Rena kini tengah duduk di atas sofa panjang di ruangan Dosennya, sementara Danu merebahkan tubuhnya di atas pangkuan Rena.
"Biarkan seperti ini sebentar saja" bisik Pria itu.
Tak berselang lama Pria yang berada di pangkuannya itu tertidur, Rena memandangi wajah tampan Dosennya. Pria kejam yang ingin menang sendiri, terkadang berperilaku hangat hangat yang ada di dirinya yang membuat Rena nyaman.
Jika teringat setiap kelakuannya yang menyebalkan itu, ingin rasanya aku menutup kedua lobang hidung Pria ini agar ia tak bisa bernafas!
Jam berapa sekarang? lebih baik aku pulang, lalu bagaimana dengan Pria tua ini? ah, tinggalkan saja dia di sini.
Perlahan Rena menyingkirkan dirinya dari Pria itu, menjadikan hoddie sebagai alas di bawah kepalanya agar jika nanti Pria itu bangun, Danu tak akan merasakan sakit.
Rena pergi dari sana dan menutup pintu dengan berjalan mengendap-ngendap, agar tak menimbulkan suara. Gadis itu melihat jam di pergelangan tangannya.
"Sudah jam 8 malam, semoga saja masih ada taksi jam segini" gumamnya.
Gadis itu berlari melewati koridor yang begitu minim penerangan, rasa takut menyelimuti dirinya.
"Gelap banget lagi, mana sepi. Lanjut terus atau balik lagi aja ya.." bisiknya dengan kedua tangan di lipat di d**a. Ragu akan keputusannya itu.
Rena melihat ke arah belakang, terlihat gelap, "sebaiknya aku lanjut aja deh, terlanjur sudah sampai sini juga. Tanggung kalau harus balik ke ruangan tu Dosen" gumamnya seorang diri.
Dengan keberanian yang ia kerahkan, Rena berhasil lari keluar Kampus. Sesampainya di depan gerbang, suasana jalanan sepi tak ada kendaraan lewat.
"Sebaiknya ku telpon Tata, semoga aja Anak itu mau jemput aku di sini" gumamnya.
Rena membuka tasnya untuk mencari ponselnya, namun tak menemukannya.
"Loh di mana Ponselku, perasaan tadi aku taruh sini"
Seingatnya tadi Rena sudah memasukkan ponsel miliknya di dalam tas.
"Jangan-jangan jatuh pas tadi aku lari, eh tapi mustahil, tasnya saja masih ketutup rapet. Atau jangan-jangan ketinggalan di ruangan Pak Danu?"
Rena merutuki dirinya, dia bingung harus pulang naik apa. Sama sekali tak ada kendaraan lewat padahal ini baru jam 8 malam.
Rena duduk bersimpuh di atas jalanan beraspal dengan kedua kaki di tekuk. Wajahnya tampak muram, ia tak bisa berbuat apa-apa. Berharap ada seseorang lewat untuk di mintai tolong, benar saja tak berselang lama datanglah seorang Waria dengan tas di jinjingnya.
Waria yang melihat Rena tergeletak di jalan pun mencoba menghampiri Gadis itu. "Hei Mbak kunti, ngapain you di situ? kacihan banget deh.."
"Enak aja di katain Kunti, saya ini Manusia" jawab Rena.
"Ups maaf, eike kira you Kuntilanak. Habis ngapain malam-malam masih berkeliaran di sini?"
"Saya ketiduran tadi di Kampus, sampai enggak sadar hari sudah berganti malam. Saya berharap ada kendaraan lewat untuk antar saya pulang"
Waria tersebut merasa kasihan melihat Gadis itu, "Ululu... kacian banget sih you, maaf tante enggak bisa bantu, tapi ini tante ada sedikit rejeki ya mohon di terima.. bisa lah buat naik angkot" ujarnya sambil mengeluarkan uang kertas dari dalam kutangnya lalu di berikan kepada Gadis itu.
"Kalau begitu Tante Lala pamit dulu ya, hati-hati ya di sini. Semoga cepet ketemu angkot atau taxi deh ya.."
Setelah kepergian Waria itu, Rena melihat uang yang ada di genggamannya itu.
"Ihhhhh" agak jijik karena uang yang Waria itu berikan, di simpan di dalam kotang.
Berapa ini? eh buset dua rebu.
Rena belum sempat berterima kasih, saat hendak bilang terima kasih sosok Waria itu sudah tak nampak lagi. Rena melihat ke sekeliling namun tak ada satu orang pun yang lewat, terpaksa Gadis itu berjalan kaki. Sampai di persimpangan langkah Rena terhenti saat melihat ada segerombolan preman menghadangnya.
"Hai cantik, mau kemana malam-malam gini? kok jalan sendirian, mau Abang temenin?" Pria berkepala botak dan perut buncit itu menawarkan diri.
"Kalian siapa? mau apa kalian?" tanyanya.
"Temenin Abang malam ini yuk, Abang kesepian nih. Entah mengapa malam ini udaranya terasa dingin mencekam.. Abang butuh kehangatan darimu, Sayang." godanya, kelima Preman itu melangkah mendekat ke arah Rena.
Rena lari dengan kencang, Gadis itu semakin binggung dan panik saat mendapati jalanan buntu. Tiba-tiba seorang Pria membekap dan menarik tangannya, mengajaknya untuk bersembunyi di balik tong besar.
"Mbbbbbbbbb"
"Sttttttt, diamlah atau kita akan ketahuan" ujar Pria itu.
"Gadis itu pasti berada tak jauh dari sini, cepat cari" perintahnya kepada teman-temannya.
Suara langkah kaki mendekat ke arah dimana Rena bersembunyi, tiba-tiba terdengar suara panggilan telepon.
Panggilan pun terhubung.
[Hallo Bos]
[Saya ada pekerjaan buat kalian, cepat kemari]
[Baik Bos]
Panggilan pun terputus.
"Ada apa?" tanya salah satu dari mereka.
"Ada pekerjaan buat kita, sebaiknya kita cabut sekarang" ajaknya.
Para Preman itu pun pergi dari sana, Rena dan Pria di sampingnya menghela nafas lega. Pria itu mengajak Rena keluar dari tempat persembunyian.
"Makasih udah nolongin saya, kalau nggak ada kamu tadi entah apa yang akan terjadi pada saya" ujarnya pada Pria itu.
Pria itu membuka masker penutup wajahnya, dan melepas topi di kepalanya. Rena membulatkan kedua matanya, terkejut saat melihat Pria di hadapannya.
"Reyhan?"
"Hai, Kakak Ipar" sapa Pria muda itu.
"Makasih sebelumnya, btw jangan panggil gue dengan sebutan Kakak Ipar"
Rena merasa risih dengan sebutan itu.
Reyhan menaikkan satu alisnya, "kenapa? lu kan Tunangannya Abang gue"
Rena terdiam, "Karena kami masih Tunangan, belum Menikah. Jadi alangkah baiknya panggil Kakak aja" jelas.
"Kalau begitu, apakah boleh gue tikung Abang gue" gumamnya.
Duarrr!
"Maksudnya?" tanya Rena memastikan.
"Hahaha.. enggak kok, bercanda" tawanya. "sebaiknya Lu pulang sekarang, biar gue antar" ujarnya menawarkan diri, Rena mengangguk setuju.
Reyhan mengajak Gadis itu pergi dari sana, menuju dimana mobilnya terparkir. Kedua Remaja itu pun masuk kedalam mobil lalu melesat pergi. Beberapa menit kemudian sampailah mereka di depan Kostan, dimana Rena tinggal.
Rena turun dari mobil, Reyhan menurunkan kaca mobilnya. "Lu, tinggal di sini?"
"Iyah, Makasih ya atas tumpangannya, gue janji akan balas kebaikan lo suatu saat nanti"
"Gue tagih janji lu suatu saat nanti, kalau gitu gue balik dulu" ujar Reyhan lalu pergi meninggalkan Kostan tersebut.
Gadis itu melambaikan tangan kearahnya. Setelah kepergian Reyhan, seseorang datang menghampirinya.
"Siapa?"
Deg!
Rena terkejut saat menoleh ke sumber suara dan mendapati Bulek Anik berdiri tak jauh dari ia berada sekarang.
Rena menghela nafas lega sambil mengelus dadanya "Bulek, ngagetin aja. Sejak kapan Bulek ada disitu?"
Anik melangkah mendekati Gadis itu, kedua tangan berpaku di pinggang. "Sejak tadi, kamu ini ya terlalu asik bersama orang tadi sampai tak menyadari keberadaan Bulek" Rena menanggapinya dengan cekikikan.
"Ya maaf, Bulek"
"Tadi itu siapa? Pacar kamu?" tanya Wanita paruh baya itu.
"Bulek ini ngomong apa sih, dia itu cuman temanku" terang Rena.
"Serius cuma teman?" tanyanya lagi memastikan.
"Iyah, udah ah Bulek aku pamit mau ke dalam dulu."
Gadis itu berjalan, masuk ke dalam dan di susul Anik di belakangnya.
"Kemana aja kamu seharian kemarin? kamu nginep dimana?" tanya Anik.
Rena menghentikan langkahnya, "Aku nginep di rumah temen karena ada tugas kelompok"
"Temanmu Cewek apa Cowok" tanyanya lagi.
"Cewek kok, Bulek tenang aja aku bisa jaga diri baik-baik" tuturnya lalu pergi menaiki anak tangga lalu bergegas ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Rena membersihkan tubuhnya. Usai mandi, Rena merebahkan tubuhnya di atas Ranjang, bergegas untuk tidur.
Di lain tempat, seseorang berjubah hitam berdiri di halaman Kostan dengan sebilah pisau di tangannya.
"Malam ini adalah malam satu suro, aku harus keluar mencari mangsa baru" selorohnya.
Orang misterius itu pun pergi entah kemana, tak lama kemudian orang tersebut kembali dengan membawa seorang Gadis tak sadarkan diri di pundaknya.
Gadis itu di bawanya ke dalam Kostan, lalu memasuki kamar No011. Gadis itu di rebahkan di atas ranjang dengan kedua tangan dan kaki di ikat di setiap sisi ranjang dan mulutnya dalam keadaan di lakban.
Tak lama kemudian, Gadis itu tersadar dari pingsannya.
"embbbbb.. Embbbbb..." Gadis itu berusaha memberontak saat orang berjubah hitam itu naik ke atas ranjang lalu memegang paha mulus Gadis itu.
"Tenanglah Cantik, diamlah dan ikuti permainanku atau aku akan mengirimmu menuju alam barka" ancamnya.
Orang misterius berjubah hitam itu, melepas paksa rok dan celana dalam yang Gadis itu kenakan, ia lalu memasukkan sesuatu di dalam sana lalu mengeluarkannya lagi.
"Embbbbbb..." rintihan Gadis itu tercekat. Setetes air mata membasahi pipinya.
Darah segar mengalir dari dalam lembah hitam Gadis itu, orang misterius itu tersenyum senang lalu menjilat cairan berwarna merah itu. Ia juga membaluri cairan itu di sekujur wajahnya seperti sedang menggunakan masker wajah. Setelah itu Orang berjubah hitam itu menikam Gadis itu menggunakan Pisau yang ia pegang.
Gadis itu membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
"Embbbbbbbb" pekiknya.
Melihat Gadis itu menghembuskan nafas terakhirnya, Orang Misterius itu pun tertawa senang tanpa rasa bersalah.