Di sebuah ruangan berlapis kaca tebal di lantai tertinggi kantor miliknya, Greyson duduk bersandar di kursi kulit hitam. Di hadapannya, layar besar menampilkan rekaman CCTV dari restoran tempat Ruby baru saja bertemu dengan Elijah. Tangannya yang memegang cerutu bergerak pelan, sementara matanya tak pernah lepas dari sosok Ruby yang terekam kamera. “Wanita itu, terlalu banyak bicara,” ucap Greyson datar, meski ada nada tajam di ujung kalimatnya. Luwis, pria berperawakan tegap dengan setelan abu-abu rapi, berdiri tak jauh di belakangnya. Tangannya menyelip di saku celana, ekspresi wajahnya serius. “Saya juga memperhatikan itu, Tuan. Wanita itu juga tampak gugup. Ia tidak biasanya menunjukkan ekspresi seperti itu kalau hanya sekadar makan siang biasa.” Greyson mengetukkan jarinya ke meja,

