Ruby membuka pintu apartemennya perlahan, menutupnya kembali dengan hati-hati seakan takut suara keras bisa memanggil bayangan Greyson masuk ke dalam ruangannya. Begitu kunci berputar dan pintu terkunci rapat, ia bersandar sejenak di sana, menutup mata, menarik napas panjang. “Tenang, Ruby… tenang…” bisiknya pada diri sendiri. Ia berjalan menuju ruang tamu, meletakkan dompetnya di atas meja, lalu menjatuhkan tubuh ke sofa. Televisi dinyalakan tanpa benar-benar ingin menonton apa pun—hanya butuh suara, butuh distraksi dari kekosongan yang kian menjerat. Layar menampilkan sebuah drama Korea romantis, adegan ringan yang jauh berbeda dari dunia kelam yang baru saja ia bicarakan dengan Elijah. Ruby meraih remote, menaikkan sedikit volume. Ia lalu menaruh bantal kecil di pangkuannya, memelukn

