Kamu tidak membutuhkan kekuatan besar,
atau senjata-senjata terbaik untuk menemukan bunga matahari pertama mekar.
Kamu cukup memiliki keberanian, kehormatan, ketulusan,
dan yang paling penting, mendengarkan alam liar tersebut. (Tere Liye)
Berhari-hari kami sibuk dengan proyek menanam. Mereka mencetak tidak hanya satu media tanam. Tetapi lima buah, dengan asumsi Todd mengumpulkan empat benih yang berbeda. Kami menanam lalu meninggalkan mereka di tempat khusus pada sudut laboratorium. Situasi kami aman. Bahkan Al tidak melihat yang kami lakukan. Ia diminta membantu Tristaz membenahi kabel di kamarnya.
Sambil menjalankan proyek menanam, kami juga menjalankan mesin analisa tanah. Todd dan Lez seolah khawatir tidak punya minggu depan.
Usai bekerja keras hari itu, mereka mengajakku ke puncak markas, tempat Todd biasa mengintai lingkungan sekitar.
Kukeluarkan biskuit kering dari saku jaketku.
“Apa ini?” tanya Lez.
“Makanan beneran,” jawab Todd seraya memberikan contoh cara memakan biskuit.
Lez mengikuti contoh yang dilakukan Todd. Sebelum menggigit, ia mengamati dahulu biskuit itu.
“Apa isinya?” tanya Lez.
“Biasanya campuran antara tepung, mentega, gula, s**u, soda kue, dan sedikit garam. Yang ini, diberi tambahan keju,” jawabku.
“Mentega?” tanya Lez.
“Lemak s**u,” jawabku.
“s**u?” tanya Lez dengan makin mengerutkan dahi.
“Air kehidupan yang diproduksi ternak bernama sapi. Tetapi aku tidak melihat hewan ini di wilayah yang ditaklukkan kemarin. s**u sapi sebenarnya nutrisi untuk bayi sapi. Tetapi produksinya biasanya sangat banyak, sehingga manusia bisa ikut menikmati.”
“Makananmu sangat merepotkan.”
Aku dan Todd tertawa.
Lez menggigit biskuitnya. Ia mengunyah pelan-pelan, seolah berusaha mengurai bagian penyusun biskuit dan rasanya masing-masing.
“Makanan kalian sangat kompleks. Sayangnya, ia tidak mengenyangkan.”
Aku tertawa mengingat makanan mereka setiap hari adalah tablet yang ketika bertemu air mengembang dan menghasilkan rasa kenyang dalam waktu singkat.
“Setidaknya, biskuit dibuat dari bahan yang aku tahu tidak perlu penaklukan untuk mendapatkannya. Aku juga tidak khawatir ada sari kehidupan orang lain dalam apa yang kumakan.”
Mereka terdiam.
“Tablet di Path 09 dibuat seratus persen dari hasil sintesis dan nutrisi dari bahan nabati. Kamu tidak perlu khawatir ada daur ulang ekstrak makhluk bernafas di situ,” bela Todd.
Kuhela nafas lega.
“Apa yang akan terjadi pada ibu-ibu, para bayi, anak-anak, orang-orang tua, dan jenazah pria-pria itu? Bagaimana dengan hasil bumi dan tanaman mereka yang dicabut dan disedot paksa sedemikian? Mengapa setelah itu masih harus membakar rumah dan segala sisanya?” tanyaku.
“Ibu-ibu itu akan diseleksi. Mereka yang berbadan sehat akan menjadi ibu-ibu yang menghasilkan bayi-bayi sehat atau ASI. Bayi dan anak-anak akan dipilih yang sehat. Sisanya … akan bersama jenazah,” gumam Lez.
“Apa maksudmu?”
Tentu aku ingat Lez pernah melalui semua itu.
“Kamu tidak akan bisa membayangkan melihat mereka masuk ke mesin besar ….”
“Sudah, Lez, jangan ceritakan. Aku tidak ingin terbayang-bayang.”
Kututup telingaku.
Todd meraih tanganku dan menggenggamnya. Entah bagaimana, ini menyalurkan ketenangan padaku.
“Erland memang kejam. Ia seperti bukan manusia. Anak buahnya sudah tidak bisa berpikir sehingga hanya bisa membenarkan apa yang dilakukannya. Entah sampai kapan Erland bisa bertahan hidup. Aku khawatir, jika ini terus berlangsung, kita tidak bisa melawan lagi karena kekuatannya sudah terlalu besar, sementara kekuatan kita masih terlalu sedikit,” ucap Todd.
“Erland bisa saja kan hanya menjajah penduduknya agar menyerahkan hasil kebun mereka. Kenapa harus sekejam itu?” sesalku.
“Itu yang membuat kami sepakat untuk menurunkan Erland. Generasi Erlandlah yang membuat polusi begini parah. Ia seolah hanya berpikir untuk kejayaan saat ini.”
“Rencana kalian, sampai kapan melakukan persiapan? Sejauh ini, seberapa kalian siap melakukan pemberontakan?” tanyaku.
“Tristaz mengetahui dengan pasti perbandingan kami dengan tentara Erland baru mencapai satu berbanding sepuluh. Masih terlalu besar tantangannya. Karena itu kami harus menyiapkan peralatan dan strategi perang yang lebih baik agar mampu mengalahkan jumlah tentara Erland. Kamu tahu, dalam sejarah negeri ini pernah terjadi penaklukan yang gagal karena wilayah itu memiliki strategi dan peralatan yang unggul.”
“Mengapa kalian tidak bergabung dengan wilayah itu?”
“Karena pemimpin wilayah itu sekarang menguasai negeri ini.”
Todd dan Lez nampak getir mengatakannya. Jadi, strategi dan peralatan yang unggul itu harus dilawan dengan teknologi?
“Banyak sejarah bangsa lain dimana pejuang yang memberontak, tadinya dengan niat baik untuk meruntuhkan penguasa kejam dan mencapai kondisi yang lebih baik. Suatu saat, ketika telah menikmati gelimang harta dan kekuasaan, ia menjadi pemimpin kejam berikutnya. Semoga Tristaz tidak demikian,” ucapku.
“Kamu tahu mengapa kami memilihmu, Rea?” tanya Lez.
Aku menatap mereka.
“Biar kutebak. Karena mesin kalian tidak bekerja dengan baik?” tebakku.
Mereka tertawa.
“Karena kami mengamati kamu mudah menyesuaikan diri dan mampu tetap bertahan dalam situasi buruk. Tidak heran kamu sama sekali tidak memberontak minta dipulangkan meskipun kamu tahu tempat ini antah berantah. Kamu membaur dengan kami. Kamu bersedia membantu kami walau kamu menyangkal memiliki ilmu yang cukup dalam bidang itu. Kamu juga tidak egois dengan hanya mementingkan tugasmu di sini selesai, lalu minta pulang.”
“Maksudmu?”
“Dengan kamu memberi kami ide menganalisis tanah, kemudian membuat media tanam tenaga lampu, dan bukti bahwa kita bisa menumbuhkan sesuatu dari benih, sebenarnya tugasmu sudah selesai. Kami tinggal lanjutkan, karena sekarang kami tahu itu bukan hal yang mustahil. Melihat hasil analisa sampel tanah pertama, kandungan nitrogen dan komponen lain masih baik untuk digunakan bertanam. Kami hanya perlu meneliti bagaimana sistem pengairan yang baik agar tanaman tumbuh maksimal. Mungkin dalam waktu dekat, kami akan mulai makan makanan beneran,” ucap Todd sambil menunjuk matahari yang mulai turun.
“Jadi sebenarnya aku sudah boleh pulang?” tanyaku sambil menatap matahari.
Todd mengangguk.
“Rea, kamu sudah mengenal dunia penelitian dan pengintaian Todd. Aku ingin kamu juga mengenal duniaku. Bukan bermaksud menjadikan kamu prajurit kami, tetapi entah mengapa aku punya perasaan mengajarimu beladiri akan berguna.”
“Oke. Kapan kita latihan?” tanyaku.
Lez tertawa sambil bangkit dari duduknya.
“Untuk pemanasan, bagaimana kalau sekarang?”
Lez langsung memasang kuda-kuda.
Todd melepas tanganku. Aku bangkit sambil tertawa. Kuikuti kuda-kuda yang dicontohkannya.
“Kuda-kuda atas seperti ini memungkinkan kamu bergerak bebas. Mau menendang atau maju memukul, tidak ada masalah.” Lez mencontohkan sebuah tendangan dan pukulan.
Kuikuti.
Todd duduk berselonjor santai mengawasi kami.
“Kalau seorang cowok berusaha menyerangmu dari jarak dekat, mungkin memaksa memelukmu, kamu bisa lakukan ini ke tempat diantara kedua kakinya.”
Lez mencontohkan menggunakan lutut untuk menyerang.
Kukerutkan dahi.
“Mengapa aku harus melakukan itu? Bukankah itu berbahaya bagi cowok?” tanyaku.
“Dia membahayakanmu kan? Kamu berhak menyerang daerah vitalnya. Tendang sekuatmu, ia bisa pingsan.”
“Ahh, aku mengerti.”
“Itu jika kamu tidak menginginkan perlakuannya. Lain masalah jika kamu juga menginginkan dia. Ehm.” Berkata begitu Lez mengedipkan sebelah mata kepada Todd.
Todd langsung berdiri dan memukul lengan Lez.
“Lupakan, Rea. Lez sedang melantur,” ucap Todd dengan nada bergurau.
“Aku serius, Rea. Jangan dengarkan Todd.”
Lez sengaja memancing reaksi Todd. Tetapi Todd tetap tenang.
“Rea, apa kamu tahu kalau Todd punya kemampuan lebih dalam beladiri?”
Kuanggukkan kepala.
Lez menyeringai. Ia terus menggoda Todd, hingga akhirnya mereka sparing. Dapat kulihat bagaimana terampilnya Todd menangkis dan membalas. Setelah beberapa serangan brutal Lez, dengan sigap Todd memukul d**a Lez sedangkan kakinya dengan cepat menjegal kaki Lez. Detik berikutnya Lez terjatuh ke lantai.
“Aku tidak pernah bisa mengalahkan anak ini,” lapor Lez.
Todd tertawa seraya mengulurkan tangannya. Lez menerima tangan itu untuk membantunya bangkit. Aku senyum.
“Lusa aku akan bertugas menjadi instruktur sparing. Kalau kita sudah menyelesaikan urusan hidup kecambahmu itu, ayo ikut, Re,” ajak Lez.
Kuanggukkan kepala.
Senja sudah menghilang. Saatnya kami meninggalkan Todd yang malam itu mengintai. Kali ini Lez yang mengantarku.