Pergi Ke Pesta

1500 Kata
Andika sangat ingin menghadiri acara pernikahan sepupunya di Bandung, namun Andika tidak ingin jika ditanya mengenai pasangannya. ‘’Apa aku harus pergi bersama Salsa, agar aku tidak ditanya mengenai pasangan,’’ ucap Andika sambil duduk di kursi santai yang ada di rumahnya. ‘’Tapi aku rasa Salsa tidak akan mau jika aku mengajaknya untuk pergi.’’ Andika tahu jika Salsa akan menolak ajakannya. ‘’Aku tidak akn diam, aku akan mencobanya.’’ Andika segera pergi ke kamar Salsa. Andika segera membunyikan bel kamara Salsa, Reiner segera keluar dari kamarnya. ‘’Siapa yang datang,’’ ucap Reiner dengan sangat penasaran. ‘’Andika,’’ ucap Reiner sangat terkejut ketika melihat Andika sedang berdiri di depan pintu. ‘’Bolehkah aku masuk?’’ tanya Andika kepada Reiner. Reiner tersenyum sambil mempersilahkan Andika masuk. ‘’Boleh, ayo masuk.’’ Reiner tidak mau persahabatannya menjadi sangat jauh, karena ada Salsha. ‘’Apakah ada Salsha disini?’’ Andika menanyakan Salsa karena tidak melihat ada Salsa di ruang tamu Reiner. ‘’Sepertinya dia sedang di kamar,’’ jawab Reiner. Andika tersenyum melihat kamar Salsa. ‘’Reiner, sebenarnya aku sedang ada perlu,’’ ucap Andika kepada Sahabatnya, sebenarnya Andika takut jika Reiner akan marah. ‘’Ada apa?’’ Reiner mencoba untuk membantu Andika. ‘’Aku akn pulang ke Bandung.’’ Andika sebenarnya merasa malu jika harus jujur kepada Reiner, namun jika tidak jujur Andika pasti akan merasa menyesal. ‘’Ya silahkan, kamu sudah tahu jalan pulang menuju ke rumahmu.’’ Reiner santai menjawab pertanyaan Andika. ‘’Bukan itu yang aku mau.’’ Andika mencoba menjelaskan kepada Sahabatnya. ‘’Lalu apa?’’ Reiner mulai penasaran dengan keinginan sahabatnya. ‘’Aku ingin menghadiri pesta pernikahan sepupuku, tapi aku malu jika aku tidak memiliki pasangan.’’ Andika mencoba untuk memberitahu Reiner. ‘’Baiklah, aku akan menemanimu.’’ Reiner mencoba untuk menemani Andhika datang menuju ke pesta pernikahan. ‘’Tapi …’’ Andika merasa tidak nyaman jika harus mengatakan sejujurnya. ‘’Iya, aku kan menemanimu.’’ Reiner tidak mau jika sampai Andika mempermainkan hati Salsha. ‘’Bukan, aku sebenarnya ingin mengajak Salsa untuk pulang ke Bandung.’’ Andika mengatakan yang sejujurnya. ‘’Aku rasa Salsa tidak akan mau.’’ Reiner terus membuat Andika agar menyerah. ‘’Apa boleh aku berbicara dengan Salsa.’’ Andika sangat berharap jika dirinya diperbolehkan untuk menemui Salsa. ‘’Sebenarnya aku merasa sangat keberatan jika kamu menemui Salsa.’’ Reiner merasa jika Andika akan membuat Salsa merasa kecewa dan sedih saat bertemu. ‘’Tolong aku kali ini saja.’’ Dengan sangat berharap jika Reiner mengizinkan Andika untuk bertemu dengan Salsa. ‘’Aku tidak akan bisa membantu.’’ Reiner tidak mau membantu Andhika, karena akan membuat Salsa merasa sedih. ‘’Ah sedih sekali tidak ada yang mau membantu,’’ ucap Andika dengan wajah sangat kasihan. ‘’Kenapa kamu tidak mengajak Dokter Reisa?’’ Reiner mencoba memberi saran kepada Andika untuk bersama Dokter Reisa. ‘’Aku tidak mencintai Reisa.’’ Andika memang tidak memiliki perasaan kepada Dokter Reisa, wajar saja jika dia harus menjauhi Dokter Reisa. ‘’Aku tidak percaya,’’ ucap Reiner. ‘’Kamu selama ini melihat aku dekat dengan Raisa, tapi kamu tidak pernah tahu bagaimana aku menjaganya.’’ Andika sebenarnya sangat ingin menjauh dari Reisa, namun sangat sulit. ‘’Aku tidak tahu, apakah kamu berkata Jujur apa sedang berbohong.’’ Reiner menganggap jika sahabatnya sedang berbohong. ‘’Aku berkata jujur, aku tidak mau membohongimu,’’ ucap Andika dengan sangat bersungguh-sungguh. ‘’Tapi Salsa sangat kecewa dengan sikapmu, jadi aku rasa dia tidak akan mau menemanimu.’’ Reiner tidak akan bisa mengizinkan Salsa untuk bersama dengan Andika. ‘’Sebenarnya aku sangat ingin kamu bisa membantuku,’’ ucap Andika sangat bersemangat agar sahabatnya mau membantunya. ‘’Maaf, aku tidak mau membuat Salsa merasa kesal.’’ Reiner terus berusaha untuk melarang Andika bertemu dengan Salsa. ‘’Tapi jika kamu tidak mengizinkan aku bersama Salsa, apakah kamu tidak kasihan jika aku harus berangkat sendirian.’’ Andika terus berusaha agar Reiner mau memberi izin kepada Salsa. ‘’Aku hanya tidak mau jika kamu membuat Salsa merasa sedih, aku sudah pernah bilang kepadamu, tapi kamu tidak bisa membuat Salsa merasa bahagia.’’ Reiner kesal dengan sikap Andika selama ini. ‘’Aku hanya butuh teman wanita saja, aku tidak akn membuat Salsa menjadi tertekan saat bersamaku.’’ Andika tidak mau jika sampai terjadi sesuatu pada Salsa. ‘’Aku tidak bisa menjawab,’’ ucap Reiner mencoba untuk diam, dan tidak memberikan Andika harapan. ‘’Reiner, apakah aku boleh bertemu dengan Salsa,’’ ucap Andika sambil berharap jiak Reiner mengizinkan. ‘’Salsa sangat lelah, aku rasa kamu tidak akn bisa bertemu dengannya.’’ Reiner selalu mencari alasan agar Andika tidak bisa bertemu dengan Salsa. ‘’Apa karena ada laki-laki yang dekat dengan Salsha?’’ Andika takut jika Salsa sudah memiliki kekasih. ‘’Sepertinya, Salsa sudah memiliki pasangan.’’ Reiner tidak akan pernah mengatakan tentang Salsha yang sebenarnya. ‘’Aku tidak tahu, sampai kapan kamu akan marah padaku.’’ Andika merasa jika Reiner sedang kesal dengannya. ‘’Aku sama sekali tidak marah, aku hanya ingin yang terbaik untuk Salsa.’’ Reiner tidak bisa jika melihat sepupunya harus berada dalam masalah, apalagi jika Salsa harus sakit hati. ‘’Aku sudah katakan padamu, kenapa kamu tidak pergi bersama dengan Dokter Reisa?’’ reiner mencoba untuk menyuruh Andika pergi bersama Raisa. ‘’Aku sudah bilang padamu, jika aku tidak mau.’’ Andika tetap menolak jika harus datang bersama Dokter Reisa. Andika tetap tidak mau pergi sampai Salsa keluar, Reiner bahkan merasa kesal dengan sikap Andika. ‘’Kenapa kamu harus berusaha untuk menemui Salsa?’’ Reiner ingin mengetahui sebenarnya yang terjadi. ‘’Aku hanya ingin mengenalkan Salsa kepada keluargaku,’’ ucap Andika. ‘’Kamu akan mengenalkan Salsa kepada keluargamu, Apakah kamu tidak malu?’’ Reiner menatap wajah Andika dengan sangat kesal. ‘’Tidak, aku justru merasa bahagia, jika Salsa mau ikut bersamaku pulang ke Bandung.’’ ‘’Kak, ibuku menelepon,’’ ucap Salsha memberitahu Reiner sambil menangis. ‘’Ada apa Salsha?’’ Reiner bertanya kepada Salsa. ‘’Ibu sedang sakit,’’ jawab Salsa sambil menangis. ‘’Apa yang harus aku lakukan,’’ tanya Reiner ingin tahu isi hati Salsa. ‘’Aku mau pulang.’’ Salsa sangat ingin pulang dan bertemu dengan Ibunya. ‘’Tapi …’’ Reiner sangat bingung harus menjawab apa. ‘’Aku yang akan mengantarkan kamu pulang.’’ Andika mulai memberikan perhatiannya kepada Salsa. Reiner menatap wajah Andika dengan rasa sangat kesal, Reiner tidak suka jika Salsa pulang bersama Andika. ‘’Andika merasa senang, bisa mendapatkan Salsa,’’ gumam Reiner dengan sangat kesal. ‘’Bagaimana dengan pekerjaanku,’’ tanya Salsa. ‘’Semuanya serahkan padaku, aku akan menyelesaikan semuanya.’’ Andika merasa jika dirinya akan bisa membantu Salsa. Reiner kesal dengan sikap Andika yang membuat Salsa percaya dengan kata-katanya. ‘’Dasar Andika, mencari cara untuk mendekati Salsa,’’ gumam Reiner. ‘’Ibuku sakit sekarang, apakah kita bisa pulang sekarang.’’ Salsa berharap bisa segera menemui Ibunya. ‘’Aku akan mengantarkan kamu,’’ ucap Andika sambil membersihkan air mata Salsa. ‘’Aku senang, jika kamu mau mengantarkan aku pulang.’’ Salsa segera masuk kedalam dan bersiap-siap. ‘’Dasar kamu,’’ ucap Reiner. ‘’Aku akan menjaga Salsa, kamu jangan khawatir.’’ Andika tersenyum sambil menatap wajah sahabatnya. ‘’Kamu selalu ada ide untuk mendekati Salsa.’’ Reiner kesal melihat sikap Andika. Andika tersenyum sambil menatap Reiner. ‘’Aku bisa mengajak Salsa pulang, tanpa bantuanmu.’’ Andika merasa bangga karena bisa melakukan itu semuanya. ‘’Kamu tidak bersiap-siap,’’ ucap Reiner. ‘’Tidak, aku hanya butuh membawa ponsel saja.’’ Andika merasa santai sambil menantikan Salsa selesai memakai pakaian. Salsa terlihat sangat sibuk sekali dengan persiapan yang akan dibawa. ‘’Kamu mau bawa apa saja Sa?’’ tanya Reiner saat melihat sepupunya sangat sibuk. ‘’Beberapa pakaian dan alat make up.’’ Salsa terlihat sangat sibuk saat akan bepergian. ‘’Kenapa kamu harus berdandan?’’ Reiner tidak suka melihat sepupunya terlihat cantik di depan Andika. ‘’Aku nggak mau jika pergi hanya mengenakan pakaian yang tidak rapi, Aku terbiasa berpakaian rapi.’’ Salsa masih sibuk memoles wajahnya. Andika tersenyum melihat Salsha yang sangat rapi, saat akn pergi bersamanya. ‘’Aku senang melihat Salsa yang begitu rapi, Salsa sepertinya tidak mau jika sampai terlihat sangat jelek,’’ gumam Andika sambil menatap wajah Salsa. ‘’Kamu pasti merasa bangga jika Salsa terlihat sangat cantik,’’ ucap Reiner sambil menunjukan rasa tidak suka. ‘’Aku bisa menerima Salsa apa adanya, jika dia tidak cantik pun aku mau,’’ ucap Andika. Salsa segera menatap wajah Andika. ‘’Aku kesal mendengarnya,’’ tegas Salsa. Salsha kesal melihat sikap Andika yang terus menggodanya. ‘’Aku mau kamu tahu jika aku mencintaimu.’’ Andika masih mencoba menggoda Salsha. ‘’Jika dihadapanku mengatakan seperti itu, tapi jika kamu tidak serius aku tidak mau mendengarnya.’’ Salsa kesal dengan sikap Andika. ‘’Apakah masih lama?’’ tanya Andika saat melihat Salsa belum juga selesai memoles wajahnya. ‘’Sebentar, jika kamu tidak sabar nanti aku terlihat jelek.’’ Salsa sengaja memakai beberapa makeup agar terlihat sangat cantik. ‘’Aku senang jika melihat kamu berpakaian dengan sangat rapi, aku berharap jika kecantikanmu bisa aku miliki.’’ Andika sangat berharap bisa memiliki Salsa. ‘’Kamu kira aku boneka,’’ Salsa tersenyum sambil menjawab ucapan Andika. ‘’Sepertinya begitu.’’ Andika terus menggoda Salsa. ‘’Kalian membuatku merasa sangat kesal,’’ ucap Reiner dengan kesal. ‘’Kamu tidak memiliki kekasih, wajar saja kamu tidak senang jika aku dekat dengan Salsa.’’ Andika menggoda Reiner. Melihat mereka sering bertengkar membuat suasana menjadi semakin ramai, meskipun mereka sering bertengkar akan tetapi mereka sangat dekat. Persahabatan yang terjadi membuat mereka semakin dekat, dan bisa merasakan artinya persahabatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN