KASIH SAYANG KELUARGA

1411 Kata
Aku mencintaimu karena segenap alam semesta bersatu membantuku menemukanmu. (Paulo Coelho)   “Ternyata Todd sangat hebat,” ucapku dalam perjalanan kami. “Sejak kecil, dia yang terhebat diantara kami. Dia sangat pintar, tubuhnya sehat, dan pandai meyakinkan orang. Pengetahuannya sangat luas. Mengobrol dengannya seolah membuka sebuah buku kumpulan pengetahuan dunia.” Aku yakin Lez tidak sedang melebih-lebihkan apapun. “Bagaimana bisa ia tidak lolos dalam seleksi bayi di tempat Erland?” “Aku tidak tahu. Mungkin saat diuji kondisi bayi Todd sedang tidak baik.” Aku angkat bahu. “Lez, saat kita melakukan pengambilan sampel di dekat sungai kemudian terjadi ledakan, apakah aku sempat pingsan?” “Ya. Aku sudah khawatir kamu terkena peluru atau apa. Syukurlah tidak. Kamu hanya shock.” “Yah, aku hidup di negeri yang damai. Itu pertama kali aku mendengar ledakan dalam jarak dekat. Mm, lalu siapa yang memindahkan aku ke kendaraan. Saat sadar kita sudah di dalam.” “Tentu saja Todd. Siapa lagi? Ia mengambil resiko membuang detik-detik berharga untuk bisa menyelamatkanmu.” Kukerutkan kening. “Perlu kamu ketahui, ini kali kedua dia mengorbankan dirinya untuk keselamatanmu.” “Yang pertama?” “Saat kamu koma, kamu kehilangan banyak darah. Todd menyumbangkan darahnya untukmu. Ia sampai harus pemulihan berhari-hari karena terlalu banyak darah yang diambil untuk kamu.” Aku termenung. “Sudah sejauh mana kamu dengan Todd?” “Kita melakukan penelitian bertiga, Lez. Mengapa kamu menanyakan itu?” “Maksudku bukan proyek tanah ini. Hubungan pribadimu dengan Todd.” “Hubungan pribadi?” “Rea, kamu sudah menyatakan di depan kami semua bahwa kamu bersama Todd.” “Iya, bersama. Kita juga sedang bersama kan saat ini. Apa masalahnya?” Lez menatapku tidak percaya. “Pantas saja dia selalu menghentikan aku menggoda kalian. Aku sebenarnya ingin menjelaskan hal ini kepadamu. Tetapi kupikir akan lebih baik kalau Todd yang menjelaskannya sendiri.” Lez mengajakku berbalik menemui Todd. Todd sudah berpindah dari tengah roof top menuju menara pengintai. Dengan tangkas Lez memanjat tangga dan berbicara kepada Todd. Todd menggeleng-gelengkan kepala menolak. Tetapi Lez terus bertahan dan sepertinya di akhir berhasil meyakinkan Todd. Todd turun dengan wajah gusar. Berkali-kali ia menarik nafas panjang dan berat sepanjang jarak antara menara pengintai dengan tempatku berdiri. “Kita ke ruang pertemuan, Rea.” “Aku tidak perlu penjelasan apapun, Todd. Terkadang, tidak tahu itu lebih baik.” Todd menggeleng. “Ini juga tugasku, Rea. Akan kulakukan.” Kutarik nafas dalam-dalam. Todd menoleh menungguku melangkah. Kujejeri langkah lebarnya. Kami menuju ruang pertemuan di lantai tersebut. Masih seperti ruang pertemuan sebelumnya yang pernah kumasuki, begitu lampu dalam dimatikan, dinding berubah transparan. Kami bisa melihat Lez yang menggunakan teropong untuk mengamati kami. Todd menggelengkan kepala. Ia membuka penutup panel pengatur ruangan, lalu menyentuh salah satu tombol. “Aku mengaktifkan peredam. Lez menggunakan alat bantu dengar untuk menguping dan teropong untuk mengamati.” “Apakah hal ini begitu penting?” “Ya.” Aku bersiap untuk sesuatu yang sangat serius. Kami duduk berhadapan dipisahkan sebuah meja selebar sekitar enam puluh sentimeter. Todd terlihat berpikir keras sebelum angkat bicara. “Todd, jika kamu belum siap menyampaikan ini kepadaku, sebaiknya kita tunda saja.” “Bagaimana jika sebenarnya aku sudah siap menyampaikannya sejak berhari-hari yang lalu?” “Lalu mengapa kamu tidak mengatakannya?” “Karena aku tidak yakin kamu siap mendengarnya. Aku juga berpikir kita perlu berkonsentrasi dahulu dengan proyek ini. Apa yang akan kukatakan bisa saja merusak semua.” Kugigit bibir bawahku. Kutarik nafas dalam-dalam. Todd menatap menara pengintai. Ia mendengus kesal. Todd berdiri, membuka panel di dinding, menekan sebuah angka, lalu menekan tombol hijau. “Lez, tolonglah. Biarkan kami bicara dengan tenang.” “Baiklah. Baiklah. Ini memang urusan Negara. Rakyat jelata harus sabar menanti hasilnya.” Lez tertawa. Todd menutup panel, lalu kembali duduk. “Secara saat ini bisa dibilang proyek kita sudah selesai, bisakah kamu mengatakannya?” Todd mengangguk. “Sebelum kukatakan, aku boleh bertanya?” Kuanggukkan kepala. “Apakah kamu merasa aman bersamaku?” Kuanggukkan kepala. “Apakah kamu merasa aku orang yang berbahaya?” Kugelengkan kepala. “Apakah kamu akan menendangku dengan lututmu seperti yang diajarkan Lez tadi?” “Aku yakin kamu tidak sebrengsek itu memaksaku sesuatu.” Todd tersenyum. “Aku berterima kasih kamu mengatakan di depan semua orang bahwa kamu bersamaku. Jujur, aku menyelidiki banyak calon untuk diambil. Tetapi pada kamu, selain apa yang sudah kamu lakukan, aku juga tertarik secara khusus. Tristaz mengerti dan mengabulkan permintaanku. Saat kamu koma, aku sudah merasa kehilangan separuh hidupku. Kulakukan apa yang kubisa untuk mempertahankan kamu. Syukurlah kamu kembali.” “Kamu tidak obyektif.” Ia tersenyum. “Aku tahu. Tetapi saat kamu melakukan seleksi, kemudian menemukan satu calon yang memenuhi semua kriteria seleksi sekaligus menarik hatimu, apakah itu bukan sebuah petunjuk?” Todd sejenak menunduk. Ia menarik nafas panjang, lalu menatapku. “Mungkin kamu tidak tahu, di tempat ini mengatakan bahwa kamu bersama seseorang, itu artinya kalian punya hubungan khusus.” “Aku tidak punya tujuan khusus saat mengatakannya.” “Aku tahu. Oleh karena itu reaksiku tidak berlebihan, karena aku yakin kamu tidak mengetahui makna kalimatmu itu bagi warga Path 09.” “Jadi selama ini kamu mengesampingkan perasaan kamu kepadaku agar tugas kita selesai?” Todd menganggukkan kepala. “Dan kamu masih berjanji akan mengantarku pulang.” Todd mengangguk lagi. “Seorang pria sejati akan berjuang menunaikan janjinya, Rea. Lagipula, melihat bagaimana kamu selama bersama kami, aku sadar aku tidak boleh memaksa kamu tinggal. Aku menyayangimu tetapi aku tidak ingin memaksakan kehendakku kepadamu. Aku hanya perlu kamu tahu bahwa aku menyayangi kamu meski nantinya kita akan berpisah dan hidup di dunia masing-masing.” Aku terdiam. Kutautkan kedua tanganku yang sedari tadi berada di atas meja. “Aku mungkin tidak sehebat pria yang kamu idamkan menjadi pendampingmu. Aku tahu dunia kita berbeda. Aku hanya bersyukur bertemu kamu dan kamu membuatku paham apa maksud dari rasa ini. Aku jadi mengerti. Terima kasih untuk semuanya. Aku tidak masalah jika setelah ini kamu menjaga jarak denganku. Aku tidak memaksa kamu harus membalas perasaan ini. Aku paham kita barusan saja bertemu. Bisa jadi kamu tidak merasakan hal yang sama sepertiku.” Suara Todd terlihat tenang saat mengatakannya, tetapi kemudian rahangnya mengeras. Kami berdiam beberapa saat. “Kamu ingat pertanyaan yang belum berhasil kujawab?” Todd mengangkat muka lalu mengangguk. “Sekarang aku tahu jawabannya.” “Apa?” “Suatu saat kita akan mengalami ujian. Perang, kalau dalam bahasamu. Dia yang berjuang terus menemani pada saat sulit tidak akan tergantikan.” Todd menatapku penuh tanda tanya. “Kamu telah menyelamatkanku dengan darahmu saat aku terluka. Kamu mengorbankan keselamatanmu sendiri untuk menyelamatkanku dari ledakan. Untuk itu aku sangat berterima kasih.” Todd tersenyum. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok atau lusa. Seperti kalian katakan, hidup di tempat ini seolah memang hanya penundaan kematian. Kalau dipikir-pikir, hidup di manapun memang seperti itu. Kita ini hanya sedang menanti giliran. Kalau aku tidak terjatuh ke jurang saat mendaki, berarti bukan itu waktu kematianku. Aku sepakat dengan kalian bahwa di masa menunggu ini kita harus mengisi dengan hal yang berarti.” Todd mengangguk. “Bersamamu aku sadar, Todd. Ada banyak hal penting yang selama ini kuabaikan. Aku berharap mendapatkan kesempatan kedua untuk menebus semua sikap abaiku itu dan menjadi Rea yang lebih baik. Aku berterima kasih kamu telah mengundangku kemari, Todd.” “Kamu tidak lagi menyebutku menculikmu?” “Tidak.” “Kamu tidak menyesal?” “Jika waktu bisa diputar ulang, aku tidak menginginkan kejadian yang berbeda. Aku bahagia bersamamu, Todd.” Todd tersenyum. Matanya meredup. “Terima kasih. Proyek kita sudah selesai. Kebersamaan itu juga akan segera berakhir.” Kugelengkan kepala. “Aku bicara dalam bahasa kalian, Todd.” “Maksudmu?” “Aku tahu ini terlalu dini. Tetapi aku tahu aku merasakan hal yang berbeda padamu. Tidak sekadar urusan fisik, tetapi lebih dari itu. Aku menyayangimu, Todd.” Todd seperti tidak percaya dengan pendengarannya. Kuraih kedua tangannya. “Edrea menyayangi Todd. Edrea juga tahu dunianya dan dunia Todd berbeda. Tetapi setidaknya Todd harus tahu Edrea bahagia bersama Todd.” Wajah Todd merona. Kami bangkit. Sesaat sebelum menyentuh pintu, tiba-tiba Todd berbalik dan memelukku. “Kamu bilang bersentuhan dilarang di negeri ini, Todd.” “Itu larangan Erland. Aku tidak peduli. Kalaupun kelak kita sama-sama terkena virus apalah itu, setidaknya Rea sudah tahu Todd menyayanginya.” Aku tertawa. Kutempelkan telinga ke dadanya. “Apakah kamu merasakan kedamaian seperti ini saat bersama orangtuamu?” tanyanya. “Benar sekali, Todd. Itu benar.” “Aku akan mengantarmu pulang, Rea. Secepatnya.”   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN