Reza menutup layar ponsel dengan cepat, mencoba menjaga ketenangan di hadapan Dewi. Dia memberikan senyuman tipis,
"Aku harus menjaga semuanya tampak baik-baik saja."
Gumam Reza.
Dewi melihat ekspresi Reza yang berubah, "Ada apa, Reza? Apa yang terjadi?"
Reza mencoba memberikan penjelasan ringan, "Cuma urusan pekerjaan yang mendadak sih Dew, gak perlu khawatir, Dew."
Dewi masih terlihat ragu, tetapi dia memilih untuk tidak mengejar pertanyaannya lebih lanjut. "Baiklah.... Reza. Kalau begitu, selesaikan urusanmu. Aku akan menunggu."
Reza merasa lega melihat sikap pengertian Dewi. "Terima kasih, Dew. Aku pasti kembali secepat mungkin."
Namun, dalam hati Reza, ia merasa tekanan yang semakin tinggi dari ancaman 'Shadow'. Ia tahu bahwa masa lalunya bisa membahayakan hubungannya dengan Dewi, dan sekarang dia harus memutuskan bagaimana menangani situasi ini tanpa mengorbankan kebahagiaannya bersama Dewi.
"Dew,ada stok makanan di kulkas,bahan makanan kering ada di rak dapur,seadanya ya Dew." ujar Reza.
"Oke Reza,tenang,aku bisa makan apa saja." Dewi memberi senyum pada Reza.
Reza beranjak pergi dari Rumah itu.Meninggalkan Dewi sendiri.Dewi melangkah ke dalam bangunan rumah,setelah mobil Reza keluar meninggalkan pagar rumah ia mencoba melihat kanan kiri bangunan itu.
"Wah jauh juga jarak dengan rumah lain." gumam Dewi.Ia sedikit merasa takut namun segera masuk kembali ke dalam rumah,mengalihkan kesepiannya dengan membuat makanan di dapur.
Sedangkan Reza yang berada dalam perjalanan melaju dengan kecepatan tinggi untuk ke suatu tempat.
Dalam jarak perjalanan menuju ke sebuah tempat,ia melintasi hutan kecil.Reza mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Halo,selamat pagi tuan."
"Derek,kamu dimana?" tanya Reza pada salah satu anak buahnya.
"Saya masih di markas Tuan." jawab Derek sigap.
"Oke,kamu bisa menyusulku ke Villa Prayoda?" ucap Reza.
"Suap Tuan Adrian! saya meuju kesana!". jawab Derek pada Tuannya.
Tiba di sebuah bangunan pinggiran Hutan Lindung,Reza memasuki sebuah pagar.Pagar itu menutupi akses sebuah jalan,dan jalan itu menuju ke sebuah lokasi rahasia milik Reza dimana berdiri sebuah Villa.Hanya beberapa orang saja yang mengetahui tempat itu.
Villa itu tersembunyi di balik pepohonan yang rimbun, menjaga keberadaannya dari pandangan mata yang tidak diinginkan.
Reza memasuki Area Villa Prayoda di sambut beberapa pengawal berpakaian hitam-hitam dan setiap pwngawal menenteng senapan serbu.
"Selamat pagi Tuan." sapa seorang penjaga.
"Pagi Totin." jawab Reza sambil melangkah memasuki bangunan Villa.
"Tuan Adrian,selamat pagi,Tuan mau kop?" tanya seorang ibu paruh baya yang bertanggung jawab urusan dapur di Villa itu.
"Oke bu,boleh,bawa ke ruangan kerja saya ya."
"Baik Tuan Adrian." jawab bu Marni.
Reza memasuki sebuah ruang kerja,ruangan itu tampak seperti sebuah perpustakaan kecil,beberapa rak Buku berbahan kayu tua menopang ratusan buku beragam judul.Sampul-sampul buku berwarna coklat dan hitam bercorak emas menghiasi salah satu rak di depan meja kursi tempat Reza duduk.
Reza membuka ponselnya,ia membaca kembali pesan ancaman dari seseorang.
"Siapa yang tahu tentang diriku sebenarnya dalam ruang lingkup kehidupan kampus dan kebersamaanku dengan Dewi?"
tanya Reza dalam hati.
"Aku harus segera bertindak,agar tidak berlarut-larut,ini terlalu berbahaya untuk banyak hal."
Reza bergumam.
Langkah kaki yang mantap terdengar di koridor menuju ruang kerja Reza.
"Tok Tok Tok." suara pintu ruang Reza.
"Masuk!" seru Reza.
Pintu terbuka perlahan, dan seorang pria berpostur tegap masuk dengan langkah pasti. Derek, anak buah setia Reza, memasuki ruangan dengan senyuman yang ramah.
"Selamat pagi, Tuan Adrian. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Derek sambil memberi salam hormat.
"Selamat pagi, Derek. Aku butuh informasi, Aku harus mengatasi ancaman ini dengan hati-hati," ujar Reza serius.
"Apa yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Derek.
"Lihat ini," Reza menunjukkan sebuah pesan.
"Ya tuan." Derek mendekat ke arah Reza dan melihat layar ponsel yang ditunjukkan.
"Tolong retas,dan cari sampai dapat semua informasi tentang orang ini.Ingat tetap rahasiakan,hanya kamu dan aku yang tahu!" ujar Reza tegas.
"Siap Tuan." jawab Derek.
Derek mengangguk, "Saya akan segera menyelidiki dan memastikan keamanan Tuan. Kita tidak boleh membiarkan ancaman itu mengganggu."
"Oke Derek. Pastikan langkah-langkah kita tidak meninggalkan jejak yang dapat ditemukan oleh pihak luar," pesan Reza dengan tegas.
Derek melangkah ke arah satu meja di seberang Reza,ia menngeluarkan sebuah perangkat dari tasnya.Ia bersiap melaksanakan tugasnya untuk melindungi keberlanjutan kehidupan rahasia Reza dan hubungannya dengan Dewi.
"Tuan saya minta waktu." ujar Derek.
"Oke Derek,berapa lama?"
"Untuk melacak kehidupan si pengirim ini saya juga mesti secara real melihat kehidupannya Tuan."
"Oke,silahkan lakukan semaksimal mungkin Derek,berikan laporan perkembangannya.
"Baik Tuan."
Sementara itu, Dewi di Villa Prayoda mencoba menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan di rumah Reza. Ia menyusun beberapa bahan makanan yang ada di dapur dan merencanakan aktivitas apa yang bisa dilakukannya sambil menunggu kembalinya Reza.
Dewi memutuskan untuk mengecek taman belakang Villa Prayoda, mencari ketenangan di antara pepohonan yang rimbun. Di tengah keheningan, suara gemercik air kolam kecil menambah ketenangan. Ia berharap kegiatan ini dapat membantu mengalihkan perasaannya yang campur aduk.
Sementara itu, Reza di ruang kerjanya mulai menyusun rencana. Ia merasa perlu memberi Dewi beberapa penjelasan terkait situasi yang sedang dihadapinya, tanpa mengungkapkan terlalu banyak rincian yang bisa membahayakan.
Setelah beberapa saat, Derek kembali dengan laporan pertamanya.
"Tuan Adrian, sepertinya kita memiliki petunjuk awal. Namanya Antonius Pratama, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota ini."
Reza mengangguk, "Lanjutkan penyelidikanmu, Derek. Aku perlu tahu segala yang terkait dengannya."
Sementara itu, Dewi yang sedang di taman merasa adem melihat pemandangan sekitar. Namun, rasa cemas masih menyelubungi pikirannya, terutama setelah mendengar beberapa suara langkah kaki di balik semak-semak. Ia memutuskan untuk memeriksa kehadiran sumber suara tersebut.
Di sisi lain, Reza terus menelusuri pesan dari 'Shadow' sambil mencari cara terbaik untuk melindungi dirinya dan Dewi. Keduanya, masing-masing di tempatnya, tak menyadari bahwa takdir mereka mulai saling terkait erat dalam benang-benang yang rumit.
Dewi berjalan di taman belakang, tiba-tiba melihat bayangan di balik semak-semak. Hatinya berdegup kencang, tetapi setelah menyelidiki lebih lanjut, ternyata hanya seekor kucing yang bermain di sana.
"Haduhhh... aku kira orang."
Dewi tertawa lega dan memutuskan untuk memberi makan kucing itu.
Di tempat lain,Reza tengah merencanakan cara terbaik untuk menjelaskan situasi kepada Dewi tanpa mengungkapkan terlalu banyak detail yang bisa membahayakan. Dia tahu bahwa kejujuran adalah kunci untuk melancarkan semua rencananya yang lebih besar, tetapi bagaimana ia menyampaikannya perlu dipikirkan dengan matang.
Derek, dalam proses penyelidikannya, menemukan bahwa Antonius Pratama memiliki kehidupan yang sebagian besar terbuka di media sosial. Namun, masih ada beberapa titik gelap yang perlu digali lebih dalam.
Sementara itu, Dewi melanjutkan hari dengan menyiram tanaman, menyusun beberapa pot bunga-bunga yang ada di taman. Suara riang kicau burung di sekitar membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Namun, bayangan rasa was-was masih menghantuinya.
Reza memutuskan untuk menghubungi Dewi dan memberitahunya bahwa ia akan memerlukan waktu lebih lama daripada yang diharapkan.
Menurut Reza Meskipun berat, ini adalah langkah yang diperlukan untuk melindungi Dewi dari potensi bahaya.
"Halo." suara Dewi di seberang.
"Halo Dew,kamu sudah makan?" tanya Reza melalui ponselnya.
"Sudah Reza,kamu sudah?" Dewi bertanya juga pada Reza.
"Sudah Dew,oh ya Dew,mungkin aku butuh waktu sedikit lebih lama." ujarvReza.
"Iya Gak apa-apa,aku juga sedang gak ada kuliah kok." jawab Dewi.
"Oke Dew,Santai aja dulu di situ ya Dew,"
"iya Rez tenang aja,ini di sini kamu stok makanan banyak kok.kayak tempat pengungsian aja,tadi aku lihat di rak dapur banyak banget kamu simpan makanan kaleng,ada Sarden dn kornet juga." jawab Dewi.
"Hehe,iya Dew,ok sampai nanti ya Dew."
"Oke Reza.Emuach."
Derek memberikan update bahwa dia sedang mendalami informasi lebih lanjut tentang Antonius Pratama. Reza memberikan instruksi untuk terus bergerak tanpa meninggalkan jejak yang dapat terdeteksi.
Dewi, setelah menerima kabar dari Reza, berusaha menjaga semangatnya. Ia memutuskan untuk fokus pada kegiatan-kegiatan positif di Villa Prayoda, mencoba melupakan sejenak ketidakpastian yang tengah menghantui.
Ketiganya, masing-masing dengan peran dan situasi yang berbeda, tidak menyadari bahwa takdir mereka semakin saling terkait dan menghadapi ujian yang mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya.