PENAKLUKAN

924 Kata
"Hutan membuat hatimu lembut. Kamu akan menjadi satu dengannya. Tidak ada tempat untuk keserakahan atau kemarahan di sana." - Pha Pachak   Kami berlindung di dalam kendaraan. Lez segera mengaktifkan fungsi kamuflase kendaraan. Ia sudah hendak menaikkan kendaraan ketika menyadari wilayah ini sudah dikepung. Kendaraan kembali turun dan bersembunyi di celah diantara dua batu besar. Ledakan keras kembali terdengar. Aku langsung panik lagi. Reflek Todd meraihku. Ia berusaha menutup telingaku dengan menempelkan telinga kananku ke dadanya, sedangkan telinga kiriku ditutup dengan tangannya. Tanganku spontan memeluk tubuhnya sambil berusaha agar tidak bersuara atau menangis. “Kuatkan dirimu. Aku dan Lez akan tetap menjagamu di sini,” bisik Todd. Ledakan-ledakan itu berlangsung mungkin hampir satu jam. Selama itu aku meringkuk kian rapat kepada Todd. Saat sudah cukup lama tidak terdengar ledakan, Todd perlahan melonggarkan tangannya. Akupun melepaskan pelukanku ke tubuhnya. Perlahan kuangkat muka menatap keadaan di sekitar kami yang berasap. “Tetaplah tenang dan tanpa suara, Rea,” bisik Todd. Kuanggukkan kepala. Kutatap wajahnya yang pucat. Aku terkesiap mendapati tanganku yang tadi memeluknya berdarah. Segera kupaksa ia membungkuk, hanya untuk mendapati luka goresan di punggungnya. Sigap Lez mengambil peralatan. Ia membantu Todd melepas atasan. Setelah memeriksa luka Todd, Lez menunjukkan jarum dan benang jahit luka. Aku terkesiap. Todd meraih tanganku dan dipeluknya selagi Lez membersihkan luka dari serpihan ledakan, kemudian menjahit luka itu agar segera menutup. Wajah Todd pucat pasi setelah lukanya berhasil ditutup. Sejauh itu, ia sama sekali tidak bersuara. Hanya genggamannya di tanganku menguat dan mengendur seiring rasa sakit yang dia rasakan. Aku merasakan darahku terserap habis melihatnya kesakitan. Kami berdiam menunggu sambil menenangkan diri. Tanganku terus berpegangan dengan tangan Todd. Saling menyalurkan ketenangan. Aku tidak berani menoleh menatapnya, karena ia masih bertelanjang d**a. Perlahan, asap memudar. Kami yang berada di lereng bukit, dapat melihat ke arah bawah maupun atas. Mau tidak mau, kami fokus memandang ke bawah. Tentara Erland datang dan memaksa penduduk segala usia berkumpul di lapangan. Bagian tengah lapangan segera diisi belasan kendaraan tertutup berukuran besar. Mirip kendaraan angkut barang. Kendaraan-kendaraan ini mendarat dengan suara berdebum dan menebarkan debu ke sekitarnya. Dari tempat kami yang tersembunyi, kami bisa melihat ibu-ibu menggendong bayi atau menuntuk anak-anak sambil menangis ketakutan. Mereka digiring menuju tengah lapangan. Para pria dengan wajah muram berusaha melindungi wanita dan anak-anak. Atas apa yang mereka lakukan, sesekali mereka menerima pukulan dan tendangan dari tentara-tentara berwajah bengis yang pernah kulihat di Stasiun 1 dan 2. Setelah semua terkumpul, Erland maju untuk memberikan pengumuman singkat bahwa wilayah itu sekarang ada dalam kekuasaannya. Siapa yang berusaha melawan akan menjadi musuh besarnya dan berhak atas kekejaman hebat. Erland berjanji akan memberikan kehidupan yang baik kepada mereka yang patuh dan berguna. Seorang pria nampak emosi. Ia berdiri, menuding Erland dan maju untuk menyerangnya. Erland sigap menarik senjata dan menembak d**a pria itu. Darah memercik ke segala arah. Sang Pria langsung roboh. Sebuah robot mendekat dan mengarahkan sebuah corong besar ke arah tubuh pria itu. Ia langsung tersedot dan menghilang ke dalam sebuah tangki. Pembersih jenazah? Aku sudah hampir terpekik, tetapi Todd sigap membekap mulutku. Apa yang terjadi pada pria itu tidak hanya menakutkanku, tetapi juga orang-orang yang berada di lapangan. Anak-anak mulai merengek. Ibu-ibu mulai menitikkan air mata. Pria-pria yang lain menundukkan kepala. Yang kulihat, pria-pria yang bersama di lapangan itu sudah berusia lanjut. Kemana para pemuda? “Erland tidak menginginkan kekerasan. Jika kalian bisa bekerja sama, Erland akan menjamin kedamaian bagi kita semua.” Erland menutup pidatonya dengan gaya yang sangat kebapakan. Melihat kostum perangnya yang berwarna putih bersih, sepertinya Erland bukan jenis pemimpin yang berperang di garis depan. Erland menoleh ke kiri dan mengangguk. Para tentara mulai bergerak. Anak-anak menangis ketakutan ketika dipisahkan dari ibunya dan dimasukkan sebuah kendaraan tertutup. Para ibu beserta bayi dimasukkan kendaraan yang lain. Para pria diarahkan berjalan ke kendaraan yang berbeda dengan dua golongan sebelumnya. Ketika hiruk pikuk itu tengah terjadi, terdengar teriakan dari arah hutan. Dalam gelombang besar, muncullah pria-pria muda dan dewasa yang berteriak keras mengobarkan semangat perang. Mereka menyerang tentara Erland dan berusaha membebaskan lagi para wanita, pria lanjut usia, dan anak-anak yang sudah ditawan. Keadaan kacau balau. Saling serang dan tikam tidak terhindarkan. Darah di mana-mana. Aku yang tidak pernah berada dalam situasi berbahaya, meringkuk menekuk lutut ke d**a, tetapi berusaha kuat mengamati semuanya. Tanpa sadar masing-masing tanganku mencengkeram erat lengan kiri Todd.   Golongan pria muda dan dewasa yang berusaha membela wilayahnya itu pada akhirnya kalah. Tidak satupun dari mereka tersisa. Semua roboh di lapangan. Wajah bengis dan puas tentara Erland menatap jenazah di sekitarnya dengan bangga. Seorang anak kecil yang sedari tadi menyaksikan pertarungan, melangkah mendekati seorang pria. Pria itu belum meninggal. Ia mengangkat tangan mengusap kepala si Anak. Dua detik kemudian tangan itu terkulai dan jatuh ke tanah. Anak itu menghambur memeluk jenazah. Air mataku tidak dapat kutahan, meski aku berusaha tidak terisak. Kami menyaksikan para pria tua, wanita beserta bayi, dan anak-anak dibawa pergi dengan kendaraan yang berbeda. Masing-masing menuju ke arah yang berbeda. Lapangan dibersihkan oleh robot dan mesin penyedot, sehingga tersisa hanya lapangan berumput dengan noda darah di sana-sini. Itupun tidak berlangsung lama, karena datang mesin berikutnya yang menyedot rumput, daun di pepohonan, hewan ternak, bahkan tanaman sayur-mayur di lahan depan rumah penduduk. Batang pohon ditebangi dan dibawa pergi. Setelah bersih semuanya, rumah-rumah dan sisa bonggol pohon dibakar. Kendaraan kami tidak ikut tersedot, karena berada diantara bebatuan pada mode pengamanan tertinggi. Meski demikian, Lez memilih untuk tetap tinggal. Ia meyakini Erland dan bala tentaranya masih membereskan bagian lain wilayah itu. Pilihan terbaik adalah tetap mematikan mesin dan menunggu. Entah berapa lama kami berdiam dan berkomunikasi hanya dengan isyarat mata.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN