(Sebelum baca, jangan lupa follow Author dan tekan Love supaya tidak ketinggalan ceritanya. Makasih bagi yang sudah memfollow dan tekan love.)
Keesokan harinya.
Usai mandi, Rena kembali ke kamar dengan handuk yang melilit di tubuhnya, saat ia hendak membuka lemari ia baru tersadar jika dirinya sedang tidak di Kostannya, melainkan di Apartemen Dosennya. Sialnya dia tidak membawa baju ganti.
"Ya ampun, gue kan enggak bawa baju ganti. Gimana ini? baju yang kemaren gue pakai dia taruh mana ya?" Rena merutuki dirinya sendiri.
Gadis itu menelusuri ruangan tersebut dan tak mendapati bajunya, Ia berjalan kesana kemari dengan tangan menopang dagu.
Gadis itu mengambil gawainya yang berada di atas ranjang, lalu mencoba menghubungi seseorang namun tak ada jawaban.
"Sial banget hari ini gue, sebaiknya gue pinjem baju tu Dosen aja kali ya.. siapa tau ada yang pas di gue" gumamnya lalu perlahan membuka pintu, namun saat hendak keluar kamar mendadak Rena kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
Gadis itu lupa jika Dosen tersebut masih ada di sana, tak berapa lama terdengar ketukan pintu. Danu memanggil namanya.
"Ren, ayo sarapan." ajak Pria itu dari luar.
"Duluan aja Bang, aku sarapan di kantin aja nanti" sahut Gadis itu.
Pria muda itu pun meninggalkan kamar tersebut dan bergegas ke dapur untuk sarapan, usai sarapan Danu kembali mengetuk kamar tamu.
Tok! Tok! Tok!
"Ren, apa kamu sudah siap? ayo kita berangkat, nanti telat" ajaknya.
"Abang berangkat duluan aja," sahut Gadis itu dari balik pintu.
"Apa kamu baik-baik saja di dalam? oh iyah, tadi Abang suruh anak buah Abang buat ambil tas kamu di Kosan.. Tas nya Abang taruh di sofa ya" Pria itu khawatir takut terjadi sesuatu pada Gadis itu.
"Aku baik-baik saja, Iyah Bang, makasih"
"Baiklah, kalau perlu apa-apa cepat hubungi Abang. Abang berangkat dulu"
"Hmmm" Gadis itu berdehem.
Pria itu pun pamit pergi, keluar dari Apartemennya berjalan menelusuri koridor lalu menaiki lift.
Setelah kepergian Danu, Rena perlahan membuka pintunya. Memastikan jika Pria itu sudah pergi. Setelah di rasa aman, Gadis itu pun keluar kamar lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar Danu. Rena lalu memasuki kamar tersebut dan membuka kedua pintu lemari. Disana terdapat banyak setelan kemeja dan jas, baju-baju branded keluaran terbaru bergantungan.
Saat hendak memilah salah satu baju di sana, Gadis itu mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat Gadis itu panik. "Gawat! jangan-jangan Bang Danu balik lagi. Gimana nih?"
Tiba-tiba pintu di buka, seorang Pria berdiri di ambang pintu dengan membulatkan kedua mata berbarengan dengan jeritan Rena dari dalam kamar.
"Aaaaaaaaa" teriak Gadis itu, Pria itu pun seketika berbalik badan dan menutup kedua matanya.
Rena segera menutup pintu kamar itu kembali, Brakk!
Walau dirinya masih terbalut handuk, namun tetap saja.
"Maaf, Kakak Ipar sedang apa disini?" tanya Pria berseragam putih abu itu. Masih dalam posisinya.
"Tolong jangan salah sangka, biar ku jelaskan. Jadi aku kesini tak membawa baju ganti, aku masuk ke kamar ini hendak meminjam baju Bang Danu" terangnya.
"Kalau begitu pakailah ini, ini sepertinya akan lebih pas di tubuhmu dari pada pakai baju Bang Danu yang kebesaran itu" ujarnya lalu menyodorkan hoddie berukuran full size yang ada di tangannya kepada Gadis itu.
Gadis itu pun berjalan beberapa langkah lalu mengambil hoddie dari tangan Pria itu, segera ia menutup dan mengunci pintunya lalu memakainya.
"Sebaiknya Aku turun ke bawah" ujar Reyhan.
Hoddie itu berukuran full size sehingga mampu menutupi tubuh mungilnya. Panjangnya yang mencapai selutut membuatnya tak perlu memakai celana.
Rena berdiri di depan cermin lalu memutar badan. "Setidaknya ini lebih baik" gumamnya mematutkan diri lalu berjalan membuka pintu lalu keluar.
Berjalan menuruni anak tangga, lalu pergi menemui Reyhan, Adik Danu di ruang tamu.
"Makasih ya atas pinjamannya, nanti akan aku kembalikan" ucap Gadis itu dengan pandangan menunduk kebawah.
Reyhan yang duduk di atas sofa berdehem. "hmmm..."
"Kalau begitu aku pergi dulu" pamitnya.
Gadis itu memasuki kamar tamu, menyambar tasnya lalu melenggang pergi meninggalkan Reyhan seorang diri.
Sesampainya di Kampus, Rena berdiri di depan kelasnya. Kelas sudah di mulai membuat Gadis itu ragu-ragu saat hendak masuk ke dalam.
Lebih baik aku ke kantin saja, dari pada harus mendengar ceramahan Bu Dian.
Terlebih Bu Dian adalah salah satu Dosen cerewet sepanjang masa.
Saat memutar badan hendak pergi ke kantin, pintu di buka dan keluarlah sang Dosen.
"Rena, mau kemana kamu?"
Rena menghentikan langkahnya. Mampus gue!
Gadis itu membalikkan Badan, tersenyum lebar. "Eh Ibu, a-anu bu" tangannya menggaruk tekuknya yang tidak gatal.
"Anu-anu apa?"
"Maaf, Bu saya terlambat" ucap Gadis cantik berambut panjang itu.
"Berhubung kamu adalah Mahasiswi berprestasi, maka untuk kali ini kamu saya maafkan tapi tidak untuk kedua kali dan seterusnya" tegurnya lalu mempersilahkan Rena masuk.
***
Mata kuliah hari ini sudah selesai, Rena tengah memasukkan buku dan laptopnya ke dalam tas lalu bersiap untuk pulang. Saat hendak bangkit dari duduknya, seseorang datang. Menghampirinya lalu menarik tangannya dan membawanya ke sebuah ruangan.
Orang itu adalah Danu. Danu membawa Rena masuk ke dalam Ruangannya, menyuruh Gadis itu untuk duduk. Danu duduk di sisi meja menghadap Rena dengan menopang satu tangan pada meja.
Pria muda itu menatapnya dingin.
"Apa lihat-lihat" ketus Gadis itu.
"Dapat dari mana Hoddie itu?" tanya Danu dengan mata memicing.
Rena memutar bola mata malas. "Untuk apa Bapak menanyakan itu? dari manapun saya mendapatkannya ini bukan urusan Bapak!"
"Jelas ini urusan saya, kamu kan Tunangan saya!"
Rena bangkit dari duduknya. "Ingat Pak, bahwa itu hanya sebatas pura-pura. Enggak lebih!" peringatnya.
Mendengar perkataan Rena, Danu merasa seperti ada sesuatu yang menusuk dadanya, rasanya begitu sakit.
"Apakah hanya Abang yang memiliki rasa itu? apakah kamu tidak merasakan apa hal yang sama?" hatinya bertanya-tanya.
Danu bangkit dari duduknya, dengan cepat mengambil kemeja yang tergantung di dalam lemari lalu memberikannya pada Gadis itu. "Cepat lepas, dan pakai ini!" perintahnya.
Gadis itu hanya diam tak bergeming, dirinya terus memandangi kemeja yang berada di genggamannya.
"Tunggu apa lagi? cepat lepaskan itu dan pakai ini. Oh kamu mau saya yang pakaikan, oke dengan senang hati" Danu hendak menyambar kemeja itu namun Rena menjauhkan kemeja itu darinya.
"Tidak perlu, saya bisa sendiri" tegasnya.
"Kalau begitu cepat pakai di sini! tunggu apa lagi?" godanya.
"Apaaaaa! yang bener saja, huh!" pekiknya lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi dengan menutup pintu kamar mandi keras-keras.
Brakkkkk!
Tak lama kemudian Rena keluar dengan raut wajah di tekuk.
Danu terpaku menatap gadis di hadapannya. "Buset, ini anak boleh juga bodynya" batin Danu.
"Ekhem.. ekhem...," Gadis itu berdehem, menyadarkan Danu dari hayalannya.
Danu melangkah mendekati Gadis itu dengan seringaian, membuat Rena berjalan mundur.
"Apa yang mau dia lakukan? mengapa tatapannya seperti itu, seolah-olah seperti binatang buas yang hendak menyantap mangsanya" batin Rena.
Punggung Rena terpentok ke dinding, Danu langsung menghadangnya dengan kedua tangannya di sisinya. Menghimpit Gadis itu sehingga tak bisa berbuat apa-apa.
Danu perlahan mendekatkan wajahnya, mendaratkan ciuman pada bibirnya. Menjelajahi bibir ranum Rena dengan lumatan-lumatan penuh kelembutan bukan hawa nafsu. Lumatan yang perlahan turun ke leher jenjang Rena, tangannya melepas kancing baju yang Gadis itu satu persatu.
Terpampang kedua bongkahan kenyalnya yang masih berbalut Kaca mata, Danu terkesima melihat kedua bukit yang sebagian menyumbul keluar karena tak dapat di tampung semua. Tangannya mencoba mengeluarkannya dari kurungannya. Benda kenyal itu pun tumpah, tangannya meremas kedua bongkahan kenyalnya lalu melumat habis p****g berwarna merah jambu itu.
"Emmhhh... Ahhhhhh.." desah Gadis itu ketika merasakan pagutan lembut nan hangat mendarat pada kedua buah dadanya.
"Emmmhhh.. Akhhhhh.. Engghhhh." desahnya lirih.
Pria itu membungkam bibir Rena dengan lumatan, seakan-akan sengaja dia lakukan untuk menghentikan desahannya.
Danu melepas pagutannya, lalu melumat kembali buah d**a Rena. Saat salah satu tangannya menurun hendak menyentuh alat sensitifnya.
"Emmmhh... tolong.. jangan.. Pak! Hiks.. Hiks.." Rena yang tersadar langsung menggelengkan kepala, mencoba menghentikan Pria itu dengan suara terbata-bata.
Danu kemudian menghentikan permainannya itu. Berusaha membantu membenarkan kembali baju yang Gadis itu kenakan lalu memeluk Gadis itu erat.
"Maaf" sesal Pria itu dalam bisikannya di telinga Rena lalu mengecup keningnya.