Pagi datang secara perlahan. Cahayanya yang lembut muncul dari celah tirai tipis yang menembus masuk, menyingkap debu halus di udara kamar tempat Ruby masih terikat. Hujan juga baru saja reda, hanya meninggalkan aroma tanah basah yang tercium samar. Ruby belum sepenuhnya terjaga, tapi tubuhnya terasa kaku—dingin, lelah, dan nyeri di pergelangan tangan. Ia memejamkan mata lebih lama, mencoba menenangkan diri, hingga suara ketukan halus di pintu membuat matanya terbuka secara perlahan. Tak butuh waktu lama, pintu itu terbuka tanpa suara yang keras. Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh lima tahun masuk, mengenakan seragam sederhana berwarna abu lembut. Rambutnya diikat rapi, wajahnya lembut tapi tampak menyimpan sesuatu di balik ketenangannya. Di tangannya ada nampan perak berisi

