Malam menebal lebih cepat dari biasanya. Angin membawa bisikan dari celah-celah pohon Thynara. Anak-anak Aetheria tertidur satu per satu, tubuh mungil mereka bersinar lembut. Tapi malam itu, beberapa dari mereka mulai gelisah. Cahaya mereka berkedip, seolah jiwanya terhuyung dalam mimpi yang tidak berasal dari dalam. Di tengah Tempat Berkumpul Pertama, Elara duduk bersila sambil mengawasi nyala jiwa yang tertidur. Matanya tidak terpejam. Di sekelilingnya, garis-garis pelindung yang mereka buat sebelumnya masih menyala samar, tapi terasa lebih lemah dari hari-hari kemarin. Seolah ada sesuatu yang mengurasnya pelan-pelan. Penjaga Kenangan datang diam-diam, lalu duduk di seberangnya. “Berapa yang bermimpi gelap malam ini?” tanyanya. “Tujuh,” jawab Elara. “Dan dua di antaranya bicara dalam

