Sesampainya di Bandung Andika segera mengantarkan Salsa menuju ke rumahnya.
Mama dan Papa Salsa sudah menunggu Salsa datang.
"Mama, aku datang," ucap Salsa sambil tersenyum sambil merasakan rasa takut jika sampai terjadi sesuatu.
"Mama aku takut jika Mama terlalu sakit," ucap Salsa sambil memeluk Mana dan meneteskan air matanya.
"Nak, sebenarnya Mama sakit karena tidak bisa menahan rindu kepadamu, kenapa kamu tidak mau ngambil kerja disini," ucap Mama dengan penuh berharap.
"Maafin Salsa Ma, nanti setelah Salsa selesai praktek Salsa pasti akan minta pindah kerja." Salsa Sanga tidak tega jika harus melihat Mama merasakan kesedihan karena jauh dari putrinya.
"Boleh aku periksa Ma," ucap Andika sambil tersenyum ramah dengan Mama.
"Boleh," ucap Mama sambil menatap wajah Andika.
Mama terlihat sangat asing saat menatap wajah Andika.
"Kamu siapa?"
Mama bertanya kepada Andika saat menatap wajahnya.
"Aku Andika Ma, aku adalah teman Salsa," ucap Andika sambil tersenyum.
"Mama kira kamu adalah kekasih Salsa," ucap Mama sambil menghela nafasnya.
"Mama, Salsa belum memiliki kekasih," ucap Salsa sambil memegang tangan Mama.
"Sebenarnya aku sangat ingin menjadi menantu Mama, tapi apalah daya Mam, Salsa selalu menolak ku." Andika menatap wajah Salsa yang sangat ingin marah ketika mendengar ucapannya.
"Benarkah itu Salsa," tanya Mama sambil menatap ke arah wajah Andika.
"Benar Mam, Salsa memang sedang tidak mau memiliki pasangan," jawab Salsa.
"Salsa, padahal Andika sangat tampan, dia juga seorang Dokter." Mama sepertinya sangat suka jika melihat Andika.
"Mama hanya tidak mau jika sampai kamu menolaknya." Mama berharap jika Salsa mau menjadi ke kasih Andika.
"Mama, tidak semua lelaki yang terlihat baik, bisa menjadi laki-laki yang baik." Salsa tidak mau jika sampai Mama salah memahami Salsa.
"Tapi nak, Mama hanya ingin kamu tahu jika menjadi seorang laki-laki yang baik itu tidak akan bisa sempurna, seperti yang kamu harapkan."
Salsa mengangguk agar Mama tidak marah dengannya.
"tapi itupun jika kamu mau menjadi kekasih laki-laki yang kamu cintai, Mama sebenarnya sangat cocok dengan Andika."
Mama terlihat seperti sudah mengenal Andika.
"Mama baru pertama kali bertemu dengan Andika, tapi kenapa Mama sangat berharap jika Andika bisa menjadi laki-laki yang cocok untukku?" Salsa ingin tahu alasan Mama untuk menerima Andika sebagai kekasihnya.
"Sejak Mama melihat mata Andika, saat itu juga Mama mengetahui bahwa Andika bisa menjadi kekasih yang cocok untukmu."
"Mama, aku akan berusaha menjaga Salsa," ucap Andika.
Mama semakin tersenyum melihat sikap Andika yang sangat berani mengatakan kata-kata cintanya untuk Salsa.
"Tapi Ma, belum tentu juga aku bisa menjadi kekasih Andika." Salsa sangat tidak mau jika sampai dirinya menjadi kekasih Andika.
"Papa, apakah Papa senang jika melihat Salsa menikah dengan Andika?" Mama bertanya kepada Papa.
"Papa tidak bisa memberi keputusan Ma, karena Papa juga melihat Bahwa Salsa butuh bahagia." Papa sangat berharap jika Salsa bisa menjadi anak yang bisa menikmati kehidupan dan bahagia.
"Biarkan Salsa mengejar karir Ma, Setelah Salsa sudah sukses, baru Salsa mau menikah." Salsa ternyata sangat ingin bisa menjadi dokter yang sukses.
"Bagus, Papa sangat setuju dengan keputusan mu," ucap Papa.
"Salsa, Mama sangat berharap jika kamu mau menikah segera, karena Mama sangat ingin memiliki cucu," ucap Mama dengan sangat berharap.
Andika tersenyum mendengar ucapan Mama, karena Mama bisa menjadi pendukung Andika untuk bisa dekat dengan Salsa.
"Mama, sebenarnya Salsa masih ingin hidup bahagia, tapi jika Mama meminta Salsa menikah, baiklah aku akan menikah."
Salsa sangat sedih ketika akan mengikuti ucapan Mamanya.
"Mama hanya ingin memiliki cucu, Kamu tahu Mama hanya memiliki satu anak, tapi dia sangat sibuk bekerja, Mama sangat merasa kesepian." Mama sangat berharap, jika Bisa memiliki cucu yang bisa menemaninya setiap hari.
"Aku juga Ma, Aku sangat ingin segera menikah, tapi aku belum memiliki kekasih." Andika mencoba untuk membuat Nama tersenyum dengan ucapannya.
"Aku ke kamar Ma, aku tidak mau jika sampai Mama berpikir sesuatu yang aneh tentang Andika." Salsa sangat tidak suka jika Mama dekat dengan Andika.
"Kamu sudah mengenal Salsa?" Mama bertanya kepada Andika.
"Sudah Ma, tapi Salsa tidak pernah mengerti perasaan yang sedang aku rasakan." Andika berharap jika Salsa bisa memahami perasaan yang Andika harapkan.
"Andika, sebenarnya Mama sedih kalau melihat kamu dan Salsa terus bertengkar, padahal Mama sudah mengenal kamu sejak awal Reiner bekerja."
"Awalnya Salsa sudah dekat denganku Ma, tapi saat dia menjadi kekasih laki-laki lain, Salsa terus menjauh dariku." Andika mulai menceritakan kedekatan Salsa dengan Bagas.
"Laki-laki lain?" Mama bertanya-tanya mengenai laki-laki yang dicintai oleh Salsa.
"Siapa?"
"Bagas Mam, Salsa sangat dekat dengan Bagas, aku hanya bisa melihat Salsa bersama Bagas, padahal aku sangat sakit melihat mereka semakin akrab." Mama tida bisa memberikan dukungan kepada Andika, karena takut Salsa tertekan dengan keputusan yang Mama buat.
"Mam, aku pulang dulu iya," ucap Andika berpamitan kepada Mama.
"Hati-hati di jalan," ucap Mama sambil menatap wajah Andika yang segera pergi meninggalkan rumahnya.
Salsa masih sangat kesal dengan sikap Andika, "dasar selalu cari perhatian,'' ucap Salsa dengan sangat kesal.
Melihat sikap Salsa, Andika semakin yakin untuk bisa menjadi kekasihnya.
"Kamu memang terbaik Sa, aku sangat berharap jika kamu bisa menjadi kekasihku," ucap Andika sambil masuk ke dalam mobilnya.
Namun saat Andika akan masuk ke dalam mobilnya tiba-tiba Andika berhenti, dia mengingat bahwa kunci mobilnya tertinggal.
"Aduh kunci mobilku tertinggal," ucap Andika.
Andika segera kembali menuju ke rumah Salsa, saat itu Salsa sedang berada di depan rumahnya.
"Kamu menunggu aku kembali?" Andika bertanya kepada Salsa.
"Tidak, aku sedang duduk dan tidak mau di ganggu." Salsa menatap wajah Andika dengan sangat kesal.
"Sa, jika kamu bersikap seperti itu, kamu hanya membuatku semakin jatuh cinta kepadamu," bisik Andika.
"Sudah lelah mendengar ucapan mu yang terus menggoda ku." Salsa kesal karena Andika hanya membuatnya merasa sedih.
"Tapi Sa, selama ini aku terus berjuang untuk bisa singgah di hatimu, tapi kamu tidak pernah memberikan tempat untukku."
"Aku sudah bilang kepadamu, setiap kali aku dekat denganmu, saat itulah aku tidak bisa menahan marahku."
"Kenapa harus bertengkar Sa, kamu hanya selalu bisa marah, tanpa mau mengerti perasaanku." Andika sangat berharap jika Salsa bisa memahami hati Andika.
"Ada apa di luar Pa, sepertinya mereka sedang berkelahi," ucap Mama saat mendengar Andika dan Salsa berdebat.
"Aku heran denganmu, setiap ada wanita, kamu selalu menggodanya." ucapan kekesalan Salsa selalu di ucapkan untuk Andika.
"Sa, ada lalat di bibirmu," ucap Andika. Salsa segera memegang bibirnya, saat itu juga satu kecupan manis menempel di bibir Salsa.
"Andika, kenapa kamu lakukan itu padaku," teriak Salsa dengan sangat kesal.
"Maaf Sa, aku hanya ingin kamu tahu, bukti dari cintaku padamu."
Salsa sangat kesal dengan sikap Andika, Andika justru masuk ke dalam rumahnya dan mengambil kunci mobilnya.
"Andika, kamu sangat tidak sopan," teriak Salsa sambil mengikuti Andika yang masuk ke dalam rumah Salsa.
Mama melihat sikap Salsa yang terlihat sangat kasar kepada Andika.
"Kamu kenapa Salsa," tanya Mama saat melihat anaknya bersikap sangat kasar kepada Andika
"Tidak Ma, Salsa hanya menemani Andika masuk ke dalam rumah." Salsa sangat kesal dengan sikap Andika.
"Mama tidak suka jika melihatmu bersikap seperti itu," ucap Mama menasehati Salsa.
"Mama, kenapa harus membela Andika, Mama tidak lihat dia terlalu bersikap tidak sopan," ucap Salsha.
Mama justru menggelengkan kepalanya.
"Menurut Mama, Andika baik, jadi jika kamu menganggap Andika yang tidak baik, sepertinya kamu salah."
Salsa terdiam sambil menatap wajah Andika, padahal Salsa sangat senang melihat Andika yang terus menggodanya.
"Maaf Mam, tadi kunci mobilnya tertinggal," ucap Andika sambil mengambil kunci mobilnya.
"Oh iya Andika, mama minta maaf dengan sikap Salsa yang tidak sopan."
Andika tersenyum menatap Mama, melihat Salsa yang semakin kesal membuat Andika semakin senang.
"Salsa tidak salah Mam, mungkin dia hanya butuh waktu untuk mengenal Andika."
Tatapan kesal semakin Salsa rasakan, apalagi saat Andika menatap wajahnya.
"Kamu memang pandai mencari perhatian, bahkan Mama tidak peduli denganku," gumam Salsa sambil merasa sedih karena sikapnya yang membuat Andika semakin merasakan kekesalan.
"Mama nggak usah mengantarkan Andika," ucap Salsa sambil memegang tangan Mama.
"Kenapa?" Mama merasa heran dengan sikap Salsa yang terlalu bersikap dingin.
"Karena Andika itu bukan laki-laki yang baik," jelas Salsa. Mama tersenyum menatap wajah Salsa.
"Saat ini kamu hanya menilai Andika tidak baik, suatu saat kamu pasti akan jatuh cinta dengannya." Mama sangat mendukung jika Salsa menjadi kekasih Andika.
"Apa yang bisa Andika banggakan, semua yang Andika lakukan terlihat sangat kampungan," gumam Salsa. Salsa tidak mau jika sampai jatuh cinta dengan Andika.
Kekecewaan yang pernah Salsa rasakan membuatnya semakin sedih.