Mimpi Buruk Itu Lagi

1102 Kata
Khusus 18+, bagi adik-adik yang belum cukup umur mohon diskip saja. Ingat ya dosa tanggung sendiri. Pukul tengah malam aku terbangun karena kebelet pipis, aku bergegas turun dari atas ranjang menuju kamar mandi. Aku terkejut saat mendengar dari luar seperti ada orang di dalam sana. "Siapa di dalam sana?" tanyaku. Tak ada sahutan. Bulu kudukku merinding saat baru menyadari kalau Tata tidak menginap di sini malam ini, itu artinya hanya aku seorang diri. Lantas siapa yang ada di dalam Karena sudah tak tahan lagi, alias sudah di ujung tanduk. Aku pun memberanikan diri membuka pintu itu. Ceklek! Pintu terbuka, aku terkejut saat ada seseorang di dalam sana. Seseorang yang memakai jubah serba hitam, dan wajahnya tak terlihat karena memakai topeng berjalan menghampiriku. "K-ka-kamu siapa?" tanyaku. "Jangan takut, sayang" ia melangkah mendekatiku, seketika aku berjalan mundur. "Siapa kamu? mau apa kamu?" "Tenang, jangan takut aku enggak gigit kok" Tunggu, kayaknya aku kenal suara ini, tapi siapa yaa... Batin Rena. "Apa kamu ada kaitannya dengan hilangnya Mbak Arini?" "Jawabanmu benar, aku lah di balik hilangnya Arini. Hahahaha" "Dimana Mbak Arini berada?" tanyaku. "Dia sudah tak ada" "Maksudmu?" "Dia sudah bahagia di alam sana, Ku harap dia berterima kasih padaku karena sudah membantunya mempercepat menemui ajal" "M-maksud kamu?" "Aku sudah membunuhnya" jelasnya. Orang misterius berjubah hitam itu melangkah mendekati Rena, membuat Rena melangkah mundur. "Enggak, enggak mungkin, kenapa kau tega membunuhnya?? Apa salahnya? Kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau perbuat!" "Enggak ada yang nggak mungkin, aku membunuhnya karena ada sebabnya. Aku memiliki alasan untuk itu. Hahaha" "Anda sudah gila!" "Hahahahaha... aku emang sudah enggak waras, kini kau adalah target ku selanjutnya, KAU HARUS MATI!!!! rasakan ini" Jlepppp, "Akhhhh!" Lirih Rena kesakitan. "Tidaaakk!" teriak Gadis yang tengah tertidur di ranjang. Mendengar suara jeritan, Danu lantas langsung bergegas menemui Rena di kamar tamu. Membuka pintu dan mendapati Rena terbangun dari tidurnya. Danu menghampiri Gadis itu. "Hei, Rena kamu kenapa?" "Loh kok ada Pak Danu? saya ada di mana?" tanya Gadis itu kebingungan, ia mengira jika dirinya berada di kamar Kosnya. "Kamu ada di Apartemen saya, kamu tadi tertidur pulas saya enggak enak hati untuk banguninnya jadinya saya ajak kamu ke sini" "Owalah, kamu kenapa? mimpi buruk?" "Saya takut Pak. Hiks..Hiks..Hiks.." Rena memeluk Pria yang ada di hadapannya ini. Danu melepas pelukan Rena, lalu menatap wajah Gadis itu. Tangannya mengelap pipi gadis itu yang basah. "Hei kok nangis, kamu tenang dulu ada saya di sini, ini minumlah supaya kamu tenang." ujarnya lalu memberikan segelas air putih yang ia ambil dari atas meja yang ia siapkan tadi, pada Rena. Rena pun mengambil lalu meminumnya hingga tandas dan memberikan kembali gelas kosong itu pada Danu. "Makasih" "Ada apa? coba cerita sama saya. Barangkali saya bisa bantu" Rena terdiam, masih terbayang mimpi yang ia alami barusan. "Maaf Pak, saya belum bisa cerita sekarang" Drrttttt.. Drrttttt.. Drrttttt.. Benda pipih yang berada di saku celana Pak Danu bergetar, pertanda ada panggilan masuk. "Bentar ya, aku angkat telepon dulu" Panggilan pun tersambung. [Assallammualaikum Mah, ada apa?] [Nu, kamu dimana?] tanya seseorang dari sebrang sana. [Di Apartemen, ada apa Mah?] [Nu, tadi Pagi Mamah dapat kabar dari pihak Sekolah. Katanya Reyhan Adik kamu bolos lagi, mana udah jam segini Reyhan belum pulang juga. Kamu tau enggak dimana Adik kamu itu?] [Paling itu Anak nginep di rumah temannya, udahlah Mah biarin aja. Reyhan itu bukan Anak kecil lagi, dia pasti bisa jaga diri] [Mamah enggak mau tau! kamu harus cariin Reyhan sampai ketemu lalu bawa Adikmu pulang menghadap Mamah!] [Oke-oke, nanti aku cari] Uhuk! Uhuk! [Nu, suara siapa itu? kamu bawa perempuan ke Apartemen kamu?] tanya Mira. [Itu Rena, Mah] [Owh Rena, eh kamu bawa dia ke Apartemenmu? itu artinya kalian cuma berdua doang? Danu!] bentak Mira. Danu refleks menjauhkan gawainya dari telinganya. [Apa sih Mah] decaknya. [Kamu apain calon Mantu Mamah?] [Apa sih Mah, dia baik-baik aja. Aku gk ngapa-ngapain itu Anak, justru Anak Mamah ini yang di apa-apain sama Rena] sungutnya. Rena memutar bola mata malas dengan mulut komat-kamit. [Yaudah kalau gitu, awas ya kamu kalau sampai calon Mantu Mamah kenapa-kenapa, kamu adalah orang pertama yang bakal Mamah habisin!] ancam Mira [Sejak kapan Mamahku yang cantik ini jadi seorang Pembunuh? ikhhh serem... aku ini anakmu sendiri loh Mah, tega bener mau bunuh anak sendiri. udah ya Mah aku tutup dulu teleponnya] ujarnya lalu mengakhiri panggilan. "Ada apa?" tanya Rena. "Mamah nelepon, katanya khawatir sama kamu" jawab Danu, lalu duduk di sisi ranjang menghadap Rena. Tante Mira perhatian banget. "Iyah tapi perhatiannya sama kamu, sedang dia enggak nanyain keadaan anaknya sendiri" "Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa saya bisa ada disini?" tanya Rena pada Danu. "Kamu ketiduran di mobil, Abang enggak tega bangunin kamu. Yaudah Abang bawa kamu kesini" Rena menoleh kebawah selimut, saat ini baju yang ia kenakan berbeda dengan baju yang ia pakai tadi sore. Danu menyunggingkan senyuman. "Abang rasa baju yang kamu pakai tidak leluasa ketika di pakai tidur, jadi di ganti" terangnya. Rena membulatkan bola matanya. "Yang gantiin siapa? jangan bilang kalau itu--" Rena menghentikan ucapannya. "Iyah, itu Abang. Kamu pikir siapa, di sini enggak ada siapa-siapa selain kita berdua." Rena refleks mundur sambil menutupi dadanya menggunakan selimut. "Apa yang sudah Bapak lakukan!" teriak Rena. Rena mengambil bantal yang ada di sampingnya lalu melemparnya ke arah Danu. Bug! Bug! Danu dengan cepat menangkap Gadis itu, menindih tubuh mungil Rena di bawah kungkungannya. Cup. Pov Rena. Aku seperti membeku ditempat, bagaimana tidak, Pak Danu menciumku lagi. Tidak hanya mencium tapi juga melumat bibirku, lidahnya memasuki rongga mulutku, mengukur setiap inci gigiku, lalu lidah kami saling beradu. Aku terbuai karenanya. Aku berusaha untuk mengimbangi permainannya. Dirasa kehabisan Nafas, Pak Danu pun melepas pangutannya. "Manis" Blush. Pipiku merona, ku alihkan pandanganku. Malu dong aku kalau sampai ketahuan ini pipi merah-merah udah kayak udang rebus. Tangannya mengulur mencoba membuka kancing bajuku, aku langsung tersadar dan menghentikan aksinya. Jangan sampai hawa nafsu menguasaiku. Bang Danu bangkit dari posisinya. "Maaf" sesalnya lalu turun dari ranjang dan langsung melenggang pergi. Aku menatap kepergiannya hingga tak terlihat lagi. *** Danu keluar dan menutup pintu, bersandar pada daun pintu sambil menggengam dadanya. Deg! Deg! Deg! Jantungnya berdetak lebih kencang. "Mengapa aku tidak bisa menahan diri untuk tak menyentuhnya? lebih baik aku kembali ke kamar dan menyelesaikan semuanya sebelum ini terlambat" batinnya. Pria itu lalu pergi ke lantai atas, menuju kamarnya. Ia harus mengatasi sesuatu di bawah sana yang meminta pertanggung jawaban. Sesampainya di kamar mandi, Danu mengguyur tubuhnya dengan air pancuran dari shower. Danu berulang kali mengusap wajahnya, mencoba membuang pikirannya itu. karena ia terus membayangkan bisa menikmati tubuh molek Gadis itu. Setelah menyelesaikan tugasnya, Danu lalu menghentikan acara rituak mandinya itu, lalu bergegas ke kamar untuk tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN