Udara malam di luar gudang terasa jauh lebih dingin daripada biasanya—dingin yang menusuk tulang, dingin yang membawa firasat buruk. Baru saja mereka berhasil menerobos keluar, suara sirene itu semakin dekat. Bukan sirene polisi, bukan juga milik keluarga kriminal mana pun yang mereka kenal. Nada suaranya berbeda—lebih berat, lebih nyaring, lebih… mengancam. Ferrano menoleh cepat ke Greyson. “Siapa itu?” “Aku kira kau yang membawa tamu,” balas Greyson sinis sambil menyeret tubuh Bernardo yang setengah pingsan. “Aku? Kau bercanda?” Ferrano membalas dengan nada mencela. “Aku bahkan tidak bawa anak buah. Kau pikir aku bodoh datang ke wilayahmu tanpa undangan?” Greyson mendesis rendah. “Saat ini, aku tidak peduli apa aku harus menembakmu dulu atau menyeret pamammu ini ke neraka.” Ferrano

