa lakban yang menempel di mulutnya. Srekkkk! "Akhhh" lirih gadis itu. "Syukurlah kamu sudah sadar" ujar orang misterius itu. "Siapa anda?" "Kamu gk perlu tahu siapa saya" "Kalau begitu, tolong lepaskan saya" "Mau dilepas ya, Kalau saya gk mau bagaimana, hum." "Saya mohon lepaskan saya apa mau mu?" "Mau ku kamu mati! Hahaha" "Jangan, kumohon lepaskan saya hiks.. hiks..hiks..." "Cup..cup..cup.. jangan nangis" ujar orang berjubah hitam ini sambil mengeluarkan pisau di sakunya. "Apa yang mau kau lakukan?" tanya gadis itu ketakutan. Gadis itu berusaha untuk melepas ikat talinya tapi tak bisa karena begitu erat. "Ayo saatnya bermain-main denganku." ujarnya lalu mengarahkan pisau kewajahnya. "Ya tuhan apa yang mau dilakukannya?" gumam gadis itu dalam hati. "Kumohon lepaskan aku" rintihnya. "Oh ayolah, ini sangat menyenangkan. Percayalah padaku ini tidaklah sakit" gumam orang misterius itu. Tanpa banyak bicara orang misterius itu menggoreskan sebilah pisau ke pipi gadis itu, cairan berwarna merah mengalir membasahi pipi dan muncrat mengenai sudut bibir orang misterius itu. "Akhhhhhhhhhh" Teriaknya. Berjubah hitam itu malah menjilat cairan segar berwarna merah tersebut, lalu melepas tali yang melilit tubuh gadis itu. setelahnya ia lalu melepas paksa kain yang di kenakan gadis itu, menanamkan sesuatu di lembah hitam gadis itu. Flashback off Jam menunjukkan pukul 08.50. Usai memakai sneaker, Rena berlari keluar dari Kostan dengan terburu-buru, ia bahkan mengikat rambutnya asal. "Gara-gara semalam aku gk bisa tidur, alhasil aku bangun kesiangan" di liriknya jam dipergelangan tangannya udah jam 08.50. "Tamatlah riwayatku! ini mana lagi ojegnya. Telat dah yakin, bisa kena semprot gue sama tuh dosen ngeselin" gumamnya lalu membuka pagar, menengok kanan kiri jalanan sepi. Nampak dari kejauhan ojeg yang ia pesan telah datang. Tintin! bunyi klakson. "Lama banget sih Mas, saya udah telat nih" cetusnya. "Maaf Mbak, saya tadi bingung muter-muter cari alamatnya" "Yaudah buruan jalan Mas." ujarnya setelah naik di jok penumpang. "Pakai helm dulu Mbak, demi keselamatan" sahutnya lalu menyerahkan helm pada Rena, gadis itu pun memakai helm itu. Tampak dari kejauhan seseorang memakai hoddie hitam sedang mengawasi mereka hingga mereka menghilang dari pandangan. Sopir itu menancap gas dengan kecepatan tinggi, meninggalkan area Kost'an. Lalu lalang pengguna jalan raya hari ini begitu padat sehingga motor yang mereka tumpangi mendadak berhenti karena jalanan macet. Rena yang sibuk mengirim pesan pada seseorang sehingga tak menyadari motor yang mereka tumpangi berhenti. Usai mengirim pesan, Rena baru menyadarinya. "Ada apa Mas, kok berhenti?" tanyanya. "Macet mbk" jawabnya. "Siap-siap bakal kena hukuman ini mah" batin Rena. Pov Rena. Saat aku sedang menengok ke samping, mobil di sampingku membuka kacanya. Menampakkan seseorang di dalam sana duduk di jog kemudi, menatapku horor. Deg! Mataku membulat sempurna, susah sekali menelan saliva. "Pak Danu? itu benar Pak Danu kan?" batinku. Hingga akhirnya terjadilah saling pandang-pandangan, "Rena?" panggilnya, memastikan jika Gadis itu adalah Muridnya. "Hai, Pak," Gadis itu malah melambaikan tangannya. "Cepat turun, dan masuklah" ujarnya lalu membuka pintu mobilnya. "Tidak Pak, makasih tawarannya. Saya naik ojeg saja" jawabku. "Enggak ada tapi-tapian, buruan masuk!" "Baiklah" Ku tepuk pundak sopir ojeg di depanku, "Mas, saya turun di sini saja. Ongkosnya sudah saya tarif sesuai aplikasi" Aku pun turun dari motor, hendak melepaskan helm yang aku pakai tapi susah sekali di lepas. "Mas, ini gimana gk bisa di lepas" "Sini Mbak, saya bantu lepasin. Saat Masnya hendak bantu melepaskan helm yang masih tersangkut di kepalaku, tiba-tiba Pak Danu turun dari mobilnya lalu menghampiriku. "Sini biar saya saja yang lepasin" "Baik Mas," seru si tukang ojeg. Pak Danu mencoba melepaskan helmnya namun tak bisa, sudah 2 menitan kami berdiri di sini seperti orang gila. Penghuni jalan sepertinya sedang memandangi kami, ada pula yang cekikikan menertawai kami. "Bisa tidak, Mas?" tanya si Mas tukang ojegnya. "Masnya gimana sih, helm rusak gini kok di pakein ke pacar saya!" sewot Danu. duaarrr! Bukan main, bisa-bisanya pria ini mengatakan seperti itu. Aku menggelengkan kepala, mencoba menjelaskan apa yang di katakan Pak Danu tidaklah benar. "Maaf, Mas" seru tukang ojeg itu. Kakiku mulai terasa pegal karena sudah terlalu lama berdiri, "Pak, sebenarnya bisa enggak sih buka helmnya? lama banget, capek nih berdiri terus" "Ya sabar, ini lagi di bukain..." sahut Dani. Setelah bergulat selama 5 menit namun tak kunjung terbuka, Pak Danu akhirnya menyerah. "Mas, berapa ini helm? biar saya beli" tanya Danu sambil membuka isi dompetnya dan mengeluarkan uang kertas berwarna merah 10 lembar. "Aduh, jangan di beli Mas. Coba sini saya bantu bukain" Tukang ojeg itu menolak tawaran Pak Danu. Mas si Tukang ojeg itu pun mencoba membantuku membukakan helmnya. Belum juga di bukakan, Pak Danu langsung menarikku ke belakang tubuhnya "Berapapun yang Mas minta, bakal saya kasih asal helm ini menjadi milik saya" ucapnya sambil menepuk helm yang masih ku pakai. "Ta-pi Mas, nanti saya kerja gimana" jawab Mas Tukang ojeg kebingungan. "Ya itu urusan Masnya, dengan uang yang saya kasih nanti pasti Mas bisa beli helm ini selusin. Bagaimana?" tanyanya. "Berapapun?" tanya Mas Tukang ojeg itu memastikan. "Of course" Danu mengambil amplop cokelat yang berada di dalam mobilnya lalu di berikan kepada Tukang ojeg tersebut "Hmmmm... segini cukup?" Tukang ojeg tersebut mengintip isi amplop tersebut dan terkejut saat melihat isinya. Di dalamnya terdapat uang kertas berwarna merah 100 lembar. "Ini beneran Mas?" tanyanya memastikan. "Hmmm..." gumam Danu. "Ini lebih dari cukup, Mas. Makasih banyak" Pak Danu lalu melenggang pergi sambil menarik tanganku berjalan menuju di mana mobilnya terparkir. Pria itu menyuruhku untuk masuk ke dalam mobilnya. Aku pun duduk di jog penumpang samping kemudi, tak lupa memasang sabuk pengaman. Setelah pintu di tutup, Pria itu pun berlari kecil memutari mobil lalu masuk ke dalam mobil duduk di jog kemudi. Pria di sampingku, memasang airpods di telinganya. Kulihat, sepertinya ia sedang menghubungi seseorang. "Tolong, carikan seorang profesional yang bisa melepaskan helm lalu suruh dia kesini. Nanti saya akan kirimkan lokasinya" serunya. Aku pun terdiam termenung, menatap tak percaya Pria yang berada di sampingku ini. Bodohnya aku karena tak mampu membuka kaitan helm di kepalaku, andai saja bisa kulepaskan mungkin semuanya tak serumit ini. "Pak, sepertinya Bapak terlalu berlebihan. Kenapa enggak suruh Tukang ojeg itu bukain dulu. Ini kan helm dia, dia pasti lebih tau dong soal lepas-melepas" gumamku. Danu membenarkan posisi duduknya menghadap ke arahku. "Tahu apa kamu soal lepas-melepas? Jangan kamu kira saya enggak tahu ya, asal kamu tahu ya jangankan soal lepas-melepas soal celup mencelup saja saua tahu. Kamu perlu bukti?" Entah aku yang polos atau bagaimana, yang jelas aku tak mengerti apa yang Pria itu ucapkan. Celup-mencelup? apa hubungannya melepas helm sama mencelup teh? Aku menatap Pria itu keheranan. "Sudah kamu diam saja di situ duduk manis, biar ini menjadi urusan saya" Jalan sudah kembali normal, Danu pun menancap pedal gas. Mobil pun berjalan kembali. Suasana jadi hening, Kami larut dalam pikiran masing-masing. Hingga aku baru menyadari kalau jalan yang kami lewati bukan menuju ke Kampus. "Loh Pak, kita mau kemana? Ini kan bukan jalan menuju Kampus" "Udah ikut aja, lagian udah jam segini gerbang Kampus pasti sudah di kunci, kamu enggak akan bisa masuk dalam keadaan seperti ini" jawabnya tanpa menoleh kearahku. Dosen macam apa dia, ngajarin mahasiswanya bolos. "Tapi Pak-" belum selesai ngomong udah di potong saja. Jari telunjuk Pak Danu mendarat di bibirku, menyuruhku untuk diam. Aku gelisah, takut-takut dia macam-macam. Aku menatapnya horor. "Jangan menatapku seperti itu, saya tau saya ini tampan" lontarnya. Dih, kepedean banget ini orang. "Siapa juga yang ngeliatin Bapak, saya hanya takut Bapak punya rencana jahat" "Jangan berpikir yang aneh-aneh, saya enggak akan ngapa-ngapain kamu" terangnya. Tak berselang lama, mobil yang kami tumpangi pun berhenti di suatu tempat. Kulihat di kaca ternyata terdapat sekelompok orang memakai jaket hitam berkaca mata hitam tengah berdiri menunggu kedatangan kami. Seseorang menghampiri dimana Pak Danu duduk, Pria di sampingku membuka kaca mobilnya lalu bertanya kepada sesuatu kepada Pria berjaket hitam. "Apa kau yakin Pria tua itu bisa? jika gagal kamu tau kan apa hukumannya" "Yakin Bos, walau sudah tua beliau adalah orang yang ahli dalam perhelm'an" "Bagus" jawab Danu. Dia memanggil Pria di sampingku Bos? Apa itu artinya dia itu anak buahnya. Pria berkaca mata itu berjalan memutari mobil lalu menghampiriku dan membuka pintu mobilnya, menyuruh Pria paruh baya itu untuk menghampiriku. Aku masih dalam posisiku, duduk di jog penumpang. Pria tua itu meminta ijin kepadaku untuk membukakan kaitan helm yang masih menyanggal di kepalaku, aku pun mengiyakan. Tak butuh waktu lama, kaitan helm yang ku pakai kini sudah terbuka. Aku pun dengan cepat melepas Helm yang berada di kepalaku ini. "Akhirnya, Terima Kasih ya, Kek.." "Hehe sama-sama, helm pun ternyata pintar dalam memilih. Dia mungkin ingin berlama-lama dengan nyonya muda, karena tau nyonya ini Gadis yang cantik" ucap Pria tua itu memujiku. "Ah Kakek, bisa aja... Makasih atas pujiannya," jawabku senang. "Jangan kepedean, yang di katakan kakek itu tidak benar. Emang sudah takdirnya hari ini kamu sial" timpal Danu. "Ihhh apaan sih! ikut nimbrung aja kayak tiang listrik. Saya kan lagi ngomong sama Kakeknya bukan sama Bapak" ucapku tak terima. Pria berjubah hitam berkaca mata hitam yang sepertinya salah satu anak buah Pak Danu yang lainnya membuka pintu mobil bagian belakang lalu mengambil koper hitam yang berisikan segepok uang lalu di berikan kepada si Kakek tua. Tak lupa menutup kembali pintu mobil. Pak Danu pun menancapkan pedal gas meninggalkan lokasi tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN