14. Kondangan Ketemu Mantan

564 Kata
"Kalau kamu ketemu mantan kamu, Aku bakal cemburu. Aku gak mau kamu berhubungan lagi dengan dia. " Kata Bimo sambil fokus berkendara. "Ya ampun. Udah ah.. pokonya mas Pulang ajalah. Gak seharusnya mas tuh kesini. Pokoknya Pulang. titik. " Dwi menutup telepon nya. Dwi tak habis fikir ternyata Bimo beneran ke Bandung menyusulnya. Ia tak memberitahu dihotel mana dia tinggal. Dwi tak mau bertemu dengan Bimo. Bimo tetap melanjutkan perjalanan, ia mencari hotel yang dekat dengan acara wedding teman Dwi. Bimo memesan kamar dan masuk ke kamar. Ia menghela nafas, sejujurnya ia juga tak mengerti kenapa ia sampai bertindak sejauh ini. Ia membereskan barang yang ia bawa. Bahkan ternyata ia tak membawa barang apa-apa. Hanya ada beberapa jas kerja di mobil dan tidak baju biasa. Akhirnya ia keluar kamar dan keluar hotel menuju store pakaian terdekat. Setelah itu ia makan di restoran hotel. Sesekali ia menengok kanan kiri berharap Dwi ada ditempat yang sama. Tapi tak mungkin karena Dwi tidak ada dihotel itu. Setelah makan dia kembali ke kamar, ia menghubungi Dwi tapi handphone nya tak aktif. Dalam hidup Bimo akhirnya merasakan gelisah. Ia bertanya-tanya sedang apa Dwi, ia takut Dwi ternyata dengan mantannya. Ia sangat khawatir sampai mengacak-acak rambut nya sendiri. Padahal ditempat lain Dwi sedang tidur dengan lelapnya. Seakan ia baru merasa Bed ternyaman didunia. Memang dibanding kasurnya dikamar kos, tentu sangat berbeda jauh. Paginya Dwi mandi dan bersiap menuju acara kondangan. Ia memakai gaun yang telah ia siapkan sejak lama. Meskipun Jomblo saat ini dia sangat antusias datang ke kondangan karena yang menikah adalah teman seperjuangan yang cukup berarti untuk nya. Mala namanya. Ia naik dengan taksi menuju ke gedung pernikahan, setelah sampai Dwi melihat banyak teman almamater disana. Karena sahabat Dwi yang satu ini sangatlah ramah dan mudah bergaul sehingga banyak teman yang rela jauh-jauh hadir ke acara pernikahan nya. "Selamat Ya Mala, semoga langgeng ya. " Ucap Dwi ke sahabat nya itu. "Makasih ya Dwi udah jauh-jauh datang dari jakarta. Tadi Aku liat Aryo datang Dwi. Gak p2 kan? Kamu datang sama siapa? " "Gak p2 dong, kan masa lalu. Aku datang sendiri. Do'ain ya nyusul. " "Aamiin." "Thank you. " Dwi kemudian mencari makanan di hajatan karena merasa lapar. Semalam Dwi tak sempat makan karena ketiduran. Saat mengambil makan ada yang menepuknya dari belakang. Dwi menengok. "Hai Dwi. " "Eh Aryo. Kamu datang juga. " Dwi merasa kaget melihat kedatangan Aryo. Meskipun mungkin Dwi masih memiliki rasa tapi ia tak berharap bertemu dengan Aryo. Karena ia benar-benar ingin move on dari Aryo. "Iya. Kamu datang sama siapa? " Tanya Aryo sambil menengok-nengok berfikir ada yg menemani Dwi. Dwi saat itu sangat malu karena dia datang sendiri. "Aku datang sendiri. " Kata Dwi berusaha santai dan tak malu. Ia tak mau terlihat menyedihkan didepan mantan yang masih ia sayangi. "Oh." Jawab Aryo tanpa rasa bersalah. "Kamu sendiri datang sama siapa?? " Tanya Dwi sebenarnya basa basi. "Aku datang dengan Tya. Kami udah Nikah. " Jawab Aryo dengan wajah tak merasa bersalah. "Oh.. Selamat ya. Semoga langgeng ya. " Kata Dwi yang sebenarnya Shok tapi tak kaget akan ending kisah mereka yang akan seperti itu. Ia sebenarnya sudah tau tapi tak menyangka Aryo dengan berkata tanpa salah. "Kamu sendiri? " Tanya Aryo Dwi merasa tersambar petir dan bingung harus jawab apa. Dwi terdiam, dia tersenyum dan juga sedih. Sejujurnya saat ini dia ingin sekali menangis. Kemudian ada yang menepuk pundaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN