Hari sudah malam, kulihat Reyhan terus merintih karena merasa tidak nyaman. Aku yang tidur di sebelahnya langsung memegang keningnya. Tubuh Reyhan semakin panas. Dia sekarang tidak kedinginan melainkan kepanasan, apa benar begitu, ya? Entahlah. Aku buru-buru berlari ke dapur untuk merebus air. Dulu waktu kecil aku sering dikompres umi dengan air hangat jika sedang demam. Setelah selesai, aku mengambil handuk kecil di dalam lemari. Kemudian mencelupkannya ke baskom dan memerasnya lalu aku letakkan handuk itu ke dahi Reyhan. Jika handuknya mulai dingin aku kembali mencelupkannya ke baskom dan meletekannya lagi ke dahi Reyhan. Pun jika air pada baskom sudah dingin aku langsung kembali ke dapur merebus air lagi, sampai-sampai kepalaku berdarah kejedot pintu. Kegiatan mengompres itu aku lak

