"Melupakan cara menggali bumi dan merawat tanah berarti melupakan diri kita sendiri."
- Mahatma Gandhi.
“Masyarakatku yang kucintai, kita berhasil menaklukkan satu daerah lagi. Semua sudah diproses sebagaimana mestinya, tanpa perlawanan berarti. Tinggal dua langkah lagi, seluruh wilayah di kepulauan ini telah menjadi milik kita, dalam pengaturan kita. Mari rayakan hari ini.”
Erland mengangkat gelas, diikuti puluhan gelas yang muncul di depan kamera. Mereka minum bersama, diikuti sorak-sorai membahana. Beberapa orang yang terlihat jemawa berdiri di kanan dan kirinya. Mungkin mereka para pejabat. Tak lama kemudian, sisa orang terus berpesta. Erland dan jajarannya memasuki sebuah ruangan khusus dan menghilang dari layar.
Aku merenungkan berita pagi itu. Apa artinya ‘tanpa perlawanan berarti’?
“Rea, kamu sudah siap?”
Kudengar suara Todd dari balik pintu. Aku membuka pintu.
“Lez sudah menunggu di bawah.”
“Sebelum berangkat, aku ingin kamu melihat sesuatu.”
Todd mengangkat alis. Kubuka pintu lemariku dan kutunjukkan kedua gelas mungil kepadanya. Mata Todd langsung membelalak dan mulutnya membuka. Reaksi spontan atas kejutan yang normal, untuk ukuran anak yang entah bagaimana dibesarkan. Ia berlutut agar bisa mengamati lebih dekat dua daun pertama kacang hijau yang sukses tumbuh di kedua gelas.
“Rea, kenapa ada dua gelas?”
“Yang kiri pakai air beneran yang aku bawa dari duniaku. Yang kanan pakai air jatah minum dari kalian. Ternyata bisa.”
Todd masih terpaku hingga bermenit-menit. Saat mengangkat wajah menatapku, matanya berkaca-kaca.
“Ini pertama kali aku melihat daun hidup, Rea. Terima kasih telah mewujudkan keinginanku.”
Aku berikan senyuman.
“Ini menjadi langkah awal agar kamu bisa menikmati sumber protein dan vitamin segar, Todd.”
Todd tersenyum. Kututup kembali pintu lemari.
“Mengapa ditutup? Bukankah mereka butuh sinar matahari?” tanyanya.
“Tidak saat masih berupa kecambah.”
Kututup kamar yang dengan sendirinya langsung terkunci. Sepanjang jalan, Todd tersenyum. Dengan bahagia ia membalas sapaan penyemangat dari orang-orang yang kami lewati.
Aku juga bahagia. Setelah dua hari melakukan uji alat, akhirnya hari ini kami bisa ke lapangan. Aku sangat bersemangat.
“Rupanya mereka sudah berhasil,” gumam orang-orang yang kami lewati.
Aku menatap Todd. Ia terlihat tidak peduli jadi aku juga ikuti sikapnya.
Tiba-tiba aku teringat siaran tadi pagi.
“Tadi pagi aku menyimak siaran stasiun 1. Ada penaklukan wilayah lagi?”
“Iya. Mata-mata kita membenarkan hal itu.”
“Juga disebutkan tinggal dua langkah lagi menuju kekuasaan penuh. Apa maksudnya?”
“Itu juga tidak aku pahami. Yang aku tahu, hanya satu wilayah lagi yang belum dikuasai Erland. Mengapa disebutnya dua?”
“Todd, kamu yakin tempat ini benar-benar aman dari radar Erland? Kamu yakin mata-mata kalian di sana bukan agen ganda?”
“Pendapatku pribadi, mata-mata kami setia. Jikapun tertangkap, ia akan tahan dengan siksaan seberat apapun untuk tidak membocorkan keberadaan Path 09. Yang aku khawatirkan justru mata-mata Erland di dalam Path 09.”
“Skenario terburuk apa yang bisa terjadi pada kalian semua?”
“Terbunuh.”
Aku terdiam hingga menghentikan langkah.
Todd ikut berhenti, lalu berbalik menatapku.
“Kami tidak takut, Re. Seharusnya kami sudah dibunuh oleh Erland bertahun-tahun yang lalu. Berada di sini adalah penundaan kematian. Kami hanya berusaha agar penundaan itu terisi dengan sesuatu yang berarti.”
Aku terus terdiam. Mengapa dia mengucapkan sesuatu yang membuatku kehilangan kata dan membeku seperti ini?
Ucapannya itu juga membuat aku teringat pada penundaan perceraian orangtua. Apa itu artinya juga bisa kuisi dengan sesuatu yang berarti?
Todd meraih tanganku.
“Lez menunggu kita, Rea.”
Cepat-cepat kuanggukkan kepala. Hingga tiba di depan pintu jok belakang, tangan Todd masih menggenggam tanganku. Ia bukakan pintu, baru melepasku. Ia menutupkan pintu kembali kemudian masuk di jok depan.
“Lama sekali? Ada masalah?” tanya Lez.
“Rea memberiku kejutan. Aku sudah melihat daun hidup, Lez,” sorak Todd.
Lez tertawa.
“Kamu harus tunjukkan juga kepadaku, Rea.”
“Iya. Tentu. Lagipula, aku ingin kalian buatkan alat seperti ini.”
Kukeluarkan lembaran kertas hasil corat-coretku semalam. Sebuah wadah media tanam dengan lampu. Mereka mengamati gambar sambil mengerutkan dahi.
“Jenis lampu apa yang digunakan?” tanya Todd.
“Aku tidak tahu. Aku sendiri belum pernah melihat apalagi menggunakan alat seperti ini secara fisik. Aku hanya melihatnya di internet. Menurutku, lampu apapun asal bisa menggantikan fungsi sumber cahaya, sehingga fotosintesis bisa terus berlangsung sepanjang hari.”
Lez dan Todd manggut-manggut.
“Aku sarankan pakai B-34, Lez.”
“Aku akan mengeceknya nanti. Sekarang, kita berangkat?” tawar Lez.
Kami memulai perjalanan. Kali ini, kami menuju ‘hutan’ yang berdekatan dengan tempat tinggal sekelompok penduduk. Lez memarkir kendaraan di sela pohon buatan, pada titik yang diketahui tidak diawasi oleh kamera pengintai. Untuk keluar kendaraan, kami harus mengenakan helm khusus yang menghalangi udara berpolusi dari luar masuk ke dalam tubuh. Kami juga mengenakan sarung tangan. Rasanya menjadi astronot mungkin seperti ini.
Ada lima rumah yang saling berdekatan dengan model yang sama persis. Dari luar, tidak nampak satupun aktivitas. Hanya ada satu pria yang keluar rumah untuk menjaga pos pengintaian. Ia mengenakan helm seperti kami, tetapi berwarna merah.
“Jika mereka hanya lima rumah tinggal bersama di sini, apa pekerjaan mereka?”
“Pengintai,” jawab Todd. Ia menyerahkan sebuah teropong padaku.
Dengan teropong ini, aku bisa melihat kondisi tanah di sekitar bangunan. Nyaris seragam, abu-abu, seolah-olah bertahun yang lalu telah terjadi kebakaran hebat sehingga yang tersisa hanya abu.
“Di wilayah lain, tanahnya juga abu-abu begini?” tanyaku.
“Kecuali di wilayah yang belum ditaklukkan. Hanya masalah waktu sebelum semua berubah menjadi seperti ini,” ucap Lez. Ia menunduk.
“Lez salah satu anak yang selamat dari serangan Erland ke wilayah tempat tinggalnya. Tidak heran Lez sangat dendam dengan Erland dan kroninya,” jelas Todd.
Kuanggukkan kepala.
“Jadi, di mana kita akan mengambil sampel?”
“Tidak di sini.”
Kami kembali masuk kendaraan. Kulepas helm yang berat sambil bernafas lega.
Kami berpindah ke wilayah lain yang lebih terisolir. Dulunya, ini adalah wilayah tempat tinggal Lez. Ia masih mengenali sisa pondasi rumahnya. Kami mulai menancapkan alat ke tanah, kemudian mengamati lapisan demi lapisan tanah yang diambilnya. Mulai yang berwarna abu-abu, cokelat terang, cokelat gelap, hingga hitam. Todd mengambil wadah sampel dan menutupnya. Ia memasang wadah baru pada alat analisis.
“Kami pikir, kamu perlu sampel tanah di beberapa tempat. Jadi kita juga akan berkunjung ke wilayah yang belum ditaklukkan itu.”
“Apa itu tidak berbahaya?” tanyaku.
“Bahaya? Apa perlunya mengkhawatirkan bahaya saat kamu tahu hidupmu hanyalah penundaan kematian?” ucap Lez.
Aku tertegun. Apa yang diucapkan Lez dengan ringan rasanya mengiris dadaku. Aku enggan berbicara setelahnya. Rupanya Todd menyadari perubahanku.
“Kami tidak bermaksud menganggap enteng nyawa kita, Rea. Aku berjanji akan menjagamu. Aku akan berusaha sampai akhir hingga kamu bisa pulang dengan selamat.”
Kuanggukkan kepala tetapi mulutku tetap diam.
Wilayah yang belum ditaklukkan itu masih memiliki sungai beneran, kebun sayuran, serta hewan ternak. Kami mengambil sampel tanah di dua lokasi. Aku juga minta diijinkan mengambil sampel air sungai. Tengah mengamati sehelai daun yang terbawa aliran air, kami dikejutkan suara ledakan keras. Disusul desing peluru dan sirine di segala penjuru.
Lez dan Todd segera menyadari situasi.
“Penaklukan itu sedang terjadi, Rea. Cepat masuk kendaraan,” kata Lez sambil berlari.
Aku masih shock dan membeku karena suara ledakan itu.
Todd segera menarik tanganku mengajak pergi. Entah mengapa tubuhku melemas dan kesadaranku lenyap.
Saat aku sadar kembali, kami sudah di dalam kendaraan. Aku dan Todd duduk di kursi belakang. Ia menarik kesadaranku dengan menepuk-nepuk pipiku.