Bab 55

1105 Kata

Begitu mereka melangkah keluar dari gerbang menara, angin pagi menyapu wajah mereka. Udara terasa lebih segar dibandingkan ketika mereka masuk, seakan dunia sendiri merayakan keberhasilan kecil itu. Namun sisa ketegangan masih ada. Dari kejauhan, terlihat desa di bawah kaki menara mulai hidup kembali. Orang-orang yang semalaman bersembunyi di rumah, gudang, atau ruang bawah tanah perlahan keluar, wajah mereka pucat namun mata mereka menatap penuh harap. Seorang anak kecil berlari mendekati, matanya berbinar meski masih ada air mata yang mengering di pipinya. “Apakah… sudah aman?” suaranya bergetar. Elias berlutut, meski lututnya hampir tak kuat lagi menahan tubuhnya. Ia menepuk bahu anak itu dengan lembut. “Untuk sekarang, ya. Celah di menara ini sudah ditutup. Kalian aman.” Rasa lega s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN