BATAS PENANTIAN

1193 Kata
Dua hal tidak ada batasnya: alam semesta dan kebodohan manusia; dan saya tak yakin tentang alam semesta. (Albert Einstein)   “Aman,” bisik Lez, menjelang pagi kedua. Kami sudah tiga kali melihat pesawat dan tentara darat Erland melakukan penyisiran. Setelah tidak menemukan apa-apa, mereka tidak kembali dalam delapan jam terakhir. Kami bertahan hidup dengan cadangan tablet hijau dan sebotol air yang kami bawa dari markas sebelum berangkat. Lapar dan haus, tetapi bertahan hidup memang berat dan sulit. “Kamu baik-baik saja?” bisik Todd. Kuambil nafas dalam-dalam. Kuanggukkan kepala. Lez mengenakan kacamata kerennya untuk memindai sekitar kami. Ia juga mengaktifkan radar untuk memastikan tidak ada kendaraan tersembunyi. Lez mengajak kami keluar. Berhati-hati kami mendekati area yang tadinya kebun penduduk. Semua sudah hancur lebur dan berwarna abu-abu. Separah inikah penaklukan di dunia Erland. Tidak heran ada anak buahnya yang memilih meninggalkannya dan bercita-cita membangun dunia baru yang lebih ramah. Kami menyusuri kebun yang sudah tidak berbentuk dan rumah penduduk yang rata dengan tanah. Di bekas sebuah rumah, kutemukan sebuah kotak yang masih utuh sebagian. Di dalamnya kudapatkan beberapa bungkus bibit tanaman. Aku menatap Todd. “Kami mengambil sebagian saja. Suatu saat, jika sudah berkembang biak, akan kuusahakan mengembalikan kemari,” ucap Todd seolah berbicara kepada seseorang. Ia mengambil sejumput benih dari setiap jenis tanaman, lalu dimasukkan ke sebuah kotak. Kami tidak menemukan apa-apa lagi yang berhubungan dengan kemungkinan kehidupan. Kami segera kembali ke kendaraan. “Kakak …,” suara seorang anak kecil menyapa. Kami menoleh dan mendapati ada bocah bersembunyi di balik sebuah batu. Aku mengenalinya sebagai anak yang di hari itu mendatangi pria yang telah terbunuh. Lez segera bergerak untuk memastikan anak itu tidak diikuti. Sementara Todd mendekatinya dan aku berbalik memastikan kami tidak sedang diamati. Todd memeriksa anak itu apakah dipasangi radar atau alat khusus. Sepertinya aman karena kemudian Todd mengajaknya bicara dan membawanya. Kami berangkat bersama anak kecil bernama Jean. Sepanjang jalan ia berdiam. Aku bisa memaklumi betapa besar tekanan mental melihat pembunuhan massal di depan mata. Kuraih tangan kecilnya. Ia diam, namun tidak menolak ketika kurangkul bahunya. Akhirnya ia tidur di pangkuanku. Kami tidak langsung ke markas, karena itu bukan tempat untuk anak kecil. Kami ke Rumah Kanak-kanak tidak jauh dari klinik tempat aku dirawat. Ternyata, di sanalah anak-anak calon penghuni Path 09 dibesarkan. Di tempat itu, ada belasan anak beragam usia. Para bayi mendapatkan tempat khusus di sisi kiri bangunan. Mereka masing-masing tidur dalam buaian, sesekali salah satu menangis dan ditangani oleh petugas. Di sebelahnya, ada ruangan untuk anak besar. Kira-kira seumur anak kelas VI SD. Mereka lebih tenang dan sedang sibuk belajar teknologi komunikasi. Anak-anak seumuran Jean ditempatkan di sayap kanan bangunan, dengan sekat berperedam. Di bagian ini anak-anak sibuk bermain lari-larian, mengendalikan kendaraan, berkomunikasi, hingga berlatih beladiri. Jean tidak melambaikan tangan saat dibawa masuk. Ia hanya menatap kami sekali, lalu melangkah mengikuti wanita yang akan membimbingnya melewati masa kanak-kanak dan trauma. “Ayo, Rea. Kita pulang agar tempat ini bisa segera diamankan kembali,” ajak Todd. Kami segera masuk kendaraan. Rumah Kanak-kanak itu kembali diamankan dengan tudung anti radar dan serangan. “Kamu boleh langsung beristirahat di kamarmu, Rea. Kamu terlihat sangat lelah,” kata Todd. “Kalian akan melakukan apa?” “Kami akan beristirahat juga. Setelah kondisi lebih baik, kami akan ke laboratorium untuk mewujudkan alat yang kamu butuhkan dan menganalisis sampel.” “Jika nanti aku tidak bisa beristirahat, boleh bergabung dengan kalian?” “Hubungi dulu lewat layar. Siapa tahu kami masih ketiduran,” sahut Lez. Kami tertawa dan berpisah menuju lantai masing-masing. Seperti biasa, Todd mengantarku. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya. “Kenapa?” “Melihat kekerasan, misalnya?” “Aku lelah, Todd. Mungkin dengan itu aku bisa tidur.” Ia tersenyum. Hal pertama yang kulakukan di kamar adalah memeriksa lemari dan mendapati kecambahku sudah bertambah tinggi satu jari. “Todd, Lez,” panggilku pada layar. “Iya, Rea?” bersamaan mereka menjawab. “Bisakah kalian mengaktifkan layar dan melihat tumbuhan ini?” Layarku menyala. Wajah Todd yang kucel muncul di sana. Kucel begitu kenapa ia tetap terlihat imut ya. Sementara di layar sebelahnya, rambut gondrong Lez mekar dengan lucunya. Ia mengingatkanku kepada tokoh komik Dragon Ball. Kuangkat gelas kecambah ke depan layar. Ia tersenyum lebar. Sementara Lez membelalakkan matanya seolah tidak percaya. “Amankan dan bawakan untukku ke laboratorium jika kamu berkunjung,” sahut Lez cepat. “Iya. Selamat beristirahat.” “Selamat beristirahat.” Mereka mematikan layar. Kukembalikan kecambah ke dalam lemari. Aku mandi, lalu dengan mengenakan baju santai, aku mendekati jendela. Kutatap kejauhan yang kelabu. Entah kapan aku akan bisa tertidur. Kenyataannya, aku tidak bisa menghilangkan pemandangan perang dan hamparan jenazah dari mataku, bahkan saat kupejamkan. Aku masih menitikkan air mata bila mengingat ibu-ibu yang digiring ke kendaraan khusus bersama bayinya. Anak-anak yang menangis karena dipisahkan dari ibunya. Lalu mayat-mayat yang disedot dengan corong raksasa dan masuk ke sebuah tanki. Apa yang akan dialami oleh tubuh-tubuh itu? Apa yang akan terjadi pada anak-anak tadi? Para ibu? Para bayi? Pria-pria tua? Semua pemandangan itu sukses membuatku hanya bisa berguling kesana-kemari. Kubuka buku harian. Kutuliskan semua yang kualami dua hari ini. Mama, semoga Rea berhasil melewati ini semua dan tetap bertahan hidup. Rea ingin pulang. Rea merindukan Mama. Jika Rea yang meminta, bisakah kalian kembali bersama? Paling tidak, bisakah memberikan penjelasan masalah apa yang begitu parah, sehingga kalian tidak lagi bisa bersama. Aku bukan anak kecil lagi. Aku butuh mengerti dunia dewasa. Aku tidak ingin trauma karena hubungan kalian. Sebagaimana aku tidak ingin trauma karena menyaksikan penaklukan ini.   Pagi datang. Aku segera memanggil Todd. “Kami sudah di laboratorium, Rea. Kamu melewatkan dua kali makan malammu. Segeralah kemari. Kami punya persediaan tablet cukup banyak kalau kamu lapar.” “Aku tidur dua hari?” “Aku heran kamu tidak sedikitpun merasa lapar.” Dia juga tidur. Buktinya dia tidak tahu aku makan mi instan. Bagaimana bisa memasak mi instan? Hallo, saat diambil aku dalam pendakian. Sudah pasti ada alat masak personal dalam ranselku. Asyiknya lagi, asap panas bertekanan sangat efektif membersihkan alat masak. “Iya, Todd. Aku segera ke sana.” Aku keluar kamar. Kecambah kubungkus rapi dalam tas pinggang. Vail menyambutku di koridor. “Kudengar, kamu melakukan riset, ya. Apa hasilnya?” “Hai, Vail. Iya, kami melakukan riset. Hasilnya, dapat sampel. Tetapi masih terlalu dini untuk menceritakan hasil akhirnya. Jadi, aku ke laboratorium dulu, ya,” kataku. Vail mengangguk. Ia tidak berusaha mengejarku atau melontarkan pertanyaan lagi. Entah mengapa, aku jadi merasa tidak nyaman dengannya. Mungkin sebagai akibat dia pernah dengan sadar melanggar aturan. Ia pasti tahu aku anak baru dan tidak memahami peraturan itu. Dan aku pernah menyaksikan ia mengendap-endap di sekitar laboratorium Todd. Todd dan Lez menyambut gembira kecambah yang sudah bertambah tinggi. Mereka menunjukkan hasil cetak media tanam dengan tenaga lampu. Lez sudah meletakkan tanah yang diambilnya dari kebun petani yang kami datangi. Ia sudah meletakkan tanah pada alat. Kami melalui saat bersemangat memindahkan bibit kacang hijau ke media tanam. “Untuk saat ini, biarkan dia berada di dalam laboratorium, ya. Kami perlu melakukan pengamatan. Ditambah lagi, kita harus membuat laporan kepada Tristaz saat makan malam lusa. Aku harap makhluk ini bertahan.” Sampai di situ, aku merasa dunia petani dan lingkungan sangat menarik.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN