Momen menegangkan

1001 Kata
Saat mobil Andika sudah sampai di salah satu rumah makan yang sangat indah, tentu saja Salsa merasa sangat aneh dengan sifat Andika. "Kenapa kamu terlihat sangat baik sekali kepadaku?" Salsa mencoba bertanya kepada Andika untuk mengetahui kejelasannya. "Apakah salah jika aku berbuat baik kepadamu?" Andika bertanya kepada Salsa. "Sama sekali tidak salah, aku hanya merasa sangat aneh jika mendapatkan perbuatan yang baik darimu." Salsa menyadari jika sikapnya selama ini selalu membuat Andika merasa kesal. "Tidak perlu aku menjelaskan sesuatu yang terjadi, aku hanya ingin kamu mengetahui jika semua yang aku lakukan adalah ketulusan dari hatiku." Andika tersenyum sambil memandangi wajah Salsa, meskipun berulang kali Salsa selalu bersikap kasar dengannya, namun Andhika tidak akan pernah bisa membalas semua perbuatan buruk yang dilakukan oleh Salsa. "Kamu memang terlihat sangat sabar, bahkan aku merasa heran dengan sikap yang kamu lakukan." Saat makanan yang Andika pesan sudah sampai tepat di meja mereka, Andika segera mengambil sendok untuk menyuapi Salsa. "Cobalah makanan ini, mungkin beberapa waktu yang lalu kita pernah merasakan momen yang sangat indah ini," ucap Andika. Salsa menundukkan kepalanya merasa jika dirinya merasa sangat bersalah kepada Andika, namun Andika selalu santai menyikapi semua yang dilakukan oleh Salsa. "Aku hanya berharap suatu saat kamu bisa menerima cintaku." Ternyata Andika sangat menginginkan jika Salsa menjadi kekasihmu, Salsa masih belum bisa mencintai Andika. "Entah berapa kali aku harus menolak cintamu, sungguh aku benar-benar tidak bisa menjadi kekasih seperti yang kamu harapkan." Salsa tidak ingin jika Andika terus mengharapkan jika dirinya menjadi kekasih Andika. "Aku sudah tahu jawabanmu seperti itu, yakinlah Aku tidak akan pernah membuatmu kecewa." Andika berusaha untuk membuat Salsa percaya dengan ucapannya, namun Salsa justru menggelengkan kepalanya. "Cinta tidak bisa dipaksakan, Jika kamu memaksakanku untuk jatuh cinta kepadamu, aku benar-benar tidak bisa." Salsa hanya bisa berharap jika Andika bisa memahami sesuatu yang sudah menjadi keputusannya. "Baiklah aku tidak akan memaksamu," jawab Andika dengan nada sangat sedih. Salsa segera menyantap makanan yang sudah dipesan oleh Andika, tentu saja karena jika ingin jika sampai berdebat dengan Andika. Karena terlalu cepat menyantap makanan yang ada di meja makan, tiba-tiba Salsa harus terbatuk, Andika dengan sangat sigap segera mengambilkan air minum untuk Salsa. "Minumlah." Andika meminta Salsa untuk segera minum. "Terima kasih Andika," ucap Salsa. "Tidak usah terburu-buru, tidak akan ada yang berani memarahi kita jika telat datang.'' sebagai seorang dokter andalah rumah sakit, tentu saja Andika mendapatkan posisi yang spesial, meskipun banyak dokter yang sangat pandai, namun Andika terkenal sebagai dokter yang sangat pandai. "Aku tidak mau jika sampai terlambat datang, aku tidak bisa membuat pelanggaran itu terjadi pada diriku." "Baiklah, kita akan segera pergi ke rumah sakit." Andika mencoba meredakan emosi Salsa, agar Salsa tidak terlihat sangat marah. "Aku sangat berterima kasih kepadamu, mungkin kamu terlihat sangat baik saat berada di dekatku." Salsa menyadari jika Andika memang bersikap baik kepadanya. "Tidak usah memuji diriku, Karena ucapanmu justru membuatku merasa sakit." "Aku sama sekali tidak ingin membuatmu merasa kesal, sungguh aku hanya ingin kamu bisa mengetahui hal yang spesial dalam hidupmu." "Kamu tahu, setiap kali ada wanita yang mencoba mendekati diriku, Tentu saja aku merasa tidak bisa untuk memberikan mereka cintaku." Andika masih sangat ingin jika Salsa mau menerima cintanya. "Ayo Andika, sebaiknya kita segera berangkat." Salsa tidak ingin jika terus membicarakan hal yang membuatnya merasa kesal, tentu saja Andika tidak bisa berkata banyak. "Baiklah aku akan mengantarkanmu," ucap Andika. Mereka segera menuju ke rumah sakit. Andika tidak bisa berbicara kepada Salsa karena takut membuat Salsa merasa kesal, begitu juga dengan Salsa, dia tidak ingin jika hubungan mereka semakin dekat. Bahkan saat mereka sampai di rumah sakit, terlihat sangat jelas jika Andika sama sekali tidak bertanya kepada Salsa, Salsa segera turun masuk ke dalam ruangannya. "Benar-benar sangat membingungkan, Kenapa gadis secantik Salsa bisa bersikap seperti itu?" Andika merasa sangat tidak dihargai saat berhadapan dengan Salsa, namun apalah daya semua itu terjadi karena perbedaan pendapat. Andika segera turun dari mobilnya menuju ke salah satu ruangan, namun saat Andika akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba datang seorang wanita cantik memanggilnya dari arah belakang. "Andika tunggu," ucap wanita itu dengan nada sangat lembut, tentu saja Andika segera menengok kebelakang untuk melihat sosok yang sedang memanggilnya. "Oh kamu Raisa," ucap Andika sambil menatap wajah Raisa. Raisa tersenyum melihat Andika yang menatap wajahnya. "Andika, Ayo kita bersama masuk ke dalam ruangan," ucap Reisa sambil tersenyum kepada Andika. "Baiklah, Aku akan pergi bersamamu masuk ke dalam ruangan." Andika dan Reisa masuk ke dalam ruangan, saat itu juga banyak orang yang melihat kedatangan mereka. "Mungkinkah dokter Reisa menjadi kekasih dokter Andika?" Salah seorang resepsionis berbicara kepada sahabatnya ketika melihat keakraban yang terjadi. "Mereka terlihat sangat cocok sekali," jawab sahabatnya. Andika memang terlihat sangat cocok saat berjalan bersama Raisa, mereka jauh terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. "Bisa dipastikan jika mereka menjadi pasangan, tentu saja mereka akan jauh lebih bisa bersikap romantis." Mereka benar-benar sangat menginginkan jika Andika menjadi kekasih Raisa, namun Andika justru merasa tidak nyaman ketika bersikap seperti layaknya kekasihnya. "Reisa, mungkin aku akan pergi ke toilet terlebih dahulu." Andika mencoba menghindari Reisa, saat itu juga Reisa merasa jika Andika belum bisa menerima dirinya sebagai wanita yang mencintai Andika. "Baiklah Andika, aku juga akan segera pergi ke ruangan ku." Sambil menundukkan kepalanya, Reisa setelah meninggalkan Andika, Reiner yang mengetahui hal itu terjadi, merasa sangat senang. "Akhirnya Andika menolak cinta Raisa," ucap Reiner diiringi rasa Bahagia. Ada sesuatu yang membuat Reiner senang ketika melihat Reisa bersikap kasar kepada Andika. "Tentu saja suatu saat pasti aku bisa menjadi kekasihku." Tanpa disadari ternyata Reiner memiliki perasaan yang lain ketika dirinya berada di dekat Reisa, Namun karena tidak ingin jika mendapatkan penolakan dari Reisa, Reiner Tentu saja tidak mau mendekati Reisa. "Suatu saat pasti aku akan memberanikan diri untuk bisa mendekati Reisa, aku harus berani." Reiner berharap jika dirinya tidak akan merasa malu ketika menghadapi wanita yang sangat dicintainya, meskipun terlihat sangat aneh, namun Reiner sangat ingin mencoba. "Meskipun Raisa adalah seorang dokter, tidak akan ada salahnya jika aku mendekatinya." Reiner masih terdiam membayangkan jika dirinya bisa menjadi kekasih wanita yang sangat dicintainya, tentu saja hal itu sangat membahagiakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN