Mengawasi Salsa

1337 Kata
Salsa dan Reza pergi ke salah satu mall, Reza dan Salsa terlihat sangat mesra ketika pergi untuk berbelanja, saat itu juga Bagas selalu mengawasi mereka. Bagas pergi dengan berpakaian rumah sakit, masuk ke tempat mall besar, tentu banyak orang yang melihatnya. "Apakah ada yang salah pada diriku?" Bagas merasa sangat aneh ketika beberapa orang selalu menatap wajahnya, terlihat sangat jelas jika dirinya merasa tidak nyaman ketika harus menjadi pusat perhatian. Bagas melirik seorang wanita yang sangat cantik mencoba menertawai dirinya, bahkan wanita itu sempat berkata. "Apakah anda sedang kabur dari rumah sakit?" Tentu Bagas merasa sangat kesal ketika ada yang bertanya seperti itu. "Aku tidak kabur dari rumah sakit, Aku hanya mencari sesuatu." Namun Bagas sepertinya mengenal wanita itu, melihat wajahnya dari kejauhan membuat Bagas merasa semakin yakin jika dirinya mengenal wanita itu. "Tunggu sebentar Kamu jangan pergi dulu," ucap Bagas meminta wanita itu untuk berhenti, tentu saja wanita itu segera berhenti, sambil menatap wajah Bagas. "Apakah aku bersalah?" Wanita itu sangat takut jika ucapannya terdengar sangat bersalah. "Tidak, Namun sepertinya aku sangat mengenal dirimu." Bagas mencoba memandangi wajah wanita itu, wanita itu pun tersenyum saat Bagas melihat wajahnya. "Iya aku Andini, teman sekolahmu dulu saat SMA." Andini tersenyum sambil menyapa Bagas, tentu saja Bagas sangat senang ketika bertemu dengan teman lamanya. "Kamu terlihat sangat cantik sekali Andini," ucap Bagas memuji Andini. "Ah kamu tidak usah memujiku berlebihan, Aku sama sekali tidak cantik." Andini tidak ingin jika dirinya mendapat pujian dari Bagas. "Apakah kamu mau menemaniku untuk makan malam bersama?" Bagas segera mengajak Andini untuk bisa makan bersama, Tentu saja Anda tidak bisa menolak ajakan Bagas. "Baiklah, aku akan menemanimu untuk menyantap makanan kesukaanmu." Andini dan Bagas berjalan ke salah satu kedai yang ada di mall, mereka segera memesan makanan. Sambil menikmati hidangan yang disajikan oleh pelayan, Mereka terlihat sangat akrab sekali, nampaknya mereka sudah sangat mengenal satu sama lain. "Kenapa kamu mengenakan pakaian rumah sakit?" Andini merasa sangat aneh ketika Bagas menggunakan pakaian rumah sakit. "Aku sedang sakit, Namun karena ingin mencari tahu sesuatu, Terpaksa aku mengikutinya." Bagas pemberitahuan ini mengenai sesuatu yang sedang terjadi pada dirinya, namun Andini justru tertawa saat mendengar jawaban dari Bagas. "Wah kamu memang pria yang sangat romantis, kamu bahkan mengikuti langkah kaki wanita saat tidak berada di depanmu." Andini justru memuji Bagas, namun Bagas terlihat sangat kesal ketika mendapat pujian dari Andini. "Bukan itu maksudku, karena aku melihat wanita yang aku cintai bersama dengan pria lain, tentu aku tidak mau jika sampai dia menghianati cintaku." Bagas memberi tahu kepada Andini mengenai sesuatu yang terjadi pada dirinya. "Jadi kamu memiliki kekasih yang tidak setia?" Andini tertawa saat melihat ekspresi wajah Bagas. "Kenapa kamu justru menertawaiku?" Bagas sangat tidak suka melihat sikap Andini yang berperilaku tidak sopan. "Sungguh aku sangat kasihan ketika melihatmu harus memiliki kekasih yang tidak setia, sangat disayangkan Kenapa hal itu bisa terjadi." Bagas benar-benar tidak suka ketika Andini berkata seperti itu. "Kamu tidak tahu betapa hancurnya hatiku ketika melihat wanita yang sangat aku cintai pergi dengan pria lain." Andini mencoba menenangkan Bagas dengan cara cara mengelus pundaknya, terlihat sangat jelas jika Andini sangat ingin menertawai Bagas. "Ayolah kamu adalah pria yang sangat tampan, tanpa harus kamu mencari wanita, aku yakin pasti akan sangat banyak wanita yang sangat ingin menjadi kekasihmu." Bagas tersenyum sambil menatap wajah Andini, melihat sikap sahabatnya tentu membuat Bagas merasa terhibur. "Kamu sama sekali tidak mengetahui bagaimana situasi perasaanku, sungguh aku benar-benar merasa sangat bahagia Ketika kamu datang." "Jadi ternyata aku mampu menghibur dirimu?" Andini mencoba bertanya kepada Bagas untuk memastikan sesuatu yang ada di dalam pikiran Bagas. "Yah setidaknya kamu sudah bisa membuatku tidak terlalu memikirkan masalah yang terjadi pada diriku, namun ketahuilah sebenarnya hatiku terasa sangat sakit." Meskipun Bagas bisa tersenyum namun dirinya tidak bisa melihat melihat jika wanita yang dicintainya pergi dengan pria lain. "Aku mencoba memberi saran kepada mu, jika memang wanita itu tidak bisa setia kepadamu, lebih baik kamu mencari sosok wanita yang bisa setia kepadamu." "Kamu mungkin tidak pernah merasakan bagaimana rasanya patah Hati, sungguh sangat sakit." Bagas mencoba memberitahu Andini bagaimana rasanya sakit hati, namun Andini justru tertawa melihat sikap Bagas. Suara tertawa Andini terlihat sangat jelas sekali, bahkan sampai membuat Bagas merasa sangat malu ketika mendengar Andini tertawa. "Apakah kamu tidak bisa mengurangi volume suaramu?" "Maafkan aku Bagas, Aku sama sekali tidak sengaja bersikap seperti ini." Andini segera diam agar Bagas tidak marah, mungkin sikap Andini yang selama ini selalu menyakitkan hati para pria, membuat dirinya semakin yakin dan percaya diri untuk menertawai Bagas. "Wajar saja jika kamu bisa tertawa diatas penderitaanku, aku yakin pasti kamu lebih sering bermain perasaan dengan pria lain." "Kamu sangat benar, aku memang sangat senang mempermainkan perasaan pria, Aku tidak mau jika sampai mereka mempermainkan perasaanku." Andini merasa bangga, selama ini dirinya harus bersusah payah untuk bisa melupakan perilaku buruknya, bahkan Andini memutuskan untuk tidak berhubungan dengan para pria, karena tidak ingin jika menyakiti perasaan Mereka lagi. "Wajar saja jika kamu bisa tertawa, kamu bahkan tidak mengerti bagaimana perasaanku." "Sudahlah Bagas, tidak perlu kita membahas masalah yang tidak penting, yang terpenting saat ini hidup kita bisa bahagia." Andini menyarankan kepada Bagas untuk lebih mengutamakan kebahagiaan, percuma saja Jika mencintai seseorang namun wanita itu sama sekali tidak mau memberikan cintanya untuk kita. Andini selalu menasehati Bagas agar bisa melupakan Salsa, meskipun Salsa adalah wanita idaman Bagas, namun jika tidak bisa membahagiakan Bagas, rasa itu sangat menyakitkan untuknya. "Aku sangat berterima kasih, ternyata kamu jauh lebih peduli kepadaku." Bagas merasa sangat bersyukur ketika dirinya bisa mendapatkan seorang sahabat yang mau mengerti perasaannya. "Kamu harus tahu, mungkin saat ini aku tidak bisa melupakan Salsa, namun suatu saat aku pasti akan mencari wanita yang jauh lebih baik dari Salsa." Bagas berusaha untuk bisa melupakan semua yang dilakukan oleh Salsa, mengingat rasa sakit hati yang ada di dalam jiwanya tentu membuat Bagas merasa sangat kecewa. "Jika kamu mencari seorang kekasih, aku bersedia untuk mendaftar." Andini tertawa sambil menggoda sahabatnya. "Tanpa harus kamu mendaftarkan diri, Jika kamu mau aku akan menjadikan kamu sebagai kekasihku." Bagas tidak ingin mendengar ucapan Andini yang selalu membuatnya merasa kesal, karena ingin membalas semua yang dilakukan oleh Andini, tentu saja Bagas mencoba memberikan rayuan maut agar Andini bisa mengetahui jika Bagas juga bisa membuatnya merasa malu. "Oh Ternyata kamu jauh lebih pandai dariku," Andini tersenyum sambil menatap wajah Bagas. "Apakah kamu baru mengetahui jika aku sangat pandai?" Tentu saja kata tatapan Bagas membuat Andini semakin malu, mendengar semua yang diucapkan oleh Bagas terdengar sangat menggoda Andini. "Aku tidak mau jika terus berbicara kepadamu, aku hanya merasa Jika kamu tidak serius dengan ucapanmu." Andini menundukkan kepalanya, menunjukkan bahwa dirinya merasa sangat malu ketika berhadapan dengan Bagas. "Sungguh benar-benar mempesona, jika melihatmu setiap hari seperti ini, aku yakin pasti semua kekesalan yang ada pada diriku akan menghilang." Bagas justru semakin menggoda Andini, melihat sikap Andini yang terlihat sangat malu, namun Bagas tidak mau berhenti membuat Andini tersipu malu. "Sudah cukup Bagas, Aku ingin segera pergi pulang." Untuk menghindari rasa malu Yang Andini rasakan, Andini ingin segera pergi meninggalkan Bagas. Namun Bagas tidak mau jika membiarkan Andini pulang sendirian. "Aku akan mengantarkanmu pulang?" Bagas berencana untuk mengantarkan Andini pulang, Bagas bahkan tidak ingat jika dirinya sama sekali tidak membawa mobil. "Lalu bagaimana dengan mobilku?" "Kamu tidak usah bingung, karena aku pergi ke sini tanpa mengendarai mobil." Bagas menyadari jika dirinya pergi tanpa membawa mobil. "Jadi kamu hanya ingin mencari gratisan saat naik mobilku?" Andini menggoda Bagas. "Tidak Andini, karena beberapa hari yang lalu aku masuk ke dalam jurang, Tentu saja aku sangat trauma jika harus membawa mobil sendiri." Bagas memberitahu bagaimana keadaan kejiwaannya sekarang. Adik ini sangat terkejut ketika mendengar ucapan Bagas, selama ini Andini mengira jika Bagas hanya Sakit biasa, Namun ternyata dugaan itu semua salah. "Jadi kamu berpakaian seperti ini, karena kamu baru saja kecelakaan?" Andini sangat ingin mengetahui kejelasan dari ucapan Bagas, Bagas menganggukkan kepalanya, agar Andini bisa mengetahui jawaban dari semua yang dikatakan. "Maafkan aku Bagas, Aku sama sekali tidak mengetahui jika kamu baru saja mengalami kecelakaan." Andini terdiam sambil menatap wajah Bagas, namun Bagas justru tersenyum saat melihat Andini mengkhawatirkan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN