Tiada awan di langit yang tetap selamanya.
Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca.
Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan.
Kehidupan manusia serupa alam.
(RA Kartini)
“Rea, bangun!” terdengar ketukan di pintuku.
Aku sudah bangun sejak tadi, hanya saja aku sibukkan diri membuat catatan harian sambil menatap foto keluarga yang kubawa dalam bingkai logam. Merasa dingin, aku masih mengenakan jaket. Agar tidak mencurigakan siapapun yang memanggil, kuselipkan buku harian ke saku dalam jaket dan foto kuselipkan di saku d**a. Kubuka pintu.
Jiz di sana, dengan wajah panik.
“Rea, kami memulangkan kamu lebih cepat. Situasi berubah. Erland berhianat.”
Aku segera paham situasi gawat yang dimaksudnya. Kuambil ransel yang memang siap angkut. Jiz segera menarikku melangkah.
“Jiz, aku belum membawa air minumku,” tolakku.
“Nanti saja, kuberikan milikku,” ucapnya.
Aku mengangguk. Kami melangkah dengan cepat.
“Tidak di laboratorium Todd. Kita gunakan alat lain. Yang lama sudah dideteksi Erland.”
Kuanggukkan kepala. Kami ke ruang kerja Jiz. Ada alat serupa dengan alat transportasi di laboratorium Todd. Jiz sudah menyiapkannya, sehingga aku bisa langsung masuk. Tak lama, ada deru hebat yang membuat perutku mual dan kepalaku sakit. Aku tidak bisa mengingat situasi ini saat aku diambil dari gunung Rigol. Syukurlah penderitaan itu tidak lama.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Jiz lewat layar.
“Iya.”
“Selamat datang kembali.”
Deru mesin perlahan semakin pelan dan akhirnya berhenti. Aku masih berdiam berusaha menetralkan rasa mual dan pusingku. Aku mengamati panel-panel tombol di sekelilingku. Apa saja ini.
“Pintu mulai kubuka, Rea. Kamu bisa keluar.”
Jiz mematikan layar. Beberapa detik kemudian, pintu membuka perlahan dengan bunyi nging panjang. Bagian luar pintu masih berasap, sehingga aku tidak segera bisa mengenali lingkungan luar.
Kuputuskan untuk memasang ranselku terlebih dahulu. Lambat laun asap menipis dan menghilang. Berganti warna abu-abu dan putih. Aku terperangah.
“Selamat datang, Rea. Kejutan!” sambut Erland sambil mengembangkan kedua lengan, seolah hendak memelukku.
Aku terpaku. Tanganku yang sudah memegang bingkai pintu tertahan. Aku urung keluar.
“Ayo, keluarlah, Sang Pemberi Harapan. Kami menyambutmu, sebagaimana kamu disambut di Path 09,” rayu Erland seolah aku anak kecil yang tidak pernah tahu kejahatannya.
Dalam jarak sekitar tiga meter ini, aku bisa mengamati kerut di sudut mata dan wajahnya sebagai penanda usia sebenarnya tidak lagi muda. Entah bagaimana tubuh Erland masih tegap dan suaranya masih kuat. Dengan pakaian perang berwarna putih, ia terlihat berwibawa. Apalagi berada diantara anak buah yang tampangnya serupa, memuja Erland.
“Jiz ….”
“Jiz salah satu agenku yang berhasil dengan baik menyusup ke Path 09. Aku dengar, misimu mengembalikan harapan telah berhasil. Tidak lama lagi mereka akan memiliki sumber daya sendiri. Tenang saja, aku tidak akan mengusik hasil penelitian itu. Bagaimanapun, ketika berhasil teknologi itu akan bisa bermanfaat juga bagiku. Apalagi orang-orang muda yang telah mengkonsumsi makanan sehat itu.”
Aku merasa jijik mendengarnya.
“Ayolah. Jangan memasang wajah seperti itu. Kamu tahu setiap manusia membutuhkan manusia lain. Pada kasusku, aku membutuhkan sari kehidupan mereka untuk menyambung hidup. Apa salahnya jika aku berusaha memenuhi kebutuhan itu. Toh, aku hanya menggunakan mereka yang sudah tua, yang tidak lagi dapat mandiri, apalagi berguna bagi orang lain.”
Beneran, ucapan Erland mengingatkanku pada dongeng tentang Raja yang meminta tumbal karena ia merasa sehat bila memakan daging manusia lain. Tidak ada akhir baik dalam kisah semacam itu. Aku berharap akhir Erland juga menyedihkan.
“Aku mengundangmu kemari untuk menjawab pertanyaan yang kamu ajukan tentang apa yang terjadi pada para tawananku sebelum kamu pulang. Tenang, tur tidak akan berlangsung terlalu lama. Segera setelah Jiz mendapatkan koordinat kepulanganmu, kami akan kirimkan kamu pulang. Suatu saat, aku akan berkunjung.”
Aku menatap arah lain. Pikiranku langsung membayangkan Erland berkunjung ke kotaku, kemudian mengeruk kekayaan alam dan penduduknya. Kotaku yang indah bakal tinggal puing dan abu. Gunung Rigol akan rata dengan tanah. Teman-temanku menghilang. Semua menghilang. Aku mungkin akan dihilangkan, dijadikan b***k, atau entahlah. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Aku harus mengulur waktu. Semoga Todd segera menyadari aku sudah tidak ada dan Jiz menghianati Path 09.
“Ow, begitu. Baiklah. Aku juga ingin tahu apa yang seorang Erland lakukan di dunia ini.” Aku menggunakan kata ganti aku dan kau agar memberikan kesan aku tidak takut.
Erland tertawa mendapatiku kooperatif dan berani. Ia memberi isyarat tangan ringan.
Sebaris kendaraan semacam mobil golf tanpa roda datang. Erland naik di kursi belakang sebelah kanan pada mobil kedua. Aku dipersilahkan duduk di sebelahnya. Kuletakkan ransel di depan kakiku. Di depan dan belakang duduk para pengawal. Masih ada beberapa lagi yang duduk pada mobil-mobil berikutnya. Baru tertangkap mataku para pengawal ini sama sekali berbeda dengan yang berpesta dengan Erland.
“Kupikir tempat ini sangat aman bagimu. Mengapa masih juga dikawal?”
“Nona Pemberi Harapan, ini bukan pengawalan. Mereka teman.”
“Baiklah, terserah kau saja.”
Aku menoleh ke kiri untuk melihat gedung besar.
“Itu tempat dimana kami membuat peralatan perang mutakhir. Aku sangat menghargai usaha keras pegawai di gedung itu atas ide dan produk brilian. Semua telah terbukti membawa kami pada kemenangan,” ucap Erland bangga.
Aku teringat suara ledakan dan luka di punggung Todd. Aku berusaha menekan perasaanku agar aku tetap tenang. Kalau Erland tahu aku berada di lokasi itu saat kejadian, bisa saja mengundang masalah baru.
“Kalau gedung ini, untuk apa?” kualihkan perhatian.
“Itu tempat kami mengolah air menjadi layak minum. Kupikir, di duniamu juga sama. Air penting bagi kehidupan. Suatu saat aku ingin pendudukku bisa menggunakan air sepuasnya tanpa perlu membayar. Tidak ada lagi mandi uap atau jatah air minum harian dalam botol.”
Kami berdiam beberapa saat.
“Mengapa aku tidak diajak masuk ke kedua pabrik tadi? Kupikir ini tur untuk menjawab keingintahuanku tentang dunia kalian.”
“Kupikir kamu tidak tertarik.”
“Hmm.”
Erland tertawa. Dengan isyarat ringan dari tangannya, kami berhenti pada gedung berikutnya. Pabrik tablet.
Sebenarnya lututku gemetar mengingat tubuh-tubuh yang lenyap disedot corong raksasa. Tetapi aku berusaha kuat, apapun yang bakal kulihat nanti.
Kami mendapat APD yang menutup seluruh tubuh, sarung tangan, penutup rambut, masker, dan kacamata pengaman berukuran besar. Ranselku dititipkan di petugas depan. Tetapi aku diijinkan tetap mengenakan jaket.
“Kamu takut?” tanya Erland. Nadanya seperti seorang bapak yang mengkhawatirkan kondisi psikologis anaknya untuk sebuah tantangan baru.
“Kamu?” tantangku.
Erland berdehem.
“Biarkan aku membawa tamuku ini tur secara pribadi. Aku punya banyak waktu hari ini,” kata Erland untuk menghalau pegawainya. Dengan patuh mereka berhenti di depan pintu. Kalau kuamati, para pengawal ini pada enak dilihat mukanya. Rasanya seperti sedang melihat parade artis pria.
“Ayo Rea. Kita masuk berdua saja.”
Aku bersorak dalam hati. Pancinganku kena.
“Apa kau akan mencekikku dan mendorongku ke panci besar, nanti?” tanyaku.
Erland tertawa.
“Nona, aku sudah menjanjikan kamu bakal pulang. Aku tidak sejahat itu. Lagipula, penjahat yang baik menepati ucapannya.” Erland pura-pura tersinggung, lalu tersenyum.
“Kukira kamu seorang pemimpin. Ternyata kamu penjahat, ya?”
Erland tertawa.
“Kamu pandai sekali. Tidak heran mereka memilihmu menjadi Sang Pemberi Harapan.”
Kami melangkah melewati semproten desinfektan kemudian mulai masuk pabrik.
“Ini bahan baku untuk tablet yang dikonsumsi rakyatku.” Ia menunjuk sebuah tumpukan besar tumbuhan berbagai jenis.
“Mereka?”