Langit di luar benar-benar gelap kali ini. Hujan turun tanpa suara, seolah ikut menahan napas bersama seluruh rumah. Ruby masih terikat di kursinya, tapi kali ini ia merasakan sesuatu yang berbeda—suasana kamar itu tidak sekadar sunyi. Ada sesuatu yang berubah, seperti udara yang menebal dan menekan dadanya. Lalu suara langkah itu datang lagi. Lambat. Berat. Pasti. Pintu terbuka, dan Greyson masuk tanpa berkata apa-apa. Ia tidak membawa senjata, tidak juga menunjukkan ekspresi marah. Wajahnya datar, bahkan terlihat tenang. Tapi justru ketenangan itu yang membuat Ruby ingin berteriak. Ia menatap Ruby lama. “Masih keras kepala?” tanyanya pelan. Ruby tidak menjawab. Greyson melangkah lebih dekat, menatap wajahnya seperti sedang menilai sesuatu yang rapuh. “Lucu. Kau melukaiku, tapi mas

