Lucas menghampiri Renata yang sudah tertidur di kursi. “Tadi, katanya mau. Malah tidur duluan,” kekehnya.
Pria jangkung itu menggendong sang pemilik kamar untuk ia baringkan di kamar. Dengan perlahan ia berjalan, agar tidak mengganggu tidur Renata. Lucas menatap dalam, wajah wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta hingga sedalam ini.
“Cantik banget, sih?” bisik sang pria.
Setelah merebahkan tubuh Renata di ranjangnya. Lucas segera keluar untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu membereskan seluruh alat yang ia pakai untuk mengutak-atik motor yang Cecylia rusakkan.
“Cyl! Woy, Gue pulang dulu. Udah hampir pagi, tar telpon Gue bolak-balik sampe Gue kebangun. Awas saja Lo, durhaka sama calon kakak ipar sendiyri!” ucap Lucas sembari menyentil dahi Cecylia.
Cecylia membuat gestur seperti akan muntah, “Nggak sudi, punya kakak ipar modelan Lo!”
Lucas tertawa dan berjalan keluar, ia harus segera pulang dan beristirahat. “Dadah, calon adik ipar rese!”
Wajah ceria Cecylia langsung pudar saat tubuh Lucas sudah tak lagi terlihat. Sudah lama ia memendam perasaan lebih untuk Lucas, namun jika keadaan seperti ini, maka ia harus merelakan perasaan yang ia miliki untuk kebahagiaan sang kakak.
Gadis itu masuk kembali ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Ia masih mempunyai tugas untuk membangunkan Lucas beberapa jam lagi agar pria itu tidak terlambat masuk kelas.
Namun, baru saja Cecylia ingin memejamkan mata, suara seseorang mengetuk pintu terdengar sangat keras. “Pasti Lucas!” serunya kesal.
Sebelum membuka pintu, ia sempat melirik ke arah jam dinding yang menunjuk ke arah angka 2.
“Ngapain bal—eh, Kakak siapa?” tanya C ecylia. Sebenarnya gadis itu tahu, namun hanya dari layar televisi saja.
Pria dengan banyak luka di wajahnya itu menjawab, “Renata, ada? Maaf mengganggu waktu tidur kalian, tapi saya baru saja di rampok dekat area sini.”
“S-sebentar ya, aku panggilin kak Ren dulu.” Gadis itu segera berlari menjuju ke kamar sang kakak untuk membangunkannya.
Dengan brutal, Cecylia mengguncang tubuh Renata hingga wanita itu terkejut lalu membuka matanya. “Ngapain? Kakak kaget tauk!”
“Kak, maaf. Tapi, di luar sana ada pengusaha kaya raya yang ada di berita itu. Dia di luar, wajahnya luka-luka!” seru Cecylia.
Renata langsung berlari keluar. Bukan khawatir akan keadaan Jayden, ia takut jika adiknya bertanya aneh-aneh pada pria itu.
“Ngapain? Maksudku, wajahmu kenapa?” tanya Renata panik.
Renata langsung menarik pergelangan tangan Jayden untuk ia bawa masuk. Ia sudah muak dengan gosip-gosip dari para tetangga.
“Saya, dirampok. Di area dekat sini,” jelas Jayden sembari memegangi pundaknya yang terhantam kayu.
Renata tidak habis pikir, kenapa ada saja kejadian yang melibatkan dirinya akhir-akhir ini. “Tunggu sini, aku ambilkan air hangat.”
Renata masuk ke dalam dapur lalu kembali masuk membawa satu baskom air hangat dan juga handuk kecil. Dengan telaten, Renata mengompres luka di wajah Jayden.
“Tas itu, milik siapa?” tanya Jayden sembari menunjuk sebuah tas yang tergeletak di kursi ruang tamu.
Renata menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Jayden, “Itu, punya temennya Cecyl.”
“Adik kamu, kekasih Lucas?” tebak Jayden.
Renata menggeleng pelan, “Bukan, kamu tahu dari mana, kalo itu tas punya Lucas?”
“Itu hadiah ulang tahun dari saya. Saya pesan custom di luar negeri. Kamu mau?” tawar Jayden.
Renata menggelengkan kepala sebagai jawaban. Lagi pula untuk apa ia memiliki tas seperti itu.
***
“Cecyl, Kakak nitip ini. Kasihin ke Lucas ya?” ucap Renata sembari menyodorkan kotak makan berisi dua potong sandwich di dalamnya.
Cecylia memiringkan kepalanya heran, “Hayo, ada apa ini? Biasanya anti banget sama itu anak.”
“Sebagai tanda terima kasih, kan dia sudah benerin motor yang kamu rusakin. Dia pasti pulang pagi, kan?” tanya Renata.
Cecylia mengangguk, membenarkan ucapan sang kakak. “Iya, dia pulang jam dua pagi.”
Sesampainya di sekolah, Cecylia langsung menemui Lucas untuk memberikan sandwich yang ia bawa.
“’Nih, dari bidadari Lo!” ucap Cecylia sembari menyodorkan kotak makan berwarna hijau muda ke arah Lucas.
Lucas terkejut sekaligus senang, “Renata? Dari Renata?”
Cecylia mengangguk, “Emangnya bidadari Lo, ada berapa?”
“Ya Renata doang, sih. Tapi, kan Gue nggak nyangka. Woaah,” seru Lucas kegirangan.
“Lebay!” teriak Cecylia sebelum pergi meninggalkan Lucas yang tersenyum sendiri seperti orang tidak waras.
***
Renata kembali bekerja seperti biasa, membawakan minuman untuk para tamu. Tak jarang wanita itu digoda oleh para p****************g. Terlebih jika mereka pernah memakai jasa Renata, tidak akan segan tangannya untuk menyentuh bagian tubuh milik pelayan itu.
“Ren, tadi Jayden ke sini,” ucap Vina tiba-tiba.
“Ngapain, cari Gue?” tanya Renata, sembari membereskan gelas di meja yang sudah kosong.
Vina menggeleng, “Enggak, kayaknya ada bisnis sama Mami.”
Renata mengendikkan bahu acuh, ia tidak peduli selama namanya tidak disangkut pautkan. Yang terpenting untuk saat ini, ia bisa kerja dengan tenang dan mampu memenuhi kebutuhan kedua adiknya.
“Ya sudah sih, biarin saja. Gue nggak peduli.”
Vina menggenggam tangan Renata. Menatap sahabatnya dalam, “Apa, nggak sebaiknya Lo terima dia. Hidup Lo bakalan terjamin, Lo nggak perlu kerja kayak gini lagi.”
Renata melepaskan genggaman tangan Vina, “Lo mau? Udah kerjaan kita kayak gini, terus tiba-tiba jadi perusak rumah tangga orang juga. Dosa kayak gimana lagi yang bakal Gue ambil. Terus, gimana caranya Gue pertanggung jawabin dosa-dosa Gue nanti?”
Vina memeluk Renata, “Andai Gue jadi Lo. Nggak peduli risiko apa pun yang bakalan Gue ambil, hidup. Hidup Gue udah penuh dosa, jadi sekalian aja hahaha!”
“Nggak waras Lo!” seru Renata sembari terkekeh pelan.
Vina melepaskan pelukannya, “Eh, ngomong-ngomong. Waktu Gue ke rumah Lo, ada cowok cakep tinggi di dalem, itu siapa?”
“Itu, teman adek Gue. Lo naksir?” kekeh Renata.
Vina mencubit hidung Renata, “Bukan begitu dodol! Jangan-jangan, cowok itu ya, yang Lo ceritain tempo hari?”
Renata mengangguk pelan, “Iya, memang dia. Ganteng ya?” tanyanya.
“Cie-cie, akhirnya Renata jatuh cinta. Wah, siap-siap perang sama Jayden nggak sih?” tanya Vina menggoda.
Wajah Renata berubah muram. “Dia keponakannya Jayden, sempit banget ya dunia ini?”
Vina membelalakkan matanya, ia sangat terkejut mendengar fakta yang Renata katakan padanya. Kenapa hidup Renata harus berputar-putar pada manusia sama yang saling berhubungan?
“Ren, sorry kalo Gue nanyain ini. Orang tua Lo, gimana punya kabar?”