Ketika kau melakukan usaha mendekati cita-citamu, di waktu yang bersamaan cita-citamu juga sedang mendekatimu. Alam semesta bekerja seperti itu. (Fiersa Besari)
“Semangat, Rea. Fokus pada tempat yang kamu pukul,” kata Lez dari pinggir ring.
Aku menatap Vail yang kembali mengangkat target ke depan wajahnya. Aku memukul, tetapi Vail lincah bergerak. Berkali-kali pukulanku meleset. Tetapi dengan cara itu aku bisa mendeteksi pola gerakan Vail. Todd mengajariku hal ini kemarin, sambil kami menunggu proses cetak media tanam berikutnya.
Aku pancing Vail dengan pola pukulan yang sama dan ia merespon dengan pola gerak yang sama. Kali ini selain melayangkan tinju, kubarengi dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai target di perut Vail. Vail roboh.
Aku segera mendekat dan hendak mengulurkan tangan untuk menolongnya. Vail menatapku tajam. Ia menepis tanganku, lalu bangkit dan berlari menjauh tanpa pamit. Aku terpaku.
“Wuih, baru dua hari latihan sudah bisa memasukkan tendangan,” puji Todd.
Lez bertepuk tangan. Aku meringis sambil menatap arah perginya Vail.
“Tidak usah khawatir. Anak itu memang fisiknya kuat, tetapi strategi berkelahinya lemah. Tidak usah dipikirkan. Dia hanya butuh waktu sebentar untuk menyendiri,” kata Lez.
Kuanggukkan kepala. Aku keluar dari ring. Todd menyerahkan botol air minumku dan sebuah handuk kecil. Kuseka keringat.
***
Seperti hari-hari sebelumnya, kuhabiskan sore hingga malam itu bersama Todd dan Lez. Kali ini juga bersama Al. Kami menguji alat pembersih lantai yang diperbaiki Al. Jujur saja aku merasa kalah telak dengan anak kecil itu. Tanpa diajari dan dibimbing ia bisa membuat alat itu kembali bekerja.
“Kamu hebat, Al,” pujiku.
Al menatapku sambil tersenyum.
“Aku akan belajar lebih banyak lagi, Rea. Aku akan membuat alat hebat lain yang berguna untuk masa depan kami.”
“Aku yakin kamu bisa.”
Al mematikan alatnya.
“Kamu boleh istirahat, Al. Cukup untuk hari ini. Besok aku akan memberimu tantangan baru,” ucap Todd.
Al memberinya salam tembak dan Todd membalas. Dengan riang Al berlari pergi sambil membawa alatnya untuk dikembalikan di laboratorium.
“Kamu juga harus beristirahat, Rea. Kamu berusaha menghabiskan banyak waktu dengan kami, sudah seperti orang yang akan pulang kampung,” goda Lez.
Aku beri ia senyum.
“Jujur saja, aku merasa akan segera meninggalkan tempat ini.”
“Duniamu lebih indah, Rea. Mengapa kelihatannya kamu berat meninggalkan Path 09. Apakah hatimu sudah berlabuh di sini?”
Todd menjitak kepala Lez yang hanya setinggi lehernya.
“Apa sih, Todd. Aku bertanya. Itu salah?”
“Nggak penting. Ayo, Re. Kuantar kamu kembali.”
Todd tidak mempedulikan ucapan Lez.
Lez tertawa sambil melangkah menuju menara pengintai.
“Selamat beristirahat, Rea.”
“Selamat malam, Todd.”
Kututup pintu seiring senyum Todd dan tatapan matanya. Aku bersandar di balik pintu untuk mendengarkan suara langkahnya dan lift yang kemudian menjauh.
Kuhela nafas. Aku tersenyum mengingat segala kejadian diantara kami. Tidak. Tidak lagi ada pelukan atau sentuhan apapun. Kami tahu harus menahan diri. Kami sudah diskusikan efeknya jika mengikuti naluri manusia itu.
Aku segera mandi lalu menyimak stasiun 1 lagi. Seperti dugaanku, Erland kembali berpesta untuk keberhasilannya menaklukkan wilayah terakhir. Sekarang, seluruh wilayah antah berantah ini sudah menjadi kekuasaan Erland.
“Rakyatku, setelah penaklukan ini, bahan nutrisi, air, dan energi untuk bertahun ke depan sudah terjamin. Kita bisa hidup dengan tenang dan bahagia. Sekarang tentara kita bisa fokus untuk menaklukan kelompok pemberontak yang menamakan diri Path 09.”
Aku terkesiap.
“Kalian perlu tahu, kami sudah menemukan lokasi markas kelompok pemberontak itu. Aku juga yakin saat ini mereka tengah menyimak siaran kita. Jadi, aku akan memberikan peringatan untuk mereka bahwa Erland memberikan waktu 48 jam untuk menyerah agar tidak timbul banyak korban. Mereka yang bekerja sama akan dipertimbangkan keselamatannya. Jika tidak, kalian bisa melihat ini.”
Selanjutnya, stasiun 1 menayangkan video penyiksaan seorang gadis yang mengenakan pakaian masyarakat biasa. Tetapi aku mengenali sosok itu. Vail.
“Kami tahu dia anggota kalian. Jika tidak ingin timbul korban lebih banyak lagi, serahkan diri. Erland menjamin keselamatan mereka yang menyerahkan diri. Sebaliknya, tidak ada ampun bagi mereka yang terus berusaha menimbulkan kekacauan di negeri yang aman, damai, dan sejahtera ini. Ingat, lokasi kalian sudah diketahui. Kalian punya waktu 48 jam untuk memikirkan keputusan terbaik bagi anggota kalian.”
Video diakhiri dengan jeritan Vail.
Rambutku terasa berdiri semua. Bagaimana mungkin Vail bisa berada di sana? Tadi pagi dia bertarung denganku.
“Todd. Kamu mendengarku?” panggilku melalui layar.
“Iya, Rea. Aku mendengarmu.”
“Kamu menyimak stasiun 1? Kalian menyimaknya?” tanyaku.
“Kami sedang menyimaknya, Rea. Tolong beri kami waktu untuk berdiskusi dan memikirkan penyelesaian terbaik. Termasuk keselamatanmu.”
“Oh, baiklah, Todd. Maafkan aku. Aku akan menunggu.”
“Kami akan mengusahakan yang terbaik, Re.”
“Aku tahu.”
“Baik-baiklah. Yang tenang di situ. Jangan ke mana-mana sampai aku menjemputmu.”
Aku matikan layar. Aku meringkuk di atas tempat tidur. Perlahan aku jatuh tertidur.
Entah berapa lama kemudian aku bangun. Dari kepala yang berada di atas bantal, aku bisa melihat semacam kembang api di kejauhan. Aku bangkit.
“Todd …,” panggilku dengan ketakutan yang tidak bisa kusembunyikan.
Layarku menyala. Wajah Todd muncul. Ia masih terlihat segar di laboratoriumnya.
“Nyala itu?”
“Mereka merayakan kemenangan, Rea. Berpesta, seperti biasa.”
“Itu bukan serangan?”
“Tidak mungkin mereka menyerang tanpa jeda. Lagipula, mereka sudah memberikan peringatan dan memberi waktu dua hari. Penjahat juga punya harga diri dengan memenuhi janji.”
“Oh, begitu. Baiklah.”
“Sebentar, ya, Rea.”
Todd menghilang. Berganti kembali dengan stasiun 1. Todd yang mengaturnya.
“Mari kita nikmati dua malam ini dengan pesta kemenangan yang sudah di tangan. Nikmatilah, Rakyatku. Nikmatilah pesta dua malam ini. Kita tidak akan kalah. Bisa jadi kita tidak perlu melakukan penaklukan apapun. Mereka yang akan datang dan menyerahkan tangan kepada kita.”
Sombong ucapan Erland disambut tawa anak buahnya. Mereka minum-minum dan makan tanpa kontrol. Sebagian dari mereka sudah memerah mukanya. Sebagian lagi sudah teler dan tertidur di atas meja. Sebagian masih asyik ha ha hi hi bersama beberapa wanita bersuara nyaring melengking. Dalam kekacauan itu, aku menangkap sesosok perempuan melangkah gontai di belakang gerombolan yang tengah berpesta. Ia mengenakan seragam pasukan Erland.
“Todd.”
“Rea.”
“Apakah yang barusan itu siaran langsung?”
“Iya. Kenapa?”
“Barusan aku melihat Vail berjalan di belakang mereka yang berpesta.”
“Kamu yakin?”
“Yakin sekali. Ia tidak terlihat luka atau lemah.”
Todd tidak bersuara selama beberapa menit. Aku terus menyimak siaran stasiun 1. Pesta pora di berbagai sudut di sekitar Erland. Erland sendiri terus mengangkat gelas dan tertawa-tawa.
Saat bagian rakyat yang lain harus hidup sangat terbatas dengan tiga tablet setiap hari, Erland dan anak buahnya mampu menyelenggarakan pesta dan minum-minum seperti itu. Jelas ada yang tidak beres dengan negeri ini.