Langit sore di luar jendela berubah perlahan menjadi gelap. Warna oranye memudar, digantikan oleh biru tua yang kelam. Cahaya lampu dari luar hanya menyinari sebagian dinding kamar, meninggalkan bayangan panjang di lantai yang seolah menelan seluruh ruang dalam kesunyian. Ruby masih duduk di kursi, tubuhnya lelah, tangannya sakit karena tali kasar yang mengikat pergelangannya. Namun matanya tetap terbuka, penuh kewaspadaan. Ia tahu Greyson tidak pernah mengucapkan sesuatu tanpa maksud. Dan ketika pria itu berkata “malam ini kau akan tahu rasanya dihukum,” Ruby tahu, badai itu belum datang. Ia hanya menunggu waktu. Detik jam terdengar pelan, tapi bagi Ruby, setiap detiknya terasa panjang seperti menit. Udara di kamar semakin pengap. Ia menggeliat sedikit, mencoba melonggarkan ikatan d

