“Rea, kita ke ruangan Tristaz sekarang.” kata Todd di depan pintuku.
“Iya.”
Kupakai pakaian putih-putih khas Path 09. Tristaz memanggil, berarti ini pertemuan resmi. Sebagai kesopanan, aku juga akan datang dalam kondisi rapi.
Kami melangkah. Koridor sepi. Aku tidak tahu pasti selain aku dan Vail, berapa penghuni perempuan di Path 09. Saat berkumpul makan malam, aku tidak sempat mengamati dengan baik. Tetapi biasanya masih ada anak lain berkeliaran saat aku keluar. Ke mana mereka?
Ada banyak orang berkumpul di ruangan Tristaz.
“Ayo, silahkan bergabung Rea.” Tristaz menunjuk kursi di seberangnya.
Aku duduk. Semua mata tertuju padaku.
“Pengamatanmu jeli. Itu memang Vail. Jadi, selama ini Vail adalah mata-mata Erland di Path 09. Ia hebat sekali menyembunyikan identitas keduanya, sehingga kami sama sekali tidak curiga,” jelas Tristaz.
Kuanggukkan kepala.
“Vail pernah masuk kamarku. Ia juga pernah menanyaiku tentang misi yang sedang kukerjakan.”
“Kamu menjelaskan padanya?”
Aku menggelengkan kepala.
Tristaz menganggukkan kepala.
“Sejak awal, kami sudah menyiapkan skenario penyelamatan pada situasi darurat. Malam ini, secara berangsur peralatan dan orang dipindahkan ke lokasi baru yang aman. Tempat ini jelas sudah dideteksi oleh Erland.”
Oh. Pantas koridor sepi. Rupanya penghuni lain sudah dievakuasi.
“Rea, Vail mengenalmu. Kamu pasti juga diawasi oleh Erland saat ini. Jadi harap berhati-hati dalam bergerak dan berkomunikasi. Bukan tidak mungkin masih ada mata-mata dan peralatan yang disusupkan melalui Vail. Nanti Lez, Jiz, dan Todd akan memeriksa kamarmu.”
“Aku paham.”
“Kami juga membicarakan protokol pemulanganmu. Kamu telah membantu kami. Divisi nutrisi masih mengharapkan hasil yang lebih gemilang sebenarnya. Tetapi kamu diambil dan kami sudah berjanji memulangkan ketika bantuanmu berhasil. Jadi, kami berencana memulangkan kamu besok siang, selagi kondisi masih relatif aman. Perang ini biar berlangsung antara Path 09 dengan Erland saja. Rea tidak perlu terlibat. Kamu tamu undangan.”
Kutatap mata Tristaz. Ia tidak bercanda.
“Terima kasih atas apa yang sudah kamu lakukan dan usulkan. Bersiaplah untuk pulang.”
Kuanggukkan kepala dan kupasang senyum.
“Terima kasih telah memperlakukan aku dengan baik. Pada beberapa hal, kalian sangat hebat. Semoga misi kalian berhasil.”
“Terima kasih, Rea. Kamu boleh beristirahat lagi.”
Aku berdiri dan sedikit membungkukkan badan untuk pamit.
Todd, Jiz, dan Lez bangkit kemudian melangkah mengiringiku.
Jiz mempercepat langkah untuk menjejeri langkahku.
“Kamu lega?” tanya Jiz.
“Tentu saja. Mengapa tidak?” tanyaku balik.
“Kelihatannya Lez dan Todd sangat menikmati waktu bersamamu. Kamu yakin tidak ingin tinggal terus di Path 09?”
“Setahuku kalian punya rencana membalikkan dunia yang hancur ini menjadi situasi yang lebih baik. Dalam pemahamanku, itu artinya kalian tidak akan selamanya berada di Path 09. Mengapa aku yang berstatus tamu undangan ini harus tetap di Path 09?”
“Entahlah. Perang ini baru dimulai. Kita tidak bisa memprediksi apapun. Tetapi aku melihat kalian bertiga bisa menjadi tim yang hebat.”
“Terima kasih,” ucapku.
“Hey, aku serius. Pertimbangkanlah ini.”
Aku tertawa pelan sambil terus melangkah.
Aku berdiam hingga kami tiba di kamarku. Jiz masih terus melangkah di sampingku, sementara Lez dan Todd di belakang kami.
Tiba di kamar, kubuka pintu. Jiz langsung menerobos masuk, diikuti oleh Lez. Todd menahan tanganku.
“Nanti setelah usai, mintalah waktu untuk bicara berdua denganku,” bisiknya.
Kuanggukkan kepala.
Todd mengiringi langkahku masuk kamar. Mereka menyisir bagian demi bagian. Satu jam kemudian, mereka menunjukkan tiga buah pengintai tersembunyi. Mereka meyakini Vail meletakkan benda-benda itu saat ikut masuk kamarku. Aku berdiam.
“Kami sudah selesai. Kamu bisa beristirahat, Rea,” ucap Todd.
Kuanggukkan kepala.
“Todd, boleh aku bicara berdua saja denganmu?” tanyaku.
Todd menatap Jiz dan Lez. Mereka bertiga saling mengangguk. Jiz dan Lez melangkah pergi.
Setelah mereka menjauh, Todd menutup pintu. Ia membuka panel di dinding. Ia menekan beberapa tombol. Dengan isyarat tangan ia memintaku duduk di atas tempat tidur.
Setelah itu ia kembali menyisir kamarku dengan sangat hati-hati. Kali ini ia menemukan dua pengintai baru dengan jenis yang sama dengan yang ditinggalkan Vail. Aku terkesiap. Ia memberiku isyarat agar tetap diam.
Todd memasukkan kedua pengintai itu ke gelas kecil dengan sangat hati-hati. Kemudian ia ke kamar mandi. Aku mengikutinya untuk memuaskan rasa ingin tahu. Todd menyalakan penyemprot uap pada panas tertinggi. Dia arahkan ke gelas. Perlahan, pengintai itu meleleh. Todd berhenti saat keduanya benar-benar sudah berubah wujud menjadi cairan.
“Sekarang aku yakin penyusup lainnya antara Lez atau Jiz,” ucap Todd.
Aku terdiam. Aku duduk di tepi tempat tidur.
“Rasanya, aku tidak tahu lagi harus percaya kepada siapa. Bisa saja masih ada penghianat di markas ini. Bisa saja kamu juga bukan orang yang bisa kupercaya. Bisa saja ….”
“Terlalu banyak kemungkinan, Rea. Aku tahu itu. Akupun tidak bisa menjamin markas ini benar-benar aman. Bisa saja Tristaz punya misi pribadi dan di masa depan ia juga akan seperti Erland dengan cara yang berbeda. Hanya, aku terima kehidupan ini apa adanya. Kujalani sebaik yang kubisa. Bagiku, yang kujalani saat ini hanyalah penundaan kematian yang seharusnya sudah kualami bertahun-tahun yang lalu,” ia terdengar begitu emosional, “Tetapi kamu tidak seperti kami. Aku akan berusaha membuat kamu pulang dengan selamat, kembali kepada kehidupanmu. Apa yang sudah kamu sampaikan kepada kami, akan kuteruskan. Semoga kelak, jika aku belum dijatuhi kematian, aku bisa menunjukkan kepadamu lingkungan yang lebih baik di dunia kami ini.”
Dada dan mataku rasanya penuh. Kuberi Todd senyum tipis.
“Tunggu sebentar.”
Aku membuka ransel dan kuambil bungkusan biji kacang hijau dan beras.
“Kacang hijau ini sumber protein dan vitamin yang mudah ditanam. Beras kaya karbohidrat. Biasanya ada benih yang masih bisa ditanam ikut tercampur, semoga. Jika ada, kamu bisa menanam dan mengembangkannya. Beras itu makanan pokok di negeriku.”
Todd menatapku.
“Jika ini kuterima, bagaimana dengan kamu nanti? Di duniamu?”
“Ketika aku pulang, aku masih punya stok seperti ini di rumah. Jadi ini buat kamu. Kamu bisa mengembangkannya.”
“Baiklah. Terima kasih.”
Todd merapatkan mulutnya. Ia sedikit membungkuk untuk menyejajarkan muka dengan aku yang tengah duduk. Dengan canggung, ia meletakkan tangan di bahuku.
“Bertahanlah satu malam lagi. Setelahnya kamu akan pulang.”
Mataku menatap sinar-sinar, jauh di belakang punggung Todd.
“Aku akan bertahan, Todd. Aku yakin kamu akan mengusahakan yang terbaik untukku.”
Todd tersenyum.
Mataku terasa basah.
“Boleh aku memelukmu?” tanyanya.
Kuanggukkan kepala.
“Ini tidak seperti kesepakatan kita. Bisa saja ini yang terakhir. Aku menyayangimu, Edrea. Jika kelak masih diberi kesempatan, aku akan temukan teknologi perjalanan waktu ke duniamu. Aku tidak akan berhenti mewujudkan kasih sayangku kepadamu hingga tiba saat kematianku.”
Aku senyum. Rasanya begitu haru.
“Jangan ke mana-mana. Tunggu aku menjemputmu.”
Setelah Todd pergi, aku segera tuliskan semua di buku harianku. Kubuat sketsa pemandangan kembang api dari jendela. Entah bagaimana, rasanya semakin lama kembang api itu terlihat berbeda.