Ada sesuatu yang membuat Reinal bersikap sangat memalukan, Reinal tiba-tiba sangat ingin melakukan sesuatu kepada Natali.
Saat mereka berada di salah satu ruangan yang sangat tertutup, dan tidak ada sama sekali orang yang melintas di tempat itu, tiba-tiba Rainal segera menarik tangan Natalie, tentu saja Ada hal lain yang ingin Reinal katakan.
"Natalie, sepertinya aku merasa sangat kelelahan," ucap Reinal sambil tersenyum. Natalie segera menatap wajah Rainal untuk memastikan sesuatu yang terjadi padanya.
Namun saat Natalie menatap wajah Rainal, tentu saja dengan sangat cepat Reinal segera menarik tubuh Natalie, Natalie sama sekali tidak bisa menolak sesuatu yang dilakukan oleh Reinal, bahkan terlihat sangat jelas jika Natalie justru menikmatinya.
"Kamu terlihat sangat cantik sekali, sungguh aku sangat terpesona dengan kecantikan mu." Reinal mencoba memuji Natalie, senyuman manis terlihat sangat jelas diwajah Reinal untuk membuat wanita yang ada di dekatnya bisa merasakan sesuatu.
"Aku sangat malu Pak, aku sama sekali belum pernah melakukan hal yang aneh." Natalie terlihat sangat polos ketika berada di dekat Reinal.
"Aku yang akan mengajarimu, Kamu tidak usah malu saat aku mulai bermain." Tiba-tiba Reinal mencoba untuk memberikan sebuah sentuhan di bibir Natalie, saat itu juga Natalie segera mendorong Reinal.
"Hentikan perbuatan burukmu ini, meskipun kamu terlihat sangat tampan, Aku tidak mau jika sampai menu dari diriku dengan kesalahan yang kamu lakukan." Natalie terlihat sangat kesal, Dia segera berjalan meninggalkan Reinal sendirian.
"Mungkin Dia mengira aku seperti wanita yang lain, mau menerima semua perbuatan buruk yang dilakukan olehnya," ucap Natali diiringi dengan rasa kekesalan menuju ke ruangannya.
Tentu saja Natalie tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, ketampanan yang dimiliki oleh Rainal sering digunakan untuk membuat wanita yang ada disekelilingnya jatuh cinta kepadanya, namun hal itu tidak ingin sampai terjadi kepada Natalie, berharap jika dirinya bisa jauh lebih menjaga kesuciannya.
Reinal terlihat sangat kesal ketika Natalie menolaknya, mungkin karena setiap Rainal menggoda Wanita, saat itu juga wanita akan jatuh dalam pelukannya.
"Sialan, Kenapa dia justru menolak ku?"
Reinal sama sekali tidak mengerti jika semua perbuatan yang dilakukan olehnya, belum tentu bisa membuat wanita lain merasa nyaman saat berada di dekatnya, mungkin jika selama ini ada banyak wanita yang menjadi korban sikap buruknya.
"Bahkan beberapa Dokter yang sangat cantik tidak berani menolak cintaku, Kenapa wanita rendahan seperti Natali justru membuatku merasa sangat malu." Reinal segera duduk di kursi sambil mengingat semua yang dilakukan oleh Natalia.
"Tunggu saja, aku pasti akan membalas semua rasa maluku kepadanya."
Reinal meremas-remas tangannya, sambil membayangkan jika dirinya bisa membuat Natalie jatuh ke dalam pelukannya, tentu saja karena semua yang dilakukan oleh Natalie terlihat sangat menolak semua yang dilakukan olehnya.
"Padahal aku sama sekali tidak jelek, bahkan beberapa wanita yang berada di rumah sakit ini, sangat ingin menjadi kekasihku."
Caca segera menghampiri sahabatnya, sejak tadi Caca mengawasi sesuatu yang dilakukan oleh Rere.
"Kamu kenapa tadi terlihat seperti orang sedang mau mengawasi sesuatu?" Caca menegur Rere saat Rere masih sibuk mengawasi sesuatu yang dilakukan oleh Reinal.
"Kamu mengatakan ku saja," ucap Rere.
"Aku sama sekali tidak membuatmu kaget, Aku hanya ingin bertanya mengapa dirimu terlihat sangat sibuk."
"Aku sedang mengawasi sesuatu yang terjadi pada Reinal," jawab Rere sambil menatap wajah sahabatnya.
"Ayolah kita masih memiliki beberapa pekerjaan yang penting," ucap Caca. Caca tidak mau jika melihat sahabatnya mengabaikan pekerjaannya.
"Tunggu sebentar, ada hal yang penting yang sangat ingin aku ketahui."
"Rere, pekerjaanmu sangat banyak hari ini, Kenapa kamu justru sibuk mengawasi kegiatan yang tidak penting." Caca segera menggandeng sahabatnya untuk pergi bekerja.
Sebenarnya Rere terlihat sangat kesal ketika menatap wajah Caca, namun kali ini Rere ingin mengikuti semua yang diucapkan oleh sahabatnya.
"Baiklah aku akan mengikutimu kemana kamu pergi, meskipun aku merasa sangat kesal kepadamu." Rere menjelaskan kekesalan yang ada di hatinya.
Caca segera berhenti untuk menatap wajah sahabatnya, melihat Caca yang terlihat sangat kesal, tentu saja Rere mencoba untuk membuat sahabatnya tidak marah lagi.
"Maafkan aku sahabatku, aku tidak bermaksud membuatmu kesal." Rere menggoda sahabatnya, tentu saja Salsa mulai tersenyum saat mendengar ucapan dari Rere.
"Kamu harus memahami sesuatu, selama ini mungkin aku terlihat sangat kasar kepadamu, tapi ketahuilah Jika Aku melakukan ini semua karena aku peduli denganmu."
Senyuman manis terlihat di wajah Salsa, berharap jika persahabatan yang mereka jalani bisa menjadi jauh lebih baik.
"Maafkan aku sahabatku, mungkin aku hanya sibuk dengan pekerjaan yang tidak penting, Baiklah aku akan bekerja sangat giat lagi." Rere segera masuk ke dalam ruangannya, namun saat dia membuka berkas yang ada di meja, Rere terlihat sangat bingung.
"Kenapa berkas yang tadi aku ambil, tidak ada di sini?" Rere merasa sangat aneh saat membuka lembaran yang ada di dalam berkas tersebut.
"Sungguh ini adalah sesuatu yang sangat menyebalkan, jika tahu begini mungkin aku tidak akan pernah mau melakukan sesuatu yang sangat tidak penting.'' Rere segera berdiri untuk mencari berkasnya yang terjatuh, mungkin saja Rere tidak sengaja menjatuhkan berkas itu.
"Aku akan mencoba pergi ke ruangan Reinal, aku yakin pasti jatuh di sana?"
Caca merasa sangat aneh ketika melihat sahabatnya beranjak pergi meninggalkan ruangan, Tentu saja dia tidak ingin jika sampai sahabatnya melakukan sesuatu di luar pekerjaannya.
"Apakah tadi belum puas mendengar semua ucapanku, saat ini dia pergi kembali ke ruangan itu untuk mencari sesuatu." Caca menarik nafasnya untuk menghilangkan kesalahan yang ada di dalam hatinya.
"Terserah dia mau melakukan apa, percuma saja jika aku menasehatinya, dia tidak mau mendengar nasehat yang aku berikan."
Caca segera menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang sudah ada di mejanya.
Rere masih berjalan menyusuri beberapa ruangan untuk mencari berkas yang tadi terjatuh, terlihat jika Ririn sangat bingung karena tidak bisa menemukan berkas itu.
"Ke mana aku bisa menemukan berkas itu?"
Namun Rere sangat bahagia ketika melihat berkas itu terjatuh tepat di depan ruangan Reinal.
"Benar seperti dugaanku, berkas yang selama ini aku cari ternyata jatuh tepat di depan ruangan Reinal." Rere dengan sangat cepat berjalan menuju keruangan Reinal.
"Aku akan mengambilnya sebelum Reinal keluar dari ruangannya." Rere mencocokkan tubuhnya untuk mengambil berkas itu, namun dia sangat terkejut ketika melihat ada sepatu yang mencoba menginjak berkas itu.
"Siapakah orang yang sangat berani menginjak berkas yang akan aku ambil," ucap Rere terlihat penuh dengan kekesalan, berharap jika dirinya akan membalas semua yang dilakukan oleh pria itu.