Pertemuan Greyson dan Ferrano itu pecah begitu saja—tanpa aba-aba, tanpa sikap saling menghormati, hanya amarah lama yang mengeras seperti kerak besi bertahun-tahun. Ruangan gudang bawah tanah yang gelap dan beraroma debu itu seolah mengunci mereka berdua dalam lingkaran yang tidak memberi ruang untuk kompromi. Ferrano datang pertama, berjalan masuk dengan langkah panjang dan aura tajam yang tidak berusaha ia sembunyikan. Di sisi lain ruangan, Greyson berdiri bersandar santai pada dinding beton, namun sorot matanya—dingin, tajam, penuh potongan pisau kecil—menyambut kedatangan pria itu. “Jadi ini caramu memanggilku?” Ferrano mendengus. “Jebakan murahan.” Greyson tersenyum tipis. “Kalau aku mau membunuhmu, Ferrano… kau sudah jadi mayat sejak lima menit pertama kau menginjakkan kaki di te

