Seorang Siswa melompati pagar Sekolah lalu pergi meninggalkan area Sekolah. Menaiki mobil mewahnya lalu pergi ke Kantor Abangnya. Sesampainya di sana,
"Bapak ada?" tanya Pria yang masih menggunakan seragam putih abu itu pada Sekretaris.
"Ada, tapi Pak-" Reyhan melenggang masuk ke dalam ruangan sang Ceo tanpa mendengar perkataan Sekretaris Neta.
"Aduh gimana ini, semoga aja Pak Bos tidak benar-benar ingin memecatku" batin Sekretaris Neta.
Sesampainya di dalam, Reyhan mendapati Danu dalam keadaan kacau. Reyhan menjatuhkan tubuhnya di sofa bed.
"Udah gue bilang berapa kali, untuk mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk" Reyhan tak menggubrisnya malah menyuruh Abangnya untuk diam.
Karena kesal, Danu melempar bolpoin kearahnya.
Pletak!
"Akhhh"
tepat sasaran.
Reyhan mengelus keningnya yang terasa sakit. "Apaan sih lu bang!" pekik Pria itu.
"Lu yang apa-apaan! lu kira ini Kantor punya nenek moyang lu apa! seenaknya keluar-masuk tanpa ijin" geram Danu.
Danu bangkit dari duduknya, lalu duduk di samping Adiknya.
"Lu bolos sekolah lagi?" Reyhan mengangguk.
Danu membuang nafasnya kasar, ia menyandarkan kepalanya di bahu sofa dan memilih memejamkan mata.
Reyhan menoleh ke arahnya. "Bang, kalau ngelahirin itu termasuk judi ya?"
"Bego! materi macam apa itu" sahut Danu dengan memutar bola mata malas.
"Ikh bener loh bang, soalnya kalau ngelahirin itu kan taruhannya nyawa" lanjut Reyhan.
Danu menepok jidat, enggak habis pikir dengan Adiknya yang satu ini. "Gini nih jadinya kalau cuma modal Crot! yang kalau pas lahiran kagak di adzanin tapi malah di putarin lagu Jaran goyang"
Reyhan terdiam, memikirkan suatu.
"Modal Crot? maksud lu Bang?"
"Lu tau saus botolan kan?" tanya Danu lagi, Reyhan mengangguk.
"Iyah tau,"
"Coba dah lu ambil saus botolan di Pantry terus bawa sini" perintah Danu.
Reyhan pun dengan polosnya langsung pergi ke Pantry untuk mengambil apa yang di minta Bang Danu. Beberapa menit kemudian, Reyhan kembali dengan membawa saus botolan lalu memberikan pada Danu.
"Coba lu buka tutup botolnya, terus nunggingin itu botol lalu kocok dan tekan itu botol hingga sausnya keluar" Reyhan dengan polosnya menuruti apa yang Danu perintahkan.
Crot!
Crot!
"Eh iyah, tapi tunggu. Emang apa hubungannya saus botolan sama yang gue tanyain tadi?" tanya Reyhan masih tidak paham.
"Astaga! gue pecat juga lu jadi Adek. efek dari nyemilin jempol ya gini nih, lahir lah bocah blo'on kayak loe. lagian kenapa sih kok tanya-tanya kayak gitu, ya gue mana tau. Tanya sono sama emak loe" geram Danu.
Danu bangkit dari duduknya, mengambil benda pipih yang tergeletak di atas meja lalu mencoba menghubungi seseorang.
Di lain tempat
Jam 8 pagi, di sebuah kamar, seorang Gadis tengah menikmati hari liburnya dengan tidur seharian.
Terdengar benda pipih di atas meja berdering beberapa kali, pertanda ada panggilan masuk. Merasa terganggu, Gadis itu pun memutuskan untuk bangun, kedua tangannya mengikat rambut panjangnya yang terurai lalu mengambil handphone miliknya.
"Hoam.... siapa sih? ganggu gue aja" gumam Gadis itu lalu bangkit dari tidurnya.
"Pak Danu?, ada apa dia telpon gue?
Terpampang di layar hapenya, ada 5x panggilan tak terjawab masuk dan saat itu juga Hapenya berdering kagi, Rena pun menekan tombol warna hijau.
[Hoammmm... ada apa?] tanya Rena.
[Lagi di mana? bisa ketemuan tidak?] seru Pria di sebrang sana.
[Lagi di Kos'an, ada perlu apa ya pak?]
[Tidak usah banyak tanya, nanti saja tanyanya. Bisa atau tidak?]
[Oke, saya siap-siap dulu kalau begitu]
[Hmm, kirimkan alamatmu]
panggilan pun tertutup, usai mengirimkan alamatnya Rena segera bergegas untuk mandi. Usah mandi ia memilih pakaian mana yang akan ia kenakan. Pilihannya jatuh pada Dress selutut berwarna Mocca.
Usai memakai pakaian, kini Rena duduk di depan meja rias sambil mencoba mencolok'an kabel catokan rambut di stop kontak. Sambil menunggu catokan panas, Rena mengoleskan lipbalm di bibirnya. Di rasa sudah panas, Rena pun mulai mencatok churly rambutnya. Selesai mencatok, ia menyemprotkan parfume ke tubuhnya, tak lupa mengenakan flat shoes.
***
Drttt...
Drttt...
Sebuah pesan masuk berisi alamat Rena.
Danu menyambar jaket dan kunci mobilnya, lalu pergi meninggalkan Kantor.
"Lah kok gue di tinggalin" gumam Reyhan.
Danu berlari menghampiri mobilnya yang terparkir, Danu mengambil alih kemudi lalu menancap pedal gas. Di tengah perjalanan Danu menghentikan mobilnya lalu masuk ke dalam toko bunga. Ia hendak membelikan sebuket bunga mawar, usai membelinya Danu kembali ke dalam mobil. Menaruh bunga tersebut di jog belakang lalu melanjutkan perjalanannya.
Tak beberapa lama, sampailah ia di depan Kos'an Rena. Pria itu nampak memasangkan airpods nya ke telinga, mencoba menghubungi Gadis itu lagi.
"Cepetan turun! saya sudah ada di depan" gumamnya lalu segera mematikan teleponnya.
Rena dengan cepat menyambar tas selempangnya lalu bergegas ke luar kamar tak lupa mengunci pintu. Gadis itu turun ke bawah lalu menghampiri mobil Danu, membuka pintu mobilnya lalu duduk di jog penumpang paling depan. Danu mengambil Sebuket bunga mawar yang ada di jog belakang untuk di berikan kepada Rena. Di rasa sudah siap, Danu pun menjalankan mobilnya meninggalkan area Kos'an.
Suasana di dalam mobil begitu mencekam, salah satu dari mereka tak ada yang membuka suara. Entah apa yang ada di pikiran masing-masing. Tak sadar mobil yang mereka tumpangi pun sudah berhenti area parkir, Danu mengajak Gadis itu turun lalu masuk ke dalam sebuah Restoran mewah.
Danu menggenggam tangan Rena, berhenti di depan Resepsionis "Pesanan atas nama Danuarta"
"Oh mari Tuan, saya antarkan" ujar salah satu Pelayan mempersilahkan.
Danu dan Rena membuntuti Pelayan itu, sampailah mereka di ruangan VIP. Pelayan itu mempersilahkan mereka untuk duduk lalu pamit undur diri.
Danu dan Rena duduk saling berhadap-hadapan.
"Ada perlu apa Bapak ajak saya ke sini?" tanya Rena.
"Saya ingin berbicara sesuatu sama kamu, tapi jika kamu duduk di sana bagaimana saya ngomongnya. Kemarilah" ujar Danu sambil menepuk kursi yang ada di sampingya.
Gadis itu pun bangkit dari duduknya lalu menghampiri Pria itu, saat hendak menarik kursi, Danu langsung menarik tangannya sehingga Rena kehilangan keseimbangan dan terjatuh di pangkuan Danu.
"Aaaaaa!!!" pekik Gadis itu.
Suara hembusan nafas menerpa daun telinga Rena, membuat Gadis itu merasa kegelian. Rena mencoba bangkit namun Danu dengan cepat mencegahnya, Posisi yang seperti itu membuat Gadis itu memberontak.
"Diamlah! jika kamu terus seperti ini maka sesuatu yang ada di bawah sana terbangun, maka jangan salahkan saya jika saya meminta pertanggung-jawaban!" mendengar lontaran Danu, Rena pun langsung terdiam.
Danu tersenyum smirk saat melihat Gadis mungil yang berada di pangkuannya itu terdiam, menundukkan pandangan. Pria itu menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Gadis itu lalu menarik tekuknya. Pandangan mereka bertemu sebelum akhirnya Danu melumat bibir Gadis itu, awalnya tak ada respon dari Rena namun akhirnya Gadis itu ikut karut dalam permainan yang di pimpin Danu.
Rena merangkul bahu Danu, sehingga Danu semakin menggila. Melumat, mengulum, saling bertukar air liur dengan penuh hasrat. Di rasa kehabisan pasokan oksigen, Danu pun melepas lumatannya. Keduanya bernafas nghos'nghosan..
"Kamu mencoba menggodaku heh! dengan parfume yang kamu kenakan itu?" Gadis itu hanya menggelengkan kepala.
"Kalau begitu jangan pakai Parfume itu lagi, jika tak ingin aku menggila!"
Rena menganggukkan kepala, Danu pun memanggil pelayan untuk membawakan pesanan. Tak lama kemudian pelayan datang dengan membawa pesanan mereka, saat Rena hendak turun dari pangkuan Danu, Danu dengan cepat menyuruhnya untuk tetep dalam posisinya. Pelayan tersebut menaruh pesanan mereka di atas meja, dan mempersilahkan mereka lalu pamit undur diri.
Melihat Rena dalam pangkuan Danu, Pelayan tersebut pergi sambil menatap tak suka terhadap Rena. "Dasar Wanita jalang!" bisiknya.
"Tunggu apa lagi? ayo makanlah apa yang kamu suka. Apa mau saya suapin?"
"Saya bisa makan sendiri, tapi jika posisi saya seperti ini bagaimana saya mau makan, jadi... tolong biarkan saya duduk di kursi ya," gumamnya.
"Baiklah, tapi tolong suapin saya dulu" pinta Danu dengan suara manja.
"Bapak kan bukan anak kecil lagi, ya makan sendiri dong!"
"Kalau begitu tetaplah diam di sini!" gertak Danu.
Rena menghembuskan nafas kasar, Gadis itu menyerah. Ia turun dari pangkuan Danu lalu duduk di kursi, samping Pria itu.
"Bapak Danu yang terhormat, mau makan apa? biar saya suapin" gumamnya dengan nada sedikit meninggi.
"Jangan panggil Bapak jika sedang di luar Kampus! bukankah kita ini adalah Pasangan? suaramu itu kok cempreng sekali! enggak ada lembut-lembutnya jadi cewek!" gerutu Pria di sampingnya.
Sabar, sabar... batin Rena.
"Abang Danu... mau makan apa? sini biar saya suapin" gumamnya dengan suara lemah gemulai seperti orang mau nyinden.
"Mau yang ini" unjuk Danu pada bibir ranum Rena.
Brakk!!
Rena menggebrak meja, lalu bangkit dari duduknya.
"Sudah cukup ya Pak! saya muak dengan semua ini!" Rena menyambar tasnya hendak pergi dari sana.
"Baik, jangan salahkan saya jika di pelajaran saya kamu dapat nilai C!" ancam Pria itu.
Rena yang hendak membuka pintu pun mengurungkan niatnya, ia lalu berjalan kembali menghampiri Pria itu sambil menampilkan senyum manisnya dengan terpaksa. "Maafkan saya ya, saya janji akan menuruti perintah Abang jadi tolong jangan beri saya nilai C" ujarnya memohon.
Danu tak menggubris permintaan maaf Rena, ia sibuk dengan makanannya. Rena yang merasa di cuekkin pun merasa tak terima.
Selama makan, Danu hanya fokus menghabiskan makanannya. Setelah makannya habis, Pria itu lalu buka suara. "Bukankah kamu bilang kamu sudah muak dengan semua ini? lalu kenapa masih di sini?"
"S-saya tarik kembali omongan saya tadi, tolong maafin saya, saya janji akan menuruti permintaan Abang asal jangan kasih saya Nilai C" gumamnya sambil menampilkan pupil eye nya.
"Makanlah, lalu kita pergi dari sini.. Saya masih ada urusan"
Rena pun menuruti perintah Danu, usai makan dan meminum minumannya. Danu meninggalkan beberapa lembar uang tip di atas meja.
"Kalau begitu ayo ikut saya" ajak Pria itu, Rena pun mengikutinya dari belakang menuju parkiran.
Sesampainya di parkiran, Danu membukakan pintu dan mempersilahkan Rena masuk lalu kembali menutup pintu mobil. Danu berjalan memutari mobil lalu mengambil alih kemudi.
Danu melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran, tak ada lagi percakapan diantara mereka. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga akhirnya Rena ketiduran.
Sejak kapan dia tidur? jika ku antar dia pulang ke Kos'an nya dalam keadaannya seperti ini, maka apa yang akan orang lain pikirkan. Pasti mereka akan berpikir jika aku sudah melakukan sesuatu padanya. Danu di rundung ke bingungan.
Danu pun memilih membawanya pulang ke Apartemen. Sampai tak terasa mobil yang mereka tumpangi pun sampai di sebuah Apartemen Danu, Danu menoleh ke sampingnya. Menatap Gadis yang tertidur pulas di sampingnya, entah sejak kapan Gadis itu terlelap? Danu mengelus bibir mungil Gadis itu dengan jarinya. "Inginku merasakannya lagi, lagi dan lagi" bisiknya.
Bolehkah aku egois? aku ingin bibir ini, mata ini, hidung ini dan semua yang ada padanya harus menjadi milikku! batin Danu.
Danu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Rena, memandang wajah cantik itu dalam-dalam. Danu turun dan membukakan pintu lebar-lebar. Karena tak tega untuk membangunkan Gadis itu, Danu pun mengendong Rena ala bridal style menuju Apamartemennya. Danu masuk kedalam lift, lalu menekan tombol lantai 8. Sesampainya di lantai 8, Danu berjalan menuju kamarnya di nomor 23.
Tak jauh dari tempatnya berada, ada tiga orang Gadis menatap ke arah Danu. "Beruntung banget ya istrinya, punya Suami tampan dan Romantis kayak dia" gumam salah satu dari mereka.
"Iyah, beruntung banget" puji teman yang satunya.
Danu yang tak sengaja mendengar perkataan ketiga Gadis itu, tersenyum senang. Sesampainya di dalam apartemennya, Danu menidurkan Gadis itu di ranjang, di kamar ruang tamu.
"Seharusnya akulah Pria yang paling beruntung jika menjadi Suaminya"" batin Danu.
Usai menyelimuti tubuh mungil Gadis itu, Danu lalu keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya. Danu bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri.
**
Di lain tempat, pukul 10 malam, tepatnya di Kostan. Seorang Wanita paruh baya setia berdiri di depan pagar, menantikan kepulangan Rena, Keponakannya.
Pria paruh baya menghampiri dirinya, menepuk pundak Wanita itu. "Lebih baik kita masuk ke dalam. Kamu sudah nunggu dia dari tadi, Mas enggak mau kamu sampai sakit, Dek" ajak Heru pada Istrinya.
"Tapi Mas,"
"Dia mungkin menginap di rumah temannya"
"Tapi kok dia enggak ngabarin aku, enggak seharusnya dia kayak gini. Aku sebagai bibinya kan jadi khawatir takut dia kenapa-kenapa" lanjut Wanita paruh baya yang bernama Anik.
"Dia mungkin lupa ngabarin kita, lagian Rena kan sudah besar, dia pasti bisa jaga diri dan bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. udah ayo masuk" ajak Heru.
Sepasang Suami-Istri itu pun masuk ke dalam rumahnya.