"Jangan berpikir yang aneh-aneh, saya enggak akan ngapa-ngapain kamu" terangnya.
Danu memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, ia turun lalu berjalan memutari mobil dan membuka pintu mempersilahkan Rena untuk turun. Danu menggandeng tangan Rena dan membawanya masuk ke dalam sebuah toko perhiasan.
Saat di dalam mereka di sambut pelayan toko. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Saya ingin mencari sepasang cincin"
"Mari saya antar" ajak pelayan tersebut.
Danu dan Rena pun mengekori pelayan itu, hingga akhirnya mereka berhenti di depan etalase panjang.
"Bapak nyari cincin buat siapa?" tanya Rena.
"Buat Mamah" jawabnya, Rena berohria.
Pelayan itu menyodorkan kotak beludru berwarna merah yang terdapat 2 pasang cincin dengan motiv yang sama kepada Danu.
"Ini adalah produk terbaru kami" ujar pelayan itu.
Danu mengambil cincin tersebut lalu di pakaikannya ke jari manis Rena. Rena terkejut saat itu.
"Loh, Pak-" Danu memotong pembicaraannya.
"Diamlah, saya cuma memastikan apakah cincin ini akan pas di jari Mamah" elak Danu.
"Kenapa Pak Danu tak membawa Mamah Bapak aja langsung ke sini? lagian setiap jari kan berbeda-beda" sahut Rena.
"Enggak suprise lagi dong nanti, lagian saya yakin betul kalau ini akan pas di jarinya" jawabnya.
Rena menatap cincin terdapat batu safir berwarna biru di tengahnya melingkar di jarin manisnya, begitu pas dan sangat cantik.
"Suka?" tanya Danu, Rena mengangguk.
"Ini pasti akan sangat cantik di tangan Mamahnya Pak Danu" gumam Rena lalu mencoba melepaskan cincin tersebut dari jarinya namun tak bisa.
"Aduh Pak, gimana ini? cincinnya gk mau lepas" ucap Rena panik.
Danu tak menggubris yang di katakan Rena, ia meminta pelayan untuk mengambilkan cincin dengan motiv berbeda lalu memberikannya padanya. Tanpa pikir panjang, Danu mengeluarkan Atm miliknya dan memberikannya pada pelayan tersebut.
Usai membayarnya, Pelayan tersebut membuatkan surat kepemilikan lalu memasukkannya ke dalam kotak. Kedua kotak tersebut di masukkan ke dalam Paperbag lalu di berikan kepada Danu, terdapat kotak beludru yang masing-masing berisi cincin dengan motiv berbeda.
Setelah itu, Danu mengajak Rena keluar dari toko perhiasan tersebut. Membukakan pintu dan mempersilahkan Rena untuk masuk mobil dan menutup pintu itu lagi. Pria itu berjalan memutari mobil lalu masuk ke dalam mobil dengan membawa 2 paperbag, ia duduk di jog kemudi. Sebelum menjalankan mobilnya, Rena menggengam tangan Pria di sampingnya Danu menoleh kearahnya.
"Pak, maaf'in saya.. cincinnya gk mau lepas" sesal Rena, Ia merasa bersalah atas ini.
"Gapapa, enggak usah minta maaf" jawabnya.
"Lalu bagaimana dengan-" lagi-lagi Danu memotong pembicaraannya sambil menunjukkan paperbag berwarna hijau padanya.
"Ini saya udah cari gantinya, yang itu kamu pakai saja" gumamnya.
"Tapi Pak, ini pasti harganya sangat mahal, saya tidak ada uang buat ganti harga cincin ini. Saya enggak bisa terima ini, Pak"
"Kalau begitu lepaskan itu dari jarimu," pintanya,
"Susah Pak, cincinnya enggak mau lepas" ujar Rena sambil berusaha melepaskan cincin itu dari jarinya.
Danu samar-sama tersenyum, ia lalu membuka satu paperbag dan mengeluarkan kotak beludru berwarna merah. Mengambil sebuah cincin blue safir yang tertanam di sana lalu ia kenakan di jari manis di tangan kanannya.
Usai mengenakannya, Danu lalu menaruh kedua paperbag itu ke jog belakang. Danu menggelengkan kepala melihat Rena yang masih berkutik di jarinya. Perlahan Pria itu mendekati dan mencondongkan wajahnya di hadapan Rena, kini pandangan mereka bertemu. Mendadak suasana terasa mencekam, dengan gerakan cepat Rena membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya sambil menatap horor Pria di hadapannya.
Rena pikir Danu akan menciumnya lagi, setelah kejadian di Kampus waktu itu. Padahal Danu niatnya hendak memasangkan sabuk pengaman pada gadis itu. Setelah memasangkan sabuk pengaman padanya, Danu lalu kembali ke posisi semula, dan memilih menjalankan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Sedang Rena menurunkan kedua tangannya dengan cepat, lalu membuang muka kearah kaca. Gadis itu berulang kali menepuk keningnya, merasa malu dan konyol karena sudah berpikir yang bukan-bukan. Danu menghentikan aksi Gadis itu dengan menaruh telapak tangannya di kening Rena. Rena pun langsung terdiam.
Danu menyingkirkan tangannya dari kening Rena, tak lama kemudian mobil memasuki Mansion berdesain mewah nan elegan. ia memberhentikan mobilnya di depan mansion tersebut. Satpam dengan sigap membukakan pagar dan mempersilahkan mobil masuk.
"Wahhhh ini rumah apa gedung, besar bener" puji Rena terkagum-kagum.
"Ayo turun" ajak Danu saat setelah melepas sabuk pengaman.
"Ini rumah siapa Pak?"
"Rumah saya lah, udah ayo turun"
"Tapi Pak"
"Kamu ini banyak tapi-tapian ya..," cibirnya.
Rena berdecak. "Iyah-iyah, sabar kenapa" ujar Rena akhirnya, berusaha melepaskan sabuk yang melingkar di tubuhnya.
Mereka berdua pun turun dari mobil, Danu tiba-tiba menggenggam tangan Rena, Rena menurunkan pandangan ke bawah. Menatap tangannya yang di genggam oleh Pria di sampingnya.
Sebelum masuk ke dalam rumah tersebut, Danu membisikkan sesuatu padanya.
"Tolong jangan panggil saya Bapak jika di luar kampus" pintanya
"Terus saya harus panggil Bapak dengan sebutan apa?"
"Panggil saya Abang atau sayang juga boleh" pintanya lagi.
"Heleh... itu mah maunya Bapak. Panggil Om kalau gitu ya, Anda kan lebih tua dari saya. Tampang Bapak ini enggak pantes kalau di panggil Abang" ejeknya.
"Yang bener saja kamu, massa saya di panggil Om! kamu mau saya kasih nilai C?" ancam Danu, Rena menggelengkan kepala.
Mengalah aja deh Ren, ini semua demi kelangsungan hidupmu. Massa depanmu tengah di pertaruhkan!
"Loh, jangan dong Pak. Iyah deh, Iyah" ujar Rena menyerah.
"Iyah apa?" tanya Danu memastikan.
Rena memutar bola mata malas. "Iyah, Abang. Puas?" sewotnya.
Danu tersenyum senang. "Nah gitu dong, tolong dong bicaranya yang lembutan dikit" pinta Danu lagi.
"Saya pulang nih!" ancam Rena.
Di kiranya, hanya dia saja apa yang bisa ancam-mengancam.
Rena hendak berbalik badan, namun Danu mencegahnya.
"Jangan gitu dong, kan kita sudah sampai sini"
"Lagian ngapain sih Bapak, eh.. Abang ajak saya kesini?" tanya Rena.
"Nanti kamu juga tau sendiri, udah yuk"
Danu membawa Rena masuk ke dalam Rumah itu dengan bergandengan tangan. Mereka di sambut para Maid yang bekerja di sana dengan hormat, Rena membalas senyuman.
Jantung Rena rasanya tidak aman lagi, ia merasa gugup untuk bertemu di Keluarga Dosennya itu. Danu mengelus ujung kepala Rena, Rena menatap kearahnya. Pria tersebut menganggukkan kepala seolah memberi tahu kalau semuanya akan baik-baik saja.
Danu mengajak Rena masuk ke Ruang makan di lantai dasar. Kedua Orang tua dan Adik-adik Danu sudah menunggu kedatangan mereka di meja makan.
Wanita cantik paruh baya yang di duga ibunya Danu itu beranjak dari duduknya lalu menghampiri Danu, mencium kedua pipi Putranya. Wanita itu tersenyum hangat kepada Gadis yang datang bersama Putranya. Rena tersenyum manis lalu mencium tangan Mira, Ibunya Danu.
"Hai tante, kenalin saya Rena. Saya Maha--" selalu begitu, dengan cepat Pak Danu memotong pembicaraanku.
"Mah, ini Tunanganku yang aku ceritain kemarin. Kenalin ini Namanya Rena"
Jduarrrrrrrrrr... Serasa di sambar petir.
Apa tadi katanya? Tunangannya? yang bener saja..
"Enggak-" Rena buka suara hendak membenarkan perkataan Danu, namun Danu memotong ucapannya.
"Enggak salah lagi ya kan sayang" ujarnya lalu menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya dan di jari Rena.
Sejak kapan Pria ini memakai cincin itu? Rena terdiam sejenak memikirkan sesuatu.
Oh astaga! kenapa aku bodoh sekali, cincin yang melingkar di jariku ini ternyata bagian dari rencana dia. Pantas dia juga membeli cincin sebelahnya. Ya ampun, kenapa aku enggak kepikiran ke sana sih.
Danu mengedipkan satu mata dan merangkul bahu Rena, Lalu perlahan mendekati wajahnya. Rena memalingkan wajah.
Ku pikir dia hendak menciumku, ternyata aku salah. Dia hendak membisikkan sesuatu di telingaku..
"Kamu berpikir, saya akan menciummu kan? Tentu. tapi itu nanti saat kita sedang berdua saja" bisiknya
"Jangan geer deh, maksud Bapak apa ya? saya butuh penjelasan!" jawabnya dengan suara pelan.
"Nanti saya jelaskan di mobil, sekarang turuti saja apa kataku, katakan kalau kita sudah tunangan" bisiknya lagi
Aku menatap hororr padanya.
"Ekhem, yee.. Mamah di kacangin. Kok malah pada bisik-bisik manja, Mesra-mesraannya nanti aja,"
Blushh, seketika pipiku memerah. Salah tingkah ku di buatnya.
Karena kesal, Rena pun menginjak kaki Danu, di bawah kolong meja. Danu merintih kesakitan.
"Bang Danu kenapa?" aku bertanya tanpa dosa, dengan wajah sok polos.
"Kamu kenapa Nu?" tanya Ibunya.
"Gapapa Mah, Itu tadi ada tikus gede banget nginjak kakiku"
"Mana tikus? Danu cepat panggil Cleaning Service" teriak Mamah Danu, lalu loncat berdiri di atas kursi.
"Hahaha, Mamah ini gampang banget di kibulin"
Mira lalu turun dan duduk kembali dengan raut wajah masam, "Durhaka kamu! Mamah sendiri di kibulin" celetuk Ibu Danu.
Aku hanya diam menyaksikan perdebatan antara Ibu dan Anak.
"Maaf ya nak Rena, Danu emang kayak gitu orangnya. Owh iyah kenalin nama Tante, Mira kalau di samping saya ini Papahnya Danu, suami saya namanya Bram"
Pria paruh baya itu tersenyum hangat.
"Sementara yang ada di samping saya ini adalah Adiknya Danu." ujar Bram memperkenalkan putranya yang lainnya.
"Hai, kenalin saya Reyhan" ujar cowok berhoddie hitam itu.
Rena hanya tersenyum canggung.
"Maaf ya, Anak Tante yang satunya lagi sedang Kuliah. Owh iyah Nak Rena apa sudah yakin dengan semua ini? kan kamu cantik kok mau-maunya sih sama Anak Tante, Dia itu super nyebelin orangnya. Udah gitu manjanya minta ampun, tidur aja nih ya kadang masih minta di temenin."
Oh, astaga! Mamah macam apa dia ini? aib Anak sendiri malah di umbar-umbar, bukannya di tutupin kek dengan kata pujian.
"Please dehh, sehari ini aja jadilah Mamah pada umumnya" gerutu Danu.
Pletakk!
Jitakan centong nasi mendarat di kening Danu. Rena berusaha keras untuk tak menumpahkan tawanya.
Kenyataan Seorang Dosen Danuarta yang di takuti satu Kampus terkuak sudah, sungguh berbanding terbalik dengan ekspresinya dan kelakuannya jika di Kampus.
"Jadi selama ini kamu anggap Mamah ini seperti apa? Huh.. kucoret namamu nanti dari Kartu Keluarga tau rasa kau!" ancam Mira, ekspreasi Danu berubah muram.
"Jangan dong Mah, iyah deh Danu minta maaf" jawabnya pasrah sambil menjewer satu telinganya.
Hape mana hape, harus di foto dan di pajang di mading Kampus nih biar semua orang tau.
Datanglah beberapa pelayan sambil membawa makanan dan minuman, menaruhnya dan menatanya di atas meja setelah itu pamit undur diri.
Danu memotong steak menjadi beberapa bagian di piringnya, lalu memberikannya kepada Rena. Setelah itu Danu mengambil piring milik Rena dan mengulangi hal yang sama.
"Nak Rena ayo di makan, anggap saja rumah sendiri" ujar Mira mempersilahkan Rena makan.
Rena mengangguk mengiyakan.
"Papah rasa calon Kakak Iparmu di santet sama Abangmu, Rey" bisik Bram kepada Reyhan. Reyhan menganggukkan kepala.
Rena terdiam, memilih menghabiskan makanannya. Walau berbisik, suara itu masih bisa di dengar olehnya dan Danu.
"Asal kalian tau, Abang loe ini adalah Pria yang di idam-idamkan satu Kampus. Mereka pada ngejar-ngejar Abang loe ini, termasud gadis yang ada di samping gue ini" ujar Pria ini Dusta.
Rena yang sedang mengunyah steak di mulutnya, tiba-tiba tersedak saat mendengar apa yang Pria di sebelahnya ini katakan.
Uhuk! Uhuk!
Sontak Danu dan Reyhan langsung mengambilkan segelas air putih dan memberikannya kepada Rena. Rena mengambil gelas yang Danu berikan lalu meminumnya hingga tandas.
Danu tersenyum senang, ia merasa menang karena Rena lebih memilih pemberian darinya dari pada dari Reyhan Adiknya.
"Makanya hati-hati dong sayang, pelan-pelan aja makannya" Danu mengelus ujung kepala Rena.
"Maaf sebelumnya, kalau boleh tau kamar kecilnya di mana ya?" tanya Rena.
"Kamar mandinya di lantai atas, ayo Abang antar" Danu menawarkan diri.
"Di ujung sana juga ada Kamar mandi kok," timpal Reyhan.
"Owh di sana ya, kalau gitu saya pamit ijin ke belakang dulu ya.." ucap Gadis itu mohon ijin pamit ke kamar mandi.
Mira bangkit dari duduknya lalu menjewer telinga Putranya.
"Sejak kapan kamu jadi m***m seperti ini, huh!.. di atas kan kamar kamu, rasain ini!"
"Aaaaa, ampun Mah. Lepasin" lirihnya
"Rasain loe!" seru Reyhan.
"Udah-udah" sahut Bram setelah menghabiskan makanannya.
Tak lama kemudian, Rena kembali.
"Nak Rena, maaf Om enggak bisa lama-lama karena ada banyak kerjaan di Kantor. Om pamit ya, lain kali kita ketemu lagi dan ngobrol banyak" pamit Bram pada calon mantunya itu.
"Iyah Om, gapapa" jawab Rena.
"Mah, aku berangkat dulu ya" pamitnya pada sang Istri tercinta, tak lupa memberikan sebuah kecupan hangat di pipi Mira.
"Bang, gue pamit ke kamar, Kakak ipar, Adikmu yang tampan ini pamit pergi ke kamar ya. Kalau butuh apa-apa cari aja aku, aku siap membantu" gumam Reyhan, Rena mengangguk mengiyakan
Reyhan bangkit dari duduknya, lalu pergi meninggalkan meja makan.
Setelah kepergian Bram, Mira mengajak Rena dan Danu ke ruang keluarga untuk bersantai ria. Rena mengekori Tante Mira, sementaraDanu pamit naik ke lantai atas
"Tante itu pengen banget punya anak Perempuan tapi gk kesampaian, anak Tante 3 semuanya Laki-laki. Tante senang setelah denger Danu sudah memiliki Tunangan"
"Hehehe.. iyah Tante"
Lama berbincang-bincang dengan Tante Mira, kini tiba saatnya ada satu pertanyaan yang Rena takutkan pun terjadi.
"Oh iyah kapan kalian cepet-cepet nikah? Tante udah gk sabar pengen punya Mantu, nimang cucu.
Aduh! mati dah gue. Mesti jawab apa nih gue? mana lagi Bang Danu kok gk balik-balik.
"eee... anu... eee" Rena gk tau mesti jawab apa.
"Lebih cepat lebih baik" ujar Danu dari atas tangga,
Nah itu dia orangnya udah datang, yang udah bikin gue masuk dalam situasi seperti ini.
Rena menoleh ke arahnya, seketika terpesona melihat Pria yang ada di hadapannya itu.
Danu memakai kaos putih di lapisi jaket levis dan celana jeans, tak lupa juga sneakers warna senada di kakinya. Rambutnya setengah basah itu yang menambah kesan karismatiknya.
Gila! Pak Danu ganteng juga ya ternyata, habis mandi pasti ini orang. Rasanya inginku bersandar di d**a bidangnya.
"Menikmati pemandangan heh!"
Rena menggelengkan kepala, mencoba membuang pikirannya itu.
Shit! ketahuan deh gue, kalau lagi menikmati indahnya ciptaan yang satu ini.
"Pede banget sih jadi orang" elakku.