Hening itu terasa panjang, seolah seluruh dunia menahan napas bersama mereka. Cahaya biru samar masih berpendar dari retakan lantai lalu memudar perlahan. Udara yang sebelumnya berat kini mulai terasa ringan, meski sisa debu energi masih berkilat di udara seperti serpihan bintang yang belum rela padam. Elias berdiri goyah. Ia menatap sekeliling, memastikan tidak ada bayangan yang tersisa. Tubuhnya terasa berat, setiap otot menjerit, namun pedangnya tetap ia genggam seakan itu satu-satunya penopang dirinya. Elara masih duduk di lantai, jemarinya gemetar setelah menyalurkan energi begitu besar. Nafasnya putus-putus. Matanya memandang kosong ke pusaran yang kini telah hilang. “Aku bisa merasakannya. Gema itu belum mati. Ia terlempar, tapi tidak hilang. Seperti riak yang menyebar ke lautan l

