“Apa istrimu, mencintai kamu?” tanya Renata. Jayden tampak berpikir sebelum menjawab, “Aku rasa tidak. Di antara kita berdua tidak ada cinta. Dia tidak mau melepaskan saya hanya karena gengsi. Dia tidak mau dicap sebagai wanita yang gagal.” Renata menganggukkan kepala, ia paham dengan apa yang Jayden maksud. Seharusnya, pria seperti Jayden berhak mendapatkan kebahagiaan di hidupnya. Bukan mendoakan sesuatu yang buruk, namun sepertinya pria itu bisa bebas menata hidupnya saat sang ibu sudah tiada. “Andai, aku mau sama kamu. Pasti orang tuamu bakalan nentang, iya kan?” tanya Renata. Jayden mengangguk, ia sudah memperkirakan hal itu. “Pastinya iya. Tapi, jika keadaannya kamu hamil seperti tempo hari, mungkin mereka mau mempertimbangkannya. Tidak tahu juga tapi.” “Anda

