Asap mesiu perlahan menipis. Hening itu memekakkan telinga. Gudang yang setengah runtuh hanya menyisakan bayangan-bayangan gelap dan bau darah yang menusuk hidung. Mobil Armando telah menghilang di tikungan hutan. Jarak antara ketiga pria yang tersisa—satu hidup, dua berdiri—sekarang berubah menjadi seperti kawah panas yang siap meledak kapan saja. Ferrano masih berlutut di samping jenazah pamannya, rahangnya mengeras sampai gigi beradu satu sama lain. Napasnya tersengal, seperti menahan seluruh dunia agar tidak runtuh di atas kepalanya. Greyson tidak menurunkan senjatanya bahkan setelah Armando pergi. Tangannya gemetar halus—bukan takut, tetapi marah. Marah karena disudutkan. Marah karena diinjak. Marah karena ada seseorang yang berani menyebut masa lalunya seperti barang bekas. Akhir

