“Ya.”
“Kamu?”
“Seorang Pemimpin, seperti katamu tadi, membutuhkan tidak hanya fisik yang kuat, tetapi juga otak yang terus bermain agar bisa maksimal mengurus demikian banyak orang. Aku memerlukan nutrisi yang berbeda.”
Itu terdengar sangat mengenaskan. Akui saja bahwa di usia senja yang ingin tetap tampil muda kita membutuhkan nutrisi yang banyak. Hmm?
Aku melihat batang pohon, daun, buah, dan bunga dari segala jenis tanaman berkumpul di pangkal mesin otomatis.
Kami sebagai pengamat dan petugas yang sedang berjaga berada di jalur khusus di atas area pabrik. Ini jalur khusus mirip seperti lokasi pengunjung pabrik di duniaku. Dari tempat ini, kita bisa mengamati semua proses dengan detil, tanpa mengganggu apalagi bisa menyentuh apapun bagian proses produksi. Terkadang bahkan kebisingan di area kerja tidak bisa didengar dari tempat pengamatan.
Bahan-bahan itu disortir oleh mesin sesuai tingkat kekerasannya, lalu masuk ke mesin pencacah kasar, dilanjutkan dengan pencacah halus. Selanjutnya masuk ke mesin pengering. Setelah menjadi bahan kering kasar, mereka menyatu kembali di mesin penghalus dan pengayak. Kedua mesin ini berulang hingga tiga kali. Sepertinya mereka benar-benar memaksimalkan bahan baku. Selanjutnya produk disortir lagi berdasarkan jenis nutrisi. Di bagian ini mesinnya tertutup, sehingga aku tidak bisa melihat rupa protein, serat, atau karbohidrat.
“Pada bagian ini, petugasku menentukan jenis tablet yang dibuat dan komposisinya. Ini menjamin rakyatku mendapatkan gizi yang cukup, meskipun mereka hanya mengkonsumsi tiga tablet setiap hari.”
Aku berhenti untuk mengamati bagaimana Erland memeragakan menekan tombol hijau. Petugas yang tadi menjaga panel itu membungkuk memberinya kesempatan. Selanjutnya sang petugas mengajak Erland mengobrol.
Aku mengamati mesin. Mengalirlah pembungkus tablet berwarna hijau, yang kemudian masuk antrean mesin pengisi yang saat itu tengah mengaduk bahan. Sebuah tabung terpisah memasukkan bahan khusus ke dalam campuran pengisi tablet, kemudian menghilang lagi. Aku tidak yakin Erland melihatku mengetahui bahan tambahan itu. Jadi aku pura-pura sibuk membaca papan petunjuk operasi mesin di depanku.
Petugas melongok untuk memastikan proses, lalu membuka kacamata pengamannya. Dadaku berdesir karena petugas itu ternyata Tristaz. Erland ikut melongok. Dugaanku, ia baru ingat ada proses penambahan bahan khusus dan merasa lega aku tidak melihatnya. Sementara, melihat sorot mata Tristaz, dia lega aku sempat melihat. Jadi kuteruskan berakting seolah tidak menyadari ada proses penting terlewat.
“Darimana ide membuat nutrisi berbentuk tablet?”
“Hidup di alam yang sudah rusak begini membuatmu makin dalam berpikir untuk bisa bertahan. Nutrisi berbentuk tablet lebih praktis dan mampu bertahan lama.”
Kuanggukkan kepala.
“Apa sejak dahulu kamu hidup dengan teknologi tablet nutrisi seperti ini?”
“Tentu saja tidak. Dahulu tanah kami sangat subur. Ibuku bisa memasak bermacam makanan setiap hari. Tetapi terjadi perkembangan teknologi yang membuat manusia serakah, lalu timbul perang yang mengakibatkan alam rusak. Inilah cara kami bertahan hidup sesuai situasi saat ini.”
Akting Erland sangat bagus sehingga bila saja aku tidak tahu versi lain sejarah negeri ini, aku akan percaya Erland adalah korban kekejaman perang dan saat ini tengah tampil menyelamatkan dunia dan rakyatnya.
“Apakah tidak merindukan makanan normal?”
Erland tertawa pelan sambil mengajakku melangkah.
“Jika kuceritakan hal itu kepada rakyatku, mungkin mereka percaya. Tetapi bukankah itu akan menyakitkan, sebagaimana seorang tua yang menyiksa telinga dan hati anak muda dengan keindahan masa lalu yang tidak akan pernah dirasakan anak-anak muda?”
“Itu sejarah. Bukankah sejarah seharusnya tidak dilupakan? Banyak pelajaran yang bisa diambil dari sejarah, agar tidak terjadi lagi kejahatan serupa di masa depan.”
“Itu benar. Tetapi ada pula sejarah yang sebaiknya dihilangkan karena realistis saja bahwa banyak hal tidak akan pernah bisa kembali seperti semula. Kita hidup, Rea. Daripada sibuk menyesali masa lalu yang tidak bakal bisa kembali, bukankah lebih baik berjuang bertahan hidup hari ini dan mempersiapkan diri untuk hari esok?”
Aku berdiam. Lebih baik bagaimana?
Erland meregangkan jari-jari tangannya, lalu mengajakku menuju ruang penyimpanan tablet. Saat itu Tristaz melangkah dan tidak sengaja menabrakku. Erland membantuku berdiri. Terasa tangannya yang dingin, kurus, dan keras walau telah dibalut sarung tangan.
“Hati-hati, Anak Muda. Ini tamu terhormat,” tegur Erland.
Tristaz membungkuk untuk meminta maaf.
“Aku tidak apa-apa, Erland. Dia tidak sengaja,” kataku.
“Kamu harus bersyukur tamu kita pemaaf. Jika tidak, kamu hilang sekarang juga,” kata Erland pada Tristaz.
Kami melanjutkan langkah. Tristaz kembali bertugas.
Tablet yang sudah siap edar disimpan dalam botol khusus. Erland menerangkan botol khusus ini tinggal dipasang pada mesin, yang nantinya mengedarkan tablet ke seluruh penduduk.
“Pasti jangkauan mesin pengedar sangat luas, ya.”
“Ya, tentu saja. Butuh bertahun-tahun membangun sistem pengedar dan memasang mesin di sana-sini. Makanya kami membatasi jumlah penduduk dengan berbagai program.”
Erland menyiapkan sendiri tablet dalam kemasan alumunium. Dia serahkan kepada petugas yang menyegel, mirip standar pengemasan obat. Selagi Erland mengawasi proses itu, Tristaz mendekat, menyerahkan kancing APD, dan berbisik singkat:
“Apapun yang terjadi, jangan makan atau minum sesuatu yang diberikan Erland.”
Kemudian Tristaz pergi.
“Untuk kenang-kenangan.” Erland menyerahkan kemasan itu padaku. Kuangkat bahu.
“Apa yang diserahkan petugasku?”
“Rupanya kancingku jatuh. Petugas itu mengembalikannya. Katanya, saat dikembalikan, APD harus lengkap. Ia juga meminta maaf.”
Erland tertawa. Ia mengacungkan jempol pada Tristaz.
Kami keluar gedung produksi nutrisi dalam tablet. Aku melepas APD dan petugas memastikan semuanya lengkap walau satu kancingku lepas. Aku meminta maaf untuk kelalaianku. Petugas itu hanya mengangguk.
Aku mendapatkan kembali ranselku. Sepertinya tidak ada perubahan. Toh, itu hanya tempat menyimpan baju, sepatu cadangan, tenda kecil, kantung tidur, alat masak, kompor mini, dan baju ganti. Aku tidak lagi menyimpan bahan makanan karena sudah kuserahkan pada Todd. Ada mi instan, tetapi tertinggal di kamar. Semoga Todd menemukannya.
Kami kembali melaju dengan mobil golf. Kali ini berjarak cukup jauh. Kami menuju gedung dengan lambang bayi berambut kuncung.
“Ini tempat dimana bayi dan anak-anak dirawat dan dididik,” ucap Erland bangga.
“Aku tidak melihat taman bermain di sekitar gedung. Tidakkah mereka memerlukan udara bersih dan ruang terbuka agar lebih sehat?” tanyaku.
“Udara di dalam gedung lebih bersih dan lebih sehat bagi mereka. Mereka punya banyak mainan untuk setiap usia. Aku mengerti dengan anak-anak. Jangan khawatir.”
Kukerutkan alis. Mari kita lihat apa sih yang dia sebut dengan mengerti.
“Aku lihat udara di tempat ini bersih. Bagaimana bisa?” aku mendongak.
“Kami memiliki sistem pembatas antara tempat ini dengan udara luar yang berpolusi. Sistem pembatas itu menjaga kami semua tetap mendapatkan udara bersih.”
Aku paham. Apalagi mataku menatap warna kelabu di atas sana. Di sini bahkan tidak kulihat matahari.
“Kalau tumbuhan ini?” tanyaku. Kulihat baut-baut mungil pada beberapa bagian tanaman.
“Ini hanya untuk menyegarkan mata.”
Kuangkat bahu.